KABARBURSA.COM - Pergerakan mata uang Asia pada perdagangan Selasa, 10 Februari 2026, mencerminkan suasana pasar yang relatif stabil dengan kecenderungan penguatan selektif. Rupiah bergerak menguat tipis ke kisaran 16.802 per dolar AS.
Penguatan rupiah berlangsung terbatas, karena respons investor masih terukur dan belum sepenuhnya agresif, meskipun tekanan global terhadap dolar AS mulai mereda.
Pelemahan dolar AS menjadi faktor eksternal utama yang membuka ruang bagi penguatan mata uang kawasan. Indeks dolar turun sekitar 0,2 persen dan bertahan di dekat level terendah bulan ini. Tekanan terhadap dolar dipicu oleh laporan bahwa regulator China menyarankan lembaga keuangan membatasi kepemilikan obligasi Treasury AS karena kekhawatiran terhadap risiko konsentrasi dan volatilitas.
Langkah ini dipersepsikan sebagai sinyal kehati-hatian Beijing dalam mengelola eksposur aset dolar, tanpa diarahkan untuk menantang dominasi dolar secara langsung. Sejalan dengan itu, analis Alpine Macro menilai agenda China lebih berfokus pada pengurangan kerentanan eksternal dibandingkan ambisi menggantikan peran dolar AS.
Di kawasan Asia, respons mata uang berlangsung beragam. Yen Jepang mencatat penguatan paling menonjol, seiring meningkatnya minat terhadap aset Jepang dan menguatnya pasar saham domestik.
Yuan China dan ringgit Malaysia juga bergerak menguat, sementara mata uang lain seperti dolar Australia dan baht Thailand justru melemah tipis.
Perbedaan arah ini menunjukkan bahwa pergerakan mata uang Asia tidak sepenuhnya seragam, melainkan sangat dipengaruhi oleh faktor domestik masing-masing negara serta posisi mereka terhadap dinamika global.
Bursa Regional Menguat
Setelah pergerakan mata uang, sentimen positif juga tercermin di pasar saham Asia. Mayoritas bursa regional menguat untuk hari kedua berturut-turut, menciptakan latar eksternal yang cukup kondusif bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun, penguatan ini tetap berlangsung selektif dan terukur, tanpa euforia berlebihan.
Penggerak utama bursa Asia datang dari Jepang. Indeks Nikkei 225 melonjak lebih dari 2 persen, diikuti Topix yang menguat solid. Reli ini berkaitan erat dengan faktor politik domestik, khususnya kemenangan pemilihan yang menentukan bagi Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada akhir pekan.
Kepastian politik tersebut mengurangi premi risiko dan memperkuat ekspektasi stabilitas kebijakan ekonomi, menjadikan pasar saham Tokyo sebagai jangkar sentimen positif di kawasan Asia Timur.
Sebaliknya, pasar saham China bergerak cenderung datar. Shanghai Composite dan Shenzhen Component stagnan tipis, sementara CSI300 nyaris tidak berubah. Pergerakan yang terbatas ini mencerminkan sikap wait and see investor terhadap perkembangan kebijakan domestik dan dinamika hubungan keuangan China–Amerika Serikat.
Meski demikian, indeks Hang Seng di Hong Kong masih mencatatkan penguatan moderat, menandakan minat risiko belum sepenuhnya surut dari aset regional.
Di kawasan lain, Kospi Korea Selatan dan Taiex Taiwan bergerak di zona hijau, menunjukkan bahwa penguatan bersifat cukup menyebar. Pasar Australia menguat terbatas, sejalan dengan pendekatan investor yang lebih berhati-hati di tengah fluktuasi harga komoditas dan ketidakpastian arah kebijakan global.
Secara keseluruhan, penguatan mata uang Asia yang dipicu pelemahan dolar AS, disusul reli mayoritas bursa regional, membentuk lingkungan pasar yang relatif mendukung bagi aset berisiko. Namun, karakter pergerakan yang tetap moderat, termasuk pada rupiah, menegaskan bahwa pasar masih berada dalam mode selektif.
Sentimen positif memang hadir, tetapi masih dibingkai oleh kewaspadaan terhadap rilis data ekonomi AS, arah kebijakan global, serta dinamika geopolitik dan keuangan antara Washington dan Beijing.(*)