KABARBURSA.COM – Pergerakan pasar saham global mulai memberi sinyal bahwa komoditas berpotensi memasuki fase reli panjang baru pada 2026, sebuah dinamika yang oleh sebagian pelaku pasar dibaca sebagai awal dari siklus supercycle berikutnya.
Saham-saham yang terkait dengan aset riil dan komoditas menunjukkan kinerja menonjol sejak awal tahun. Di dalam indeks S&P 500, sektor material telah menguat 6,4 persen, sementara saham energi naik 4,3 persen sepanjang tahun berjalan. Logam mulia juga bergerak searah. Harga emas dan perak masing-masing telah naik sekitar 3,7 persen dan 12,4 persen pada Januari, melanjutkan lonjakan tajam sepanjang 2025 yang mencapai 64 persen untuk emas dan 141 persen untuk perak.
Harga minyak mentah turut menguat. Brent crude, patokan minyak internasional, naik sekitar 4,1 persen bulan ini. Kenaikan terjadi di tengah ketidakpastian geopolitik pasca intervensi Amerika Serikat di Venezuela, yang untuk sementara menutupi kekhawatiran pasar terhadap potensi surplus pasokan minyak global.
“Kita mungkin sedang berada di titik balik, di mana kekuatan relatif antara saham dan aset riil, termasuk komoditas, mulai berubah,” kata Jordan Rizzuto, Chief Investment Officer GammaRoad Capital Partners di New York, kepada MarketWatch, dikutip Senin, 12 Januari 2026.
Ia menilai pasar sebelumnya telah mengalami periode panjang di mana aset finansial jauh mengungguli aset riil. Namun kini, menurutnya, logam mulia kembali menjadi sorotan dan berpotensi menandai pergeseran struktural.
Salah satu pendorong utama perubahan ini adalah lonjakan belanja modal besar-besaran untuk pembangunan pusat data dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), baik di Amerika Serikat maupun global. Permintaan terhadap logam industri dan energi meningkat seiring ekspansi sektor tersebut.
Warren Pies, co-founder sekaligus strategist di 3Fourteen Research, mengaitkan permintaan kuat terhadap logam industri dan gas alam dengan pembangunan ekosistem AI dan data center.
Sementara itu, emas dan logam mulia lainnya mendapat dukungan dari apa yang disebut sebagai “perdagangan pelemahan dolar”, yakni pandangan bahwa lonjakan utang dan defisit fiskal pemerintah berpotensi menggerus daya beli mata uang AS.
“Dinamika ini membuat komoditas menjadi diversifikator yang kuat di dalam portofolio, berdampingan dengan saham,” ujar Pies.
Secara historis, aset riil cenderung berkinerja lebih baik dibanding saham ketika inflasi mengalami percepatan. Dalam konteks itu, pasar kini menanti rilis data inflasi dan indikator ekonomi Amerika Serikat yang akan memberi gambaran lebih jelas soal arah ekonomi ke depan.
Indeks harga konsumen (CPI) Desember dijadwalkan rilis pada Selasa, disusul data penjualan ritel dan indeks harga produsen (PPI). Sejumlah pelaku pasar memperkirakan CPI berpotensi lebih tinggi akibat distorsi data pada Oktober dan November lalu yang dipengaruhi oleh penutupan sementara pemerintahan AS.
Pasar saham AS sendiri menutup pekan pertama penuh perdagangan 2026 dengan penguatan. Ketiga indeks utama Wall Street berakhir di zona hijau setelah Mahkamah Agung AS tidak mengeluarkan putusan terkait tarif luas Presiden Donald Trump. Di sisi lain, Trump juga menyatakan telah membatalkan rencana gelombang lanjutan serangan militer ke Venezuela.
“Kita melihat reli pada minyak, emas, dan perak seiring meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya setelah operasi militer di Venezuela,” kata Eric Sterner, Chief Investment Officer Apollon Wealth Management.
Menurutnya, meski Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, produksi saat ini telah turun di bawah 1 juta barel per hari. Ketidakstabilan politik berpotensi menekan produksi lebih lanjut, meski dampaknya terhadap harga global diperkirakan terbatas karena pasar minyak masih berada dalam kondisi surplus.
Gary Schlossberg, Global Strategist Wells Fargo Investment Institute, menilai sebagian dukungan terhadap aset riil saat ini berasal dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik, dengan Venezuela menjadi salah satu faktor utama bagi pasar minyak. Logam mulia, menurutnya, juga diuntungkan oleh kombinasi risiko geopolitik, kekhawatiran inflasi, serta ekspektasi pelonggaran suku bunga lanjutan oleh bank sentral AS.
Di sisi logam industri, tembaga menjadi sorotan. Harga tembaga kini diperdagangkan mendekati rekor tertinggi setelah menembus level USD6 per pon pekan lalu. Sejumlah pelaku pasar meyakini reli ini masih berlanjut, ditopang gangguan pasokan dan permintaan kuat dari sektor data center.
John Velis, Macroeconomic Strategist BNY untuk kawasan Amerika, menilai kondisi saat ini mengingatkan pada supercycle komoditas awal 2000-an.
Ia menyebut lonjakan harga aset riil saat ini dipicu oleh kombinasi belanja teknologi, risiko geopolitik, pertumbuhan likuiditas global, serta ekspektasi kebijakan bank sentral yang cenderung lebih longgar.
“Aset riil mengawali tahun dengan performa sangat kuat, dengan reli logam mulia kini merembet ke logam industri,” ujar Velis.
“Jika sentimen pertumbuhan global 2026 membaik, bukan tidak mungkin energi menjadi fase lanjutan dari reli ini,” imbuhnya.
Menurutnya, valuasi relatif antara aset finansial, khususnya saham, dibandingkan aset riil di luar logam mulia masih membuka ruang menarik bagi investor untuk masuk ke tema komoditas, seiring permintaan industri yang diperkirakan terus meningkat. (*)