KABARBURSA.COM – China menutup tahun 2025 dengan catatan dagang yang bikin dunia melirik dua kali. Surplus perdagangan negeri itu tembus hampir USD1,2 triliun, rekor sepanjang sejarah. Angka itu bukan datang dari pasar Amerika Serikat yang selama ini jadi tujuan utama ekspor, melainkan dari pasar-pasar alternatif yang makin digarap serius, mulai dari Asia Tenggara, Afrika, hingga Amerika Latin.
Dorongan untuk melebar ke luar pasar Amerika bukan keputusan mendadak. Sejak Presiden Donald Trump kembali menduduki Gedung Putih tahun lalu, tekanan tarif, teknologi, dan geopolitik kembali mengeras. Beijing pun memilih jalan memutar. Para produsen didorong membangun skala global dan menancapkan kaki di banyak pasar agar tidak bergantung pada satu konsumen raksasa saja.
Hasilnya terlihat jelas. Tekanan tarif Amerika Serikat memang memukul ekspor China ke Negeri Paman Sam, tapi dampaknya tak sampai membuat mesin dagang China tersendat. Justru sebaliknya, ekspor ke kawasan lain melesat dan menjadi bantalan ekonomi di tengah lemahnya permintaan domestik.
Ekonom Asia dari HSBC, Fred Neumann, menilai daya saing China tetap berada di level yang sangat tinggi. Menurutnya, keunggulan itu bukan hanya soal teknologi dan produktivitas pabrik, tetapi juga sisi gelap yang jarang dibicarakan.
“Perekonomian China tetap sangat kompetitif,” kata Neumann, dikutip dari Reuters di Jakarta, Rabu, 14 Januari 2026. “Ini mencerminkan peningkatan produktivitas dan kecanggihan teknologi manufaktur China, tetapi juga disebabkan oleh lemahnya permintaan domestik dan kelebihan kapasitas yang menyertainya.”
Di balik surplus raksasa itu, Beijing menghadapi dilema besar. Properti masih lesu, konsumsi dalam negeri pun tak kunjung pulih, dan roda ekonomi dipaksa terus berputar dengan satu cara lama, lalu mereka menjual barang semakin murah ke luar negeri. Pertanyaannya lantas sampai kapan ekonomi sebesar USD19 triliun bisa bertahan dengan strategi seperti itu?
Neumann mengingatkan, surplus dagang yang terus membengkak berpotensi memicu gesekan baru. “Kenaikan surplus perdagangan China dapat meningkatkan ketegangan dengan mitra dagang, terutama negara-negara yang juga bergantung pada ekspor manufaktur,” ujarnya.
Data bea cukai China menunjukkan surplus perdagangan sepanjang 2025 mencapai USD1,189 triliun, setara dengan produk domestik bruto negara besar dunia seperti Arab Saudi. Angka itu menembus batas USD1 triliun untuk pertama kalinya pada November, lalu menutup tahun dengan catatan yang makin mencolok.
Wakil Menteri Administrasi Bea Cukai China, Wang Jun, menyebut keberhasilan itu sebagai hasil dari strategi diversifikasi mitra dagang. “Dengan mitra dagang yang semakin beragam, kemampuan China untuk menahan risiko telah meningkat secara signifikan,” kata Wang Jun dalam konferensi pers usai rilis data.
Di penghujung tahun, ekspor China masih menunjukkan taring. Pengiriman barang ke luar negeri pada Desember tumbuh 6,6 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 5,9 persen pada November. Angka ini jauh melampaui perkiraan ekonom yang hanya mematok pertumbuhan 3 persen.
Impor pun ikut naik 5,7 persen setelah sebelumnya hanya tumbuh 1,9 persen. Kenaikan ini juga melampaui ekspektasi pasar yang memprediksi impor hanya naik tipis. Kepala ekonom Pinpoint Asset Management, Zhiwei Zhang, menilai ekspor menjadi penopang utama di tengah rapuhnya permintaan domestik.
“Pertumbuhan ekspor yang kuat membantu meredam lemahnya permintaan domestik. Dikombinasikan dengan pasar saham yang sedang bergairah dan hubungan AS-China yang relatif stabil, pemerintah kemungkinan besar akan mempertahankan kebijakan makro setidaknya hingga kuartal pertama,” jelas ,” ,” jelas Zhang.
Pasar keuangan merespons positif. Yuan relatif stabil, sementara indeks saham utama Shanghai dan CSI300 kompak naik lebih dari satu persen pada perdagangan pagi. Investor tampak menyambut data yang lebih baik dari perkiraan, meski risiko jangka panjang masih membayangi.
Sepanjang 2025, surplus perdagangan bulanan China melampaui USD100 miliar sebanyak tujuh kali. Tahun sebelumnya, capaian itu hanya terjadi sekali. Melemahnya yuan ikut membantu daya saing harga, menegaskan bahwa kebijakan Trump belum benar-benar menggoyang perdagangan China dengan dunia secara luas, meskipun ekspor ke Amerika Serikat terpukul.
Ekspor China ke Amerika Serikat anjlok 20 persen dalam nilai dolar sepanjang 2025. Impor dari Amerika juga turun 14,6 persen. Namun pabrik-pabrik China tak kehabisan akal. Ekspor ke Afrika melonjak 25,8 persen, ke negara-negara ASEAN naik 13,4 persen, sementara pengiriman ke Uni Eropa tumbuh 8,4 persen.
Komoditas strategis pun ikut mencuri perhatian. Ekspor rare earth China melonjak ke level tertinggi sejak setidaknya 2014, meskipun Beijing mulai membatasi pengiriman beberapa unsur menengah dan berat sejak April. Banyak analis melihat langkah ini sebagai sinyal kekuatan tawar China di tengah negosiasi rumit dengan Washington, mulai dari pembelian kedelai, potensi kesepakatan pesawat Boeing, hingga masa depan operasi TikTok di Amerika Serikat.
Di sisi lain, China mencatat rekor impor kedelai pada 2025. Lonjakan ini ditopang pasokan besar dari Amerika Selatan, sementara pembelian dari Amerika Serikat ditahan hampir sepanjang tahun akibat ketegangan dagang yang belum sepenuhnya reda.
Memasuki 2026, banyak ekonom memperkirakan China masih akan merebut pangsa pasar global. Perusahaan-perusahaan China mulai mendirikan basis produksi di luar negeri untuk menghindari tarif dan mendapatkan akses lebih mudah ke pasar Amerika Serikat dan Uni Eropa. Permintaan terhadap chip kelas menengah dan perangkat elektronik juga tetap kuat.
Namun Beijing tampaknya mulai sadar bahwa ekspor yang terlalu agresif bisa menjadi bumerang. Pekan lalu, pemerintah mencabut insentif pajak ekspor untuk industri surya, kebijakan yang selama ini menjadi sumber gesekan dengan Uni Eropa.
Sementara itu, bayang-bayang Trump belum sepenuhnya pergi. Meski Mahkamah Agung Amerika Serikat berpotensi menggugurkan sebagian kenaikan tarif, ketidakpastian tetap tinggi. Trump kembali melontarkan pernyataan bahwa China bisa membuka pasarnya bagi barang Amerika, sehari setelah mengancam tarif 25 persen terhadap negara-negara yang berbisnis dengan Iran.
Ekonom Capital Economics, Zichun Huang, menilai ancaman tersebut bisa kembali memanaskan suasana. “Ancaman Trump untuk mengenakan tarif 25 persen pada negara-negara yang berbisnis dengan Iran menegaskan potensi munculnya kembali ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China,” ujarnya.
Surplus dagang China mungkin sedang berada di puncak, tetapi jalan ke depan jelas tidak lurus. Dunia masih mencermati, apakah strategi menumpuk surplus lewat pasar alternatif akan terus berhasil, atau justru memicu babak baru gesekan global yang lebih luas.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.