Logo
>

RI Tekankan Pentingnya Diversifikasi Energi dan Mitra Dagang ASEAN

Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga ketika mewakili Pemerintah Indonesia dalam Pertemuan ke-27 ASEAN Economic Community Council (AECC)

Ditulis oleh Pramirvan Datu
RI Tekankan Pentingnya Diversifikasi Energi dan Mitra Dagang ASEAN
RI Tekankan Pentingnya Diversifikasi Energi dan Mitra Dagang ASEAN

KABARBURSA.COM - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan pentingnya memperkuat ketahanan energi dan pangan di kawasan ASEAN sebagai respons menghadapi disrupsi global yang semakin kompleks akibat konflik geopolitik internasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga ketika mewakili Pemerintah Indonesia dalam Pertemuan ke-27 ASEAN Economic Community Council (AECC) yang berlangsung di Cebu, Filipina.

Menurut Airlangga, kawasan Asia Tenggara membutuhkan langkah kolektif yang lebih solid guna menjaga stabilitas ekonomi regional di tengah tekanan global yang terus meningkat.

“Untuk menghadapi berbagai disrupsi, diperlukan penguatan ketahanan energi, optimalisasi platform kerja sama yang sudah tersedia, serta peningkatan perdagangan antarnegara ASEAN bersama mitra strategis melalui ASEAN Plus One FTAs dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Selain itu, kerja sama ketahanan energi seperti ASEAN Power Grid (APG) dan ASEAN Framework Agreement on Petroleum Security (APSA) juga perlu dimaksimalkan,” ujar Airlangga dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis.

Ia menilai ASEAN tidak bisa hanya bergantung pada mekanisme pasar global semata. Kawasan perlu mempererat koordinasi regional, terutama pada sektor energi, pangan, serta rantai pasok strategis yang kini rentan terguncang konflik internasional.

Airlangga juga mendorong implementasi langkah konkret guna memperkuat resiliensi energi kawasan. Strategi tersebut mencakup diversifikasi sumber energi, perluasan jalur distribusi pasokan, penguatan mekanisme cadangan energi regional, hingga percepatan implementasi berbagai kerja sama lintas negara yang selama ini telah dirancang ASEAN.

“Selain itu, kekuatan sentralitas ASEAN perlu dimanfaatkan untuk membangun supply chain resilience di kawasan,” tambahnya.

Di sisi perdagangan, diversifikasi mitra dagang dinilai semakin mendesak dilakukan. ASEAN dipandang perlu mengoptimalkan jaringan perjanjian perdagangan bebas atau free trade agreement (FTA) yang sudah dimiliki, sembari tetap menjaga prioritas peningkatan perdagangan intra-kawasan.

Tahun 2026 menjadi periode yang penuh tantangan bagi ASEAN di bawah keketuaan Filipina. Konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel dinilai telah memicu tekanan besar terhadap pasokan energi global, sekaligus menyebabkan kenaikan harga komoditas dan pangan di kawasan Asia Tenggara.

Untuk pertama kalinya sejak masa pandemi, ekonomi ASEAN menghadapi ancaman perlambatan pertumbuhan akibat eskalasi konflik global yang berkepanjangan.

Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Maria Cristina Aldeguer-Roque selaku pimpinan sidang meminta pandangan para Menteri Ekonomi ASEAN terkait langkah-langkah yang dapat ditempuh guna mengatasi dampak perang terhadap ketersediaan energi dan produk berbasis minyak mentah di kawasan.

Dalam forum tersebut, lembaga riset Jepang Economic Research Institute for ASEAN and East Asia memaparkan usulan penguatan ketahanan ekonomi regional melalui koordinasi kebijakan industri antarnegara anggota.

Sementara itu, Kepala Ekonom ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO), Dong He, menyoroti risiko kebijakan domestik Amerika Serikat yang dinilai dapat memicu disrupsi pasokan energi dan pestisida ke kawasan ASEAN.

AMRO memperingatkan bahwa situasi tersebut berpotensi mendorong lonjakan harga energi dan biaya transportasi, pelemahan nilai tukar mata uang regional, hingga peningkatan inflasi ke level tertinggi sejak pandemi COVID-19.

Bahkan, lembaga tersebut mengindikasikan ASEAN kini menghadapi ancaman stagflasi—kombinasi stagnasi pertumbuhan ekonomi dan inflasi tinggi—terberat sejak 2011. Karena itu, diperlukan kebijakan jangka pendek untuk meredam volatilitas pasar sekaligus strategi jangka panjang yang mampu membangun ketahanan ekonomi kawasan secara adaptif.

Di sisi lain, Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) mengusulkan penguatan ketahanan energi dan pangan melalui program kolaboratif bersama badan-badan ASEAN dan sektor swasta. ADB juga menyatakan kesiapan menyediakan pembiayaan bagi pasar saham ASEAN guna membantu menahan tekanan ekonomi dan gejolak finansial kawasan.

Sementara itu, Sekretariat ASEAN mengajukan inisiatif ASEAN CORE (Coordinated Response for Enduring Resilience) sebagai mekanisme respons cepat regional. Inisiatif tersebut mencakup reformasi kelembagaan, pendalaman integrasi ekonomi dan keuangan, penguatan ketahanan energi dan pangan, hingga peningkatan resiliensi rantai pasok maritim di kawasan Asia Tenggara.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.