Logo
>

Tekanan Inflasi Terkendali, Konsumsi Masyarakat Masih Menguat di Awal 2026

Tren positif ini diperkirakan berlanjut di awal 2026, ditopang berbagai program dan stimulus pemerintah, serta dorongan musiman dari Ramadhan dan Idul Fitri

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Tekanan Inflasi Terkendali, Konsumsi Masyarakat Masih Menguat di Awal 2026
Ilustrasi Konsumsi rumah tangga. Foto: Dok KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, memproyeksikan tekanan inflasi pada awal 2026 tetap berada dalam batas terkendali. Hal ini didorong oleh kondisi pasokan pangan yang relatif stabil dan kondusif.

    “Kestabilan ini memberi ruang bagi konsumsi masyarakat untuk terus tumbuh secara terukur dan berkelanjutan,” ujar Andry dalam keterangannya di Jakarta, Kamis 15 Januari 2026.

    Tingkat konsumsi masyarakat memang menunjukkan perbaikan pada akhir 2025, sejalan dengan lonjakan aktivitas belanja selama momentum Natal dan Tahun Baru. Tren positif ini diperkirakan berlanjut di awal 2026, ditopang berbagai program dan stimulus pemerintah, serta dorongan musiman dari Ramadhan dan Idul Fitri pada kuartal I, yang secara historis memperkuat permintaan domestik.

    Stabilnya konsumsi tercermin dari inflasi tahunan yang masih terkendali di 2,92 persen year on year (yoy) pada Desember 2025, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS). Angka ini masih berada dalam kisaran target inflasi 2025 sebesar 1,5–3,5 persen, mencerminkan harga yang relatif stabil di tengah aktivitas ekonomi yang terus berjalan.

    Secara bulanan, inflasi Desember 2025 tercatat 0,64 persen month to month (mom). Secara historis, akhir tahun memang identik dengan peningkatan inflasi, seiring meningkatnya permintaan masyarakat saat perayaan Natal dan Tahun Baru. “Kenaikan ini menandai penguatan konsumsi pada akhir tahun,” kata Andry.

    Daya beli masyarakat juga terlihat membaik, tercermin dari inflasi inti yang naik 0,20 persen mom pada Desember 2025, lebih tinggi dibandingkan November yang sebesar 0,17 persen mom. Inflasi inti ini mencerminkan dinamika permintaan domestik yang relatif stabil dan berkelanjutan. Andry menambahkan, kenaikan ini dipicu oleh penguatan konsumsi domestik pada pengujung tahun, serta pengaruh kenaikan harga emas.

    Aktivitas konsumsi yang solid juga terlihat dari Mandiri Spending Index (MSI) yang meningkat 17 persen secara bulanan pada Desember. Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) naik 0,37 persen mom, lebih tinggi dari 0,24 persen mom pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini dipengaruhi penyesuaian tarif tiket pesawat dan harga bahan bakar minyak (BBM) selama libur Natal dan Tahun Baru.

    Secara keseluruhan, data terbaru BPS menunjukkan konsumsi masyarakat masih berada dalam tren positif, dengan harga yang tetap stabil meski permintaan bersifat musiman. Kondisi ini menegaskan peran penting konsumsi domestik sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Pramirvan Datu

    Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.