KABARBURSA.COM – Di tengah belum adanya kenaikan tarif cukai hasil tembakau pada 2025, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) tetap mencatat tren penerimaan yang stabil. Hal ini tak lepas dari konsistensi produksi rokok nasional, meskipun pola konsumsi masyarakat terus bergeser.
Dirjen Bea Cukai, Djaka Budi Utama, menuturkan bahwa industri hasil tembakau masih cukup kuat menghadapi dinamika konsumsi. "Fenomena downtrending, khususnya pergeseran konsumsi dari sigaret kretek mesin ke sigaret kretek tangan atau jenis rokok yang lebih terjangkau, turut mempengaruhi dinamika sektor ini,” ujar Djaka dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 14 Juli 2025.
Secara umum, ia memastikan performa penerimaan kepabeanan dan cukai pada paruh pertama tahun ini tetap dalam koridor yang sehat. “Capaian semester I 2025 menunjukkan bahwa penerimaan tetap terjaga dengan keseimbangan antara fasilitasi dan pengawasan. Kami tetap adaptif terhadap dinamika ekonomi nasional maupun global,” katanya.
Salah satu tonggak penting dalam kinerja DJBC adalah percepatan modernisasi sistem logistik dan pelayanan kepabeanan. Melalui inisiatif teknologi seperti National Logistics Ecosystem (NLE) dan Customs Excise Smart Application (CESA 4.0), instansi ini berhasil memangkas waktu dan biaya logistik secara signifikan.
“Kami berhasil menekan waktu logistik sebesar 51 persen dan biaya logistik sebesar 34,7 persen,” kata Djaka. Teknologi tersebut kini sudah diterapkan di 53 pelabuhan dan 7 bandara utama di Indonesia.
Selain sistem terintegrasi, pengawasan lapangan juga diperkuat melalui penggunaan X-Ray, Auto-Gate System, hingga e-Shale. Dampaknya paling terasa pada kecepatan proses kepabeanan.
Untuk aktivitas impor, proses custom clearance kini hanya memakan waktu rata-rata 0,48 hari. Sementara untuk ekspor, waktunya lebih cepat lagi: hanya 0,006 hari.
“Ini menunjukkan bahwa proses ekspor kita sudah sangat cepat dan efisien, yang tentu sangat membantu pelaku usaha nasional,” ungkapnya.
Di sisi layanan konsumen, reformasi turut menyentuh proses barang bawaan penumpang. Waktu layanan email yang dulu bisa mencapai 240 menit, kini dipangkas menjadi 15 menit. Pemeriksaan bagasi pun dipercepat dari 60 menit menjadi 27 menit.
“Perbaikan layanan ini mencerminkan komitmen kami untuk memberikan pelayanan publik yang lebih cepat, transparan, dan akuntabel,” tegas Djaka.
Peningkatan efisiensi juga merambah ke sektor logistik digital, terutama untuk pengelolaan barang kiriman seiring tumbuhnya transaksi e-commerce lintas negara.
Dengan berbagai terobosan tersebut, DJBC ingin menegaskan peran ganda mereka bukan hanya sebagai pemungut penerimaan, tetapi juga sebagai pendorong efisiensi ekonomi nasional. “Bea Cukai tidak hanya soal pungutan dan pengawasan, tapi juga menjadi ujung tombak efisiensi ekonomi nasional,” pungkasnya.