KABARBURSA.COM – Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah bergerak di kisaran Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (USD). Level ini memicu perhatian pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter dan fiskal di tengah tekanan yang dinilai tidak sepenuhnya berasal dari faktor global.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai pelemahan rupiah saat ini tidak sepenuhnya sejalan dengan pergerakan dolar AS. Indeks dolar AS atau DXY tercatat relatif stabil, sehingga tekanan terhadap rupiah dinilai lebih mencerminkan faktor domestik.
“Pergerakan rupiah tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh penguatan global USD, sehingga perlu ada evaluasi terhadap bauran kebijakan,” ujar Liza dalam risetnya yang diterima Kabarbursa.com, Kamis, 23 April 2026.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak global turut menambah tekanan terhadap fiskal. Kondisi ini berkaitan dengan beban subsidi energi yang masih besar, sementara harga bahan bakar minyak bersubsidi belum mengalami penyesuaian.
Liza juga menyoroti kebutuhan pembiayaan program pemerintah yang tetap tinggi, termasuk program strategis seperti MBG. Dalam kondisi tersebut, penataan ulang prioritas anggaran dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga ketahanan fiskal.
Dari sisi moneter, kebijakan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap stabilisasi rupiah. Hal ini menunjukkan perlunya langkah tambahan, terutama dalam menjaga likuiditas dolar AS di pasar.
“Diperlukan peran yang lebih aktif, khususnya dalam penyediaan likuiditas USD,” katanya.
Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh faktor eksternal lain, termasuk persepsi risiko pasar terhadap Indonesia. Beberapa isu yang disebut antara lain potensi penurunan peringkat kredit (sovereign downgrade), isu terkait MSCI, serta outlook negatif sektor perbankan dari Fitch Ratings.
Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi daya tarik pasar obligasi domestik, terutama di tengah kebutuhan pembiayaan yang meningkat.
Selain itu, pengelolaan dana oleh entitas seperti Danantara juga menjadi perhatian. Liza menekankan pentingnya efektivitas alokasi investasi agar dapat memberikan dampak terhadap perekonomian secara nyata.(*)