KABARBURSA.COM - Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengklaim kondisi fundamental bank-bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih kuat meski pasar saham domestik sedang tertekan.
Pernyataan tersebut disampaikan Dony usai menemui para pimpinan perusahaan sekuritas guna membahas kondisi emiten perbankan pelat merah dan perkembangan program-program pemerintah.
Menurut Dony, pertemuan tersebut adalah momentum untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif kepada pelaku pasar terkait kondisi riil perusahaan-perusahaan BUMN, khususnya sektor perbankan.
“Saya sudah ketemu dengan 30 pemimpin sekuritas. Kita menjelaskan program-program pemerintah dan mereka baru memahami,” ujar Dony di Jakarta, Rabu, 10 Juni 2026.
Ia menegaskan, kinerja bank-bank BUMN dapat dilihat secara terbuka melalui laporan keuangan yang dipublikasikan kepada masyarakat. Berdasarkan data tersebut, kata dia, kondisi perbankan pelat merah masih dalam performa terbaiknya.
“Fundamentalnya bank-bank kita itu dalam posisi yang terbaik hari ini. Bisa dilihat kok karena mereka bank terbuka, bisa dilihat bukunya. Mereka dalam posisi yang sangat luar biasa bagus,” kata Dony yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN.
Dony juga menanggapi isu pembelian kembali saham (buyback) yang belakangan ramai diperbincangkan. Menurutnya, langkah tersebut merupakan praktik yang lazim dilakukan perusahaan ketika harga saham di pasar tidak mencerminkan nilai fundamental yang sebenarnya.
“Itu yang terjadi bahwa memang banyak saham-saham kita yang fundamentalnya sangat bagus,” ujarnya.
Senada dengan Ketua Umum Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang juga Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Putrama Wahju Setyawan, menyatakan bahwa kondisi fundamental bank-bank anggota Himbara tetap solid meskipun pasar saham masih diliputi volatilitas.
Putrama mengatakan, kinerja operasional dan keuangan perbankan BUMN saat ini berada dalam kondisi baik. Ia mengklaim, capaian tersebut merupakan salah satu yang terbaik dalam sejarah Himbara.
“Dapat kami sampaikan bahwa secara fundamental kinerja di Himbara ini sangat bagus dan saat ini adalah kinerja terbaiknya Himbara,” kata Putrama.
Ia menjelaskan, sejumlah indikator utama menunjukkan kondisi perbankan yang sehat. Pertumbuhan kredit bank-bank Himbara rata-rata mencapai sekitar 20 persen, sementara pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) berada pada kisaran 20 hingga 30 persen.
Di sisi lain, likuiditas juga tetap terjaga dengan rasio loan to deposit ratio (LDR) berada di level 88 hingga 90 persen. Kualitas aset perbankan pun dinilai stabil dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) rata-rata di bawah 2 persen.
“Selain itu juga loan loss reserve, credit cost juga terjaga, rata-rata NPL ada di bawah kisaran 2 persen,” ujarnya.
Dengan berbagai indikator tersebut, Putrama menilai tidak ada alasan bagi investor untuk meragukan kondisi fundamental emiten perbankan BUMN meskipun pasar tengah mengalami tekanan akibat sentimen eksternal.
“Jadi dapat kami sampaikan bahwa saat ini kinerja Himbara secara fundamental sangat bagus sehingga rasanya tidak perlu ada kekhawatiran, keraguan terhadap kondisi fundamental di bursa,” katanya.
Sebelumnya, digelar pertemuan antara pimpinan DPR RI dengan jajaran Himbara, BP BUMN, dan BPI Danantara Indonesia, serta perwakilan pemerintah untuk membahas kondisi pasar saham nasional yang masih bergejolak.
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengatakan pembahasan difokuskan pada pergerakan saham-saham BUMN, khususnya sektor perbankan yang dalam beberapa waktu terakhir mengalami tekanan.
Menurut Dasco, saham bank-bank BUMN sejatinya didukung oleh kinerja dan fundamental yang kuat. Namun, sentimen global masih memberi tekanan terhadap pasar keuangan domestik.
Selain itu, dalam pertemuan tersebut juga dibahas kemungkinan pelaksanaan buyback saham pada waktu yang dinilai tepat sebagai salah satu upaya menjaga stabilitas pasar dan meningkatkan kepercayaan investor.(*)