Logo
>

STOXX 600 Terkoreksi Tajam: Saham Energi Jadi Beban Utama

Fokus pasar kini bergeser pada dinamika negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran yang memantik koreksi tajam harga minyak global

Ditulis oleh Pramirvan Datu
STOXX 600 Terkoreksi Tajam: Saham Energi Jadi Beban Utama
Ilustrasi Bursa Saham Eropa. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Pasar saham Eropa menutup perdagangan Kamis dalam nuansa muram. Setelah sehari sebelumnya melesat agresif, reli yang sempat membakar optimisme investor mendadak kehilangan energi. Fokus pasar kini bergeser pada dinamika negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran yang memantik koreksi tajam harga minyak global sekaligus memunculkan gelombang kehati-hatian baru di bursa regional.

Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup terperosok 1,1 persen atau susut 6,83 poin ke level 616,42. Pelemahan itu terjadi hanya sehari setelah indeks tersebut melambung lebih dari 2 persen, menurut laporan Reuters pada Jumat 8 Mei 2026 dini hari WIB.

Tekanan menjalar hampir ke seluruh bursa utama kawasan. DAX Jerman melemah 1,02 persen atau kehilangan 255,08 poin ke posisi 24.663,61. FTSE 100 Inggris terkoreksi lebih dalam dengan penurunan 1,55 persen atau 161,71 poin menjadi 10.276,95, sedangkan CAC 40 Prancis menyusut 1,17 persen atau 97,34 poin ke level 8.202,08.

Sektor energi menjadi episentrum tekanan setelah harga minyak mentah tergelincir di bawah ambang USD100 per barel. Kondisi itu menyeret saham-saham energi papan atas. Shell, misalnya, anjlok 2,9 persen meskipun perusahaan tersebut sukses membukukan laba kuartal pertama di atas estimasi pasar serta mengumumkan kenaikan dividen sebesar 5 persen.

Kemerosotan harga minyak dipicu sinyal meredanya tensi geopolitik. Washington dan Teheran disebut semakin dekat menuju sebuah kesepakatan sementara guna menghentikan konflik yang telah mengguncang pasar energi global. Sejumlah pejabat dan sumber diplomatik mengungkapkan bahwa Iran tengah menelaah proposal penghentian pertempuran, walaupun berbagai perkara paling sensitif masih belum menemukan resolusi final.

Sejak konflik pecah, pasar saham Eropa memang bergerak lebih lamban dibandingkan sejumlah pasar global lain. Gangguan distribusi energi akibat penutupan Selat Hormuz sempat mendongkrak ongkos energi secara drastis, memantik ancaman inflasi sekaligus memburamkan prospek pertumbuhan ekonomi kawasan.

Head of Market Strategy Franklin Templeton Investment Solutions, Tom Nelson, menilai pasar masih berada dalam lanskap ketidakpastian yang kompleks. Menurutnya, belum terlihat indikasi konkret bahwa kesepakatan damai permanen akan segera tercapai.

“Belum ada sinyal yang benar-benar kuat bahwa perdamaian berkelanjutan akan segera terwujud. Bahkan jika kesepakatan tercapai, jalannya kemungkinan tetap berliku,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa pasar memang cenderung bergerak dengan orientasi masa depan. Namun dalam situasi seperti sekarang, investor dianggap terlalu prematur dalam mengesampingkan risiko dan volatilitas yang masih membayangi.

Dari ranah korporasi, produsen minuman beralkohol Campari menjadi salah satu emiten dengan tekanan paling tajam. Saham perusahaan itu runtuh 14,5 persen setelah pendapatan kuartal pertamanya gagal memenuhi ekspektasi pasar. Pelemahan tersebut ikut menyeret saham pesaing seperti Diageo dan Pernod Ricard yang masing-masing merosot lebih dari 2 persen. Secara keseluruhan, indeks sektor minuman turun 2,1 persen.

Sektor pertahanan pun tak luput dari tekanan. Indeks sektor ini merosot 2,7 persen, dipicu kejatuhan saham Rheinmetall sebesar 6,9 persen setelah perusahaan asal Jerman tersebut merilis laporan kuartalan sekaligus mengumumkan langkah penawaran akuisisi terhadap German Naval Yards Kiel.

Di sisi lain, saham Siemens Healthineers melemah 4,7 persen usai perusahaan teknologi kesehatan itu memangkas proyeksi kinerja tahunan. Manajemen menyebut transformasi struktural di pasar China serta meningkatnya ekspektasi inflasi sebagai alasan utama revisi panduan bisnis mereka.

Meski mayoritas saham terjerembap, tidak semua emiten berakhir suram. Henkel, produsen deterjen Persil, justru melesat 3,3 persen setelah berhasil mencatat penjualan kuartal pertama sesuai ekspektasi pasar, memberikan sedikit percikan optimisme di tengah tekanan yang menyelimuti bursa Eropa.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.