KABARBURSA.COM – Eskalasi perang dagang dan fragmentasi ekonomi global dinilai menjadi faktor penting yang mendorong penguatan harga emas sebagai aset safe haven.
Ketegangan antarnegara membuat sistem ekonomi global bergerak tidak sinkron, sehingga kepercayaan terhadap mekanisme pasar dan instrumen keuangan konvensional melemah.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan bahwa lonjakan harga emas sepanjang 2025 tidak bisa dilepaskan dari memanasnya perang dagang yang melibatkan Amerika Serikat dengan sejumlah mitra utamanya. Kondisi tersebut menciptakan ketidakpastian struktural yang berkepanjangan di pasar global.
“Apalagi saat itu ada perang dagang antara Amerika dengan Tiongkok, dengan Eropa, Kanada, dan Meksiko. Yang saya anggap negara-negara tersebut adalah mitra bisnis dari Tiongkok dan Amerika sendiri. Tapi Amerika tidak pandang bulu dengan masalah perang dagang,” ujar Ibrahim kepada KabarBursa.com, Selasa, 30 Desember 2025.
Menurut dia, perang dagang membuat hubungan ekonomi global tidak lagi berjalan dalam satu irama. Ketika perdagangan lintas negara terganggu dan kebijakan ekonomi saling berhadapan, pelaku pasar kehilangan pegangan terhadap stabilitas sistem yang ada.
Situasi tersebut, lanjut Ibrahim, mendorong pergeseran perilaku investor dan masyarakat global. Ketidakpastian yang bersifat struktural membuat emas kembali dipilih sebagai instrumen perlindungan nilai, bukan karena faktor musiman atau siklus ekonomi biasa.
“Jadi bukan lebih dipicu dari arus dana masuk ke emas. Oh bukan, arus dana masuk ke emas itu setelah itu setelah gejolak politik sehingga masyarakat ada ketakutan bahwa terjadi perang besar atau perang dunia ketiga, sehingga surat-surat berharga tidak berlaku, saham-saham tidak berlaku, sehingga mereka memindahkan dananya ke emas sebagai pelindung nilai,” katanya.
Ibrahim menambahkan, ketegangan perdagangan juga beririsan dengan konflik geopolitik di berbagai kawasan, mulai dari Eropa hingga Asia. Kondisi ini memperkuat persepsi bahwa risiko global tidak lagi bersifat sementara.
“Nah, di sisi lain pun juga terjadi pergolakan di Amerika Latin yang cukup menarik,” ujarnya, seraya menyinggung tekanan ekonomi dan politik yang meluas di luar kawasan utama perdagangan dunia.
Dengan latar tersebut, Ibrahim menilai penguatan emas mencerminkan menurunnya kepercayaan terhadap stabilitas sistem ekonomi global. Dalam kondisi fragmentasi yang semakin dalam, emas dipandang sebagai aset yang relatif netral dan tidak terikat langsung pada kebijakan satu negara atau blok ekonomi tertentu.
“Ini yang sebenarnya membuat harga emas dunia melabung tinggi dari level terendah ke level tertinggi,” kata Ibrahim.(*)