KABARBURSA.COM - Pengamat Ekonomi Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuabi, menilai surplus transaksi berjalan Indonesia sebesar USD4 miliar atau 1,1 persen dari PDB pada kuartal III-2025 menjadi sinyal positif setelah 10 kuartal mengalami defisit.
Surplus tersebut berbalik dari kuartal sebelumnya yang masih mencatat defisit USD2,7 miliar atau 0,8 persen dari PDB. Menurutnya, peningkatan neraca perdagangan menjadi pendorong utama kembalinya surplus tersebut.
"Surplus ini ditopang oleh neraca perdagangan Indonesia yang meningkat, disumbang terutama oleh kenaikan surplus neraca perdagangan nonmigas,” ujar Ibrahim dalam keterangannya Jumat 21 November 2025.
Ia menjelaskan, defisit neraca jasa juga menurun karena meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara. Tak hanya itu, defisit neraca pendapatan primer juga turun seiring selesainya periode pembayaran dividen dan bunga investasi asing.
“Neraca pendapatan primer mencatat defisit yang lebih rendah seiring dengan telah berlalunya periode pembayaran dividen dan bunga/kupon,” katanya.
Namun, Ibrahim menyoroti bahwa neraca perdagangan migas justru mengalami tekanan.
“BI mencatat defisit neraca perdagangan migas meningkat sejalan dengan kenaikan harga minyak global," sebutnya
Meski transaksi berjalan surplus, ia mencatat transaksi modal dan finansial masih tetap tertekan. Berdasarkan data Bank Indonesia, komponen tersebut mencatat defisit sebesar USD8,1 miliar pada kuartal III-2025, terutama dipengaruhi oleh aliran keluar modal asing dari surat utang dan meningkatnya pembayaran pinjaman sektor swasta.
Di pasar valuta asing, rupiah ditutup menguat 20 poin pada perdagangan akhir pekan di posisi Rp16.716 per dolar AS, setelah sempat menyentuh penguatan 30 poin. Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah tetap berfluktuasi pada awal pekan mendatang.
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.710 – Rp16.740,” ujarnya.(*)