Logo
>

Wall Street Menguat, Investor Tetap Waspadai Risiko ini

Reli saham AS berlanjut didorong sektor AI, sementara pelaku pasar mencermati sejumlah faktor yang dapat mengubah arah pasar.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Wall Street Menguat, Investor Tetap Waspadai Risiko ini
Ilustrasi Wall Street ditutup menguat. Foto: dok KabarBursa.com.

KABARBURSA.COM – Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Selasa, 2 Juni 2026 waktu New York. Namun, reli yang ditopang optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masih dibayangi kekhawatiran inflasi akibat harga minyak yang bertahan tinggi dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 228,91 poin atau 0,45 persen ke level 51.307,79. Sementara itu, S&P 500 menguat 0,13 persen menjadi 7.609,90 dan Nasdaq bertambah 0,03 persen ke posisi 27.093,90.

Penguatan pasar saham AS terjadi seiring berlanjutnya minat investor terhadap sektor AI. Sentimen tersebut didorong oleh kinerja Hewlett Packard Enterprise serta rencana investasi besar Alphabet untuk pembangunan infrastruktur AI.

Meski demikian, kenaikan indeks saham berlangsung terbatas karena pelaku pasar masih memperhitungkan dampak lonjakan harga energi terhadap inflasi dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Harga minyak mentah masih bergerak di level tinggi. Minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 1,33 persen menjadi USD93,39 per barel, sementara Brent berada di USD95,94 per barel.

Kondisi tersebut membuat investor kembali mencermati prospek inflasi AS yang berpotensi bertahan lebih tinggi dari perkiraan. Data Personal Consumption Expenditures (PCE) terbaru menunjukkan inflasi AS pada April 2026 naik menjadi 3,8 persen secara tahunan, dari 3,5 persen pada Maret.

Di pasar mata uang, indeks dolar AS (DXY) bertahan di level 99,216. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun naik menjadi 4,07 persen dan yield Treasury tenor 10 tahun berada di level 4,45 persen.

Analis Corpay, Karl Schamotta, menilai dolar AS masih berpotensi melanjutkan penguatan apabila negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran belum mencapai titik terang serta data ketenagakerjaan AS tetap menunjukkan ekonomi yang kuat.

"Dolar dapat memperoleh momentum pekan ini jika negosiasi AS-Iran tetap buntu dan laporan nonfarm payrolls Jumat mengonfirmasi ketahanan ekonomi terbesar di dunia," ujarnya dilansir dari Reuters, 2 Juni 2026.

Sementara itu, Kepala Global FX Research HSBC, Paul Mackel, mengatakan sejumlah faktor masih membatasi laju penguatan dolar AS.

"Kombinasi kondisi keuangan AS yang longgar, berbaliknya dukungan safe haven, dan sikap The Fed yang terdengar sabar membuat dolar tertahan," ujarnya.

Meski pasar saham bergerak positif, investor belum sepenuhnya meninggalkan sikap hati-hati. Hal tersebut tercermin dari pelemahan Bitcoin yang turun 5,8 persen menjadi USD67.213,42.

Kondisi tersebut menunjukkan minat terhadap aset berisiko tinggi belum sepenuhnya pulih meskipun pasar saham masih mencatat kenaikan.

Pendiri Vital Knowledge, Adam Crisafulli, melihat momentum positif pasar saham masih berlanjut. "Pasar bisa masuk ke reli panas ketika momentum terus menang," tuturnya.

Pasar Menanti Data Tenaga Kerja AS

Perhatian investor kini tertuju pada serangkaian data ekonomi penting AS yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan.

Pasar akan mencermati laporan ADP Employment Report dan ISM Non-Manufacturing pada 3 Juni, disusul initial jobless claims pada 4 Juni serta data ketenagakerjaan nonpertanian atau nonfarm payrolls (NFP) pada 5 Juni 2026.

Reuters melaporkan pasar memperkirakan ekonomi AS menambah sekitar 85.000 lapangan kerja pada Mei, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan bertahan di level 4,3 persen.

Data tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi investor untuk membaca kekuatan ekonomi AS sekaligus memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed pada pertemuan berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada 16–17 Juni 2026.

Bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, kombinasi dolar yang masih kuat, yield Treasury yang relatif tinggi, dan harga minyak yang bertahan di kisaran USD95 per barel berpotensi menjaga tekanan terhadap mata uang serta arus modal asing.

Di sisi lain, optimisme terhadap sektor AI masih menjadi penopang utama sentimen positif di pasar saham global.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.