KABARBURSA.COM - Pergerakan lalu lintas tanker di Selat Hormuz dalam dua hari terakhir memperlihatkan situasi yang belum benar-benar pulih, meski sempat muncul sinyal pembukaan jalur pelayaran.
Data pelacakan kapal menunjukkan lebih dari selusin tanker melintasi selat pada Jumat waktu setempat, atau Sabtu WIB, 18 April 2026, setelah blokade selama 50 hari dihentikan. Namun, arus tersebut tidak bertahan lama.
Dalam hitungan jam, pembatasan kembali diberlakukan, bahkan disertai dengan insiden penembakan terhadap sejumlah kapal yang mencoba melintas.
Momentum pembukaan sempat memberi ruang bagi produsen minyak Teluk untuk kembali mengalirkan pasokan energi ke pasar global. Selama periode penutupan, International Energy Agency mencatat gangguan pasokan ini sebagai yang terburuk yang pernah terjadi.
Kondisi ini benar-benar memperlihatkan peran kritis Selat Hormuz yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Ketika jalur ini terbuka, meski singkat, pergerakan tanker langsung meningkat sebagai respons atas kebutuhan mendesak untuk menormalkan distribusi.
Hanya Tanker Tua yang diperbolehkan Melintas
Namun, struktur arus kapal yang melintas menunjukkan pola yang tidak merata. Mayoritas tanker yang berhasil lewat merupakan kapal berusia tua dan tidak dimiliki perusahaan Barat. Termasuk, beberapa kapal yang masuk daftar sanksi.
Jalur yang digunakan juga terbatas, yakni melalui perairan Iran di selatan Pulau Larak, dengan pengawalan dan pengaturan langsung dari otoritas setempat. Ini menandakan bahwa akses yang diberikan bukan pembukaan penuh, melainkan selektif dan terkontrol.
Di sisi lain, kapal-kapal lain terlihat mendekati selat tetapi kemudian berbalik arah. Sumber pelayaran menyebut adanya komunikasi radio dari otoritas Iran yang menyatakan jalur kembali ditutup dan tidak semua kapal diizinkan melintas.
Laporan Angkatan Laut Inggris menambah lapisan ketidakpastian. Mereka menyebut adanya tembakan dari kapal cepat Iran ke arah beberapa kapal niaga. Artinya, risiko keamanan masih sangat tinggi.
Dinamika ini juga tercermin pada pergerakan kapal LNG. Data menunjukkan setidaknya lima kapal bermuatan gas alam cair dari Ras Laffan, Qatar, mendekati Selat Hormuz pada Sabtu pagi atau Minggu WIB, 19 April 2026.
Namun, hingga saat itu belum ada satu pun kargo LNG yang benar-benar melintasi jalur tersebut sejak konflik dimulai pada 28 Februari. Kondisi ini Kembali menegaskan bahwa gangguan tidak hanya terjadi pada minyak mentah, tetapi juga pada rantai pasok gas global.
Sejumlah Negara Pangkas Produksi
Sejak penutupan selat, ratusan kapal tertahan di kawasan Teluk, memaksa produsen utama seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait memangkas produksi secara signifikan. Tanpa kepastian jalur ekspor, peningkatan output tidak dapat langsung diterjemahkan menjadi distribusi ke pasar global.
Produsen tersebut secara terbuka menegaskan bahwa arus tanker yang stabil dan akses tanpa hambatan menjadi syarat utama untuk kembali ke operasi normal.
Di tingkat geopolitik, pernyataan yang saling berseberangan antara Amerika Serikat dan Iran memperlihatkan belum adanya titik temu yang solid.
Presiden Donald Trump menyebut Iran telah menyetujui pembukaan selat, sementara pihak Iran menegaskan pembukaan penuh baru akan dilakukan jika blokade terhadap tanker mereka dicabut sepenuhnya.
Perbedaan posisi ini tercermin langsung di lapangan, di mana pembukaan jalur hanya berlangsung singkat dan diikuti pembatasan kembali.
Dengan kondisi tersebut, Selat Hormuz saat ini berada dalam fase transisi yang rapuh. Aktivitas pelayaran mulai bergerak, tetapi masih dibayangi pembatasan selektif, risiko keamanan, dan ketidakpastian kebijakan.
Arus kapal yang tidak konsisten, dominasi tanker non-Barat, serta belum pulihnya pengiriman LNG menunjukkan bahwa jalur energi global ini belum sepenuhnya kembali ke fungsi normalnya.(*)