KABARBURSA.COM – Nilai tukar rupiah melanjutkan penguatan terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu, 11 Februari 2026. Rupiah terapresiasi 0,17 persen ke level 16.783 per dolar AS, bergerak searah dengan mayoritas mata uang Asia yang juga menunjukkan penguatan terhadap greenback.
Kenaikan ini mencerminkan pelemahan dolar AS secara global setelah data ekonomi Amerika Serikat kembali di bawah ekspektasi pasar.
Penguatan rupiah terjadi di tengah laporan penjualan ritel AS bulan Desember yang stagnan, jauh dari proyeksi kenaikan 0,4 persen secara bulanan. Data tersebut memunculkan kembali kekhawatiran perlambatan konsumsi rumah tangga AS, yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam.
Respons pasar terlihat pada tekanan terhadap dolar, yang kemudian memberi ruang penguatan bagi mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Secara regional, yen Jepang menguat 0,69 persen ke 153,32 per dolar AS, menjadi salah satu mata uang dengan penguatan terbesar di Asia. Dolar Singapura naik 0,11 persen ke 1,2633 per dolar AS, dolar Australia menguat 0,52 persen ke 0,7112 per dolar AS, dan baht Thailand terapresiasi 0,33 persen ke 31,1260 per dolar AS.
Yuan China juga naik tipis 0,02 persen ke 6,9113 per dolar AS, sementara ringgit Malaysia justru melemah 0,09 persen ke 3,9275 per dolar AS.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa rupiah bergerak relatif stabil dibandingkan mata uang utama Asia lainnya. Kenaikan 0,17 persen menempatkan rupiah di kelompok penguat moderat, dengan volatilitas yang lebih terjaga dibandingkan yen dan dolar Australia.
Stabilitas ini menjadi penting di tengah fluktuasi global dan dinamika arus modal yang sensitif terhadap sentimen eksternal.
Shanghai Composite dan Hang Seng Rebound
Di sisi pasar saham, bursa Asia sebagian besar diperdagangkan di zona positif pada sesi pertama. Shanghai Composite menguat 0,22 persen, sementara Hang Seng Hong Kong naik 0,43 persen. Kospi Korea Selatan melonjak 1,20 persen, Taiex Taiwan naik 1,57 persen, dan ASX200 Australia menguat 1,59 persen.
Hanya Shenzhen Component yang terkoreksi tipis 0,07 persen dan CSI300 turun 0,15 persen, sementara Nikkei 225 dan Topix Jepang libur.
Investor Asia juga mencermati data inflasi China. Indeks harga konsumen China pada Januari naik 0,2 persen secara tahunan, lebih rendah dari perkiraan 0,4 persen. Angka ini mempertegas tekanan deflasi yang masih membayangi ekonomi China dan memperkuat ekspektasi bahwa stimulus tambahan masih diperlukan untuk mendorong permintaan domestik.
Kombinasi pelemahan dolar AS, penguatan mata uang Asia, serta reli di sebagian besar bursa kawasan menunjukkan sentimen risiko yang mulai membaik pada sesi pagi. Dalam konteks ini, penguatan rupiah menjadi cerminan bahwa tekanan eksternal relatif mereda, meskipun dinamika global tetap menjadi faktor dominan yang akan menentukan arah lanjutan di perdagangan berikutnya.(*)