KABARBURSA.COM – Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp17.286 per dolar Amerika Serikat, atau melemah 105 poin pada perdagangan Kamis, 23 April 2026.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan menyampaikan pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut dalam perdagangan berikutnya atau Jumat, 24 April 2026
"Untuk besok, kemungkinan besar rupiah ini akan diperdagangkan melemah juga di level Rp17.280.000 sampai Rp17.340.000," ujar dia dalam keterangannya.
Ibrahim menjelaskan, tekanan eksternal masih menjadi faktor dominan yang membebani mata uang domestik. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait belum adanya kejelasan hasil perundingan di Pakistan, turut meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar.
“Iran tidak menghadiri perundingan di Pakistan, sementara di sisi lain terjadi ketegangan setelah penangkapan kapal tanker Iran di Selat Hormuz,” kata dia.
Selain itu, dinamika kebijakan moneter AS juga menjadi perhatian pasar. Pergantian kepemimpinan bank sentral AS atau The Fed dinilai berpotensi memengaruhi arah suku bunga ke depan.
“Pasar masih cenderung apatis terhadap kepemimpinan baru, karena rekam jejak pejabat sebelumnya yang mendukung kebijakan suku bunga tinggi,” ujar dia.
Dari sisi domestik, kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi tekanan tambahan bagi rupiah. Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak menghadapi kebutuhan dolar AS yang meningkat seiring naiknya harga energi global.
Ibrahim menyebut harga Brent crude oil yang berada di kisaran USD103 per barel dan WTI crude oil di level USD98 per barel memperbesar beban impor. Kondisi ini berdampak pada meningkatnya kebutuhan valuta asing untuk pembelian energi.
“Kebutuhan impor minyak yang mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari membuat permintaan dolar meningkat, sehingga menekan rupiah,” kata dia.
Di sisi fiskal, kenaikan harga minyak juga berimplikasi terhadap anggaran pemerintah, terutama terkait subsidi energi. Kebutuhan pendanaan yang besar disebut mendorong pemerintah untuk meningkatkan penerbitan surat utang negara.
Selain itu, faktor jatuh tempo utang turut menjadi perhatian dalam menjaga stabilitas fiskal. Kebutuhan pembiayaan yang meningkat dinilai menjadi salah satu elemen yang memengaruhi persepsi pasar terhadap rupiah.
Bank Indonesia tercatat terus melakukan intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi dilakukan baik di pasar domestik maupun internasional guna meredam volatilitas.
"Ini buktinya bahwa pelemahan mata uang rupiah yang tadinya di Rp17.307, sekarang kembali mengalami penurunan di Rp17.286," pungkas Ibrahim. (*)