KABARBURSA.COM — Donald Trump kembali mengeluarkan senjata favoritnya di panggung diplomasi global: Tarif. Kali ini bukan sekadar untuk perang dagang, melainkan untuk menekan pemerintah Iran yang dinilai melakukan penindasan berdarah terhadap gelombang demonstrasi nasional. Trump memilih cara lama yang ia kenal betul, yakni menaikkan ongkos ekonomi agar lawan goyah dari dalam.
Dilansir dari AP, Kamis, 15 Januari 2026, Trump menyatakan akan mengenakan pajak impor sebesar 25 persen terhadap barang-barang yang masuk ke Amerika Serikat dari negara mana pun yang masih berbisnis dengan Iran. Tujuannya adalah memutus jalur napas ekonomi Teheran dengan menekan akses barang asing dan mendorong kenaikan harga di dalam negeri Iran.
Langkah ini berpotensi memperparah kondisi ekonomi Iran yang sudah rapuh. Inflasi di negara itu kini melaju di atas 40 persen. Sanksi tambahan bisa memicu kemarahan publik di tengah suasana politik yang telah panas. Para aktivis menyebut jumlah korban tewas akibat aksi penindasan terbaru pemerintah Iran telah melampaui 2.500 orang hingga Rabu, 14 Januari 2026.
Namun, seperti bumerang, tarif Trump juga mengancam kembali ke Amerika Serikat. Kenaikan tarif berpotensi mendorong harga barang impor yang dikonsumsi warga Amerika, terutama dari negara-negara mitra dagang Iran. Tekstil dari Turki, batu permata dari India, dan berbagai produk lain berisiko ikut terdampak. Lebih jauh lagi, langkah ini bisa mengguncang gencatan senjata dagang rapuh yang telah dicapai Trump sendiri dengan China tahun lalu.
Pemerintahan Trump sejauh ini masih irit bicara soal detail kebijakan tersebut. Gedung Putih belum menjelaskan apakah tarif baru ini akan ditumpuk di atas bea masuk dua digit yang sebelumnya telah diberlakukan terhadap hampir seluruh negara di dunia. Belum jelas pula apakah impor energi tertentu akan dikecualikan, seperti yang pernah dilakukan Trump di masa lalu.
Landasan hukum kebijakan ini pun mengambang. Tahun lalu, Trump menggunakan Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional 1977 untuk membenarkan tarif besar-besaran. Namun kebijakan itu kini digugat oleh pelaku usaha dan sejumlah negara bagian yang menilai Trump melampaui kewenangannya. Mahkamah Agung Amerika Serikat sedang mengadili perkara tersebut dan berpotensi membatalkan tarif sekaligus memaksa pemerintah mengembalikan dana kepada para importir.
Selama bertahun-tahun, Iran hidup dalam isolasi akibat sanksi internasional yang ditujukan untuk menekan program nuklirnya. Meski demikian, negara itu tetap membukukan perdagangan internasional senilai hampir USD125 miliar sekitar Rp2.100 triliun pada 2024.
China menjadi mitra terbesarnya dengan nilai perdagangan USD32 miliar sekitar Rp537,6 triliun, disusul Uni Emirat Arab USD28 miliar sekitar Rp470,4 triliun, dan Turki USD17 miliar sekitar Rp285,6 triliun menurut data Organisasi Perdagangan Dunia.
Iran juga mengimpor lebih dari USD6 miliar sekitar Rp100,8 triliun dari Uni Eropa pada tahun yang sama. Ekspor Iran didominasi sektor energi, sementara impor utamanya meliputi emas, gandum, dan ponsel pintar.
Upaya Trump menekan Iran nyaris pasti menimbulkan kerusakan samping. Salah satu yang paling rawan terdampak adalah relasi dagang Amerika Serikat dan China. Tahun lalu, kedua negara ini saling membalas tarif hingga tiga digit, hampir menghentikan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia dan sempat mengguncang pasar keuangan global.
Sepanjang sisa tahun itu, Washington dan Beijing berusaha meredakan konflik. Mereka mencapai kesepakatan pada Oktober yang menurunkan tarif, mengakhiri boikot China terhadap kedelai Amerika, serta melonggarkan pembatasan ekspor mineral tanah jarang dan teknologi penting untuk jet tempur, robot, dan industri strategis lainnya.
Tarif baru yang menyasar Iran berpotensi kembali memukul China karena hubungan dagang erat Beijing dengan Teheran. Laporan Badan Informasi Energi Amerika Serikat pada 2024 mencatat China membeli sekitar 80 hingga 90 persen minyak yang diekspor Iran.
Ancaman ini dinilai sebagai sinyal betapa rapuhnya gencatan senjata dagang AS-China. Mantan negosiator perdagangan Amerika Serikat Wendy Cutler menyebut ancaman kenaikan tarif 25 persen terhadap China dan mitra dagang lain akibat isu Iran menunjukkan ketidakstabilan hubungan kedua negara.
Ancaman tersebut, menurut Cutler, telah merusak kepercayaan yang sejak awal sudah berada di titik rendah. Bahkan jika tarif tidak benar-benar diterapkan, dampaknya sudah terasa.
Beijing pun tidak tinggal diam. Pemerintah China menegaskan akan membalas jika Trump melangkah lebih jauh. Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan bahwa tidak ada pemenang dalam perang tarif dan China akan menjaga hak dan kepentingannya secara tegas.
Seorang akademisi perdagangan internasional di Beijing menilai bahwa jika tambahan tarif 25 persen benar-benar dikenakan kepada China, maka balasan dengan besaran yang sama hampir pasti terjadi.
Sejak ketegangan dagang dengan Amerika Serikat meningkat pada masa jabatan pertama Trump, perusahaan-perusahaan China mulai mengalihkan orientasi pasar mereka. Surplus perdagangan China melonjak ke rekor hampir USD1,2 triliun sekitar Rp20.160 triliun pada 2025, meskipun ekspor ke Amerika menurun. Dunia usaha China berbelok ke Eropa dan Asia Tenggara.
Menurut analis tersebut, pasar Amerika tidak lagi sepenting dulu bagi China. Beijing, kata dia, memiliki ruang untuk merespons dan membalas jika Trump kembali mengeskalasi konflik.
Bagi India, kekhawatiran utama bukanlah hubungan dagangnya dengan Iran, melainkan akses ke pasar Amerika Serikat yang jauh lebih besar. India mengekspor barang senilai USD1,6 miliar sekitar Rp26,88 triliun ke Iran pada 2024, jumlah yang kecil dibandingkan ekspor USD129 miliar sekitar Rp2.167,2 triliun ke Amerika Serikat pada tahun yang sama.
Angka tersebut juga jauh di bawah nilai perdagangan India dengan Iran sebelum pandemi, yang mendekati USD15 miliar sekitar Rp252 triliun, sebelum India menghentikan impor minyak mentah Iran pada awal 2020.
India saat ini telah menghadapi tarif Amerika sebesar 50 persen sebagai hukuman atas pembelian minyak dari Rusia. Seorang ekonom senior di New Delhi menilai dampak terbesar kebijakan Trump bukan pada perdagangan India-Iran, melainkan pada hubungan dagang India-Amerika.
Menurutnya, sektor tekstil dan garmen, permata dan perhiasan, serta produk rekayasa menjadi yang paling rentan jika tarif baru benar-benar diberlakukan. Di tengah peta global yang semakin terbelah, tarif Trump berpotensi kembali menguji batas kesabaran pasar dan mitra dagang Amerika Serikat sendiri.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.