Logo
>

Tembaga Jadi Rebutan, Gelombang Merger Raksasa Tambang Menguat

Lonjakan permintaan dari AI, energi bersih, dan pertahanan mulai mengubah peta konsolidasi industri tambang global.

Ditulis oleh Syahrianto
Tembaga Jadi Rebutan, Gelombang Merger Raksasa Tambang Menguat
Ilustrasi: Tumpukan pipa tembaga dan skrap tembaga terletak di atas meja. (Foto: picryl.com)

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Lonjakan permintaan tembaga mendorong gelombang merger dan akuisisi raksasa di sektor pertambangan, seiring perusahaan-perusahaan berlomba mengamankan pasokan logam yang krusial untuk menopang perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

    Dalam laporan Wall Street Journal, Rio Tinto dan Glencore menyatakan pada Kamis, 8 Januari 2026 malam bahwa keduanya tengah melakukan pembicaraan untuk membentuk perusahaan tambang terbesar di dunia, dengan valuasi pasar lebih dari USD200 miliar.

    Pendorong utama pembicaraan tersebut, dan sejumlah merger serta upaya konsolidasi lain yang terjadi belakangan, adalah tembaga. 

    Harga tembaga di Amerika Serikat menyentuh rekor tertinggi pada Senin, 5 Januari 2026, dipicu kekhawatiran bahwa permintaan terhadap logam merah itu akan melampaui pasokan, ditambah kecemasan terkait kebijakan tarif.

    Tembaga digunakan dalam berbagai aplikasi, mulai dari pipa, papan sirkuit, hingga kabel. Perannya sebagai konduktor listrik menjadikan tembaga kunci dalam menopang revolusi AI. Permintaan juga terdorong oleh meningkatnya adopsi kendaraan listrik dan energi terbarukan seperti tenaga surya, serta kenaikan belanja pertahanan untuk amunisi dan persenjataan yang banyak menggunakan tembaga.

    Ke depan, pasokan baru diperkirakan tidak akan mampu mengimbangi lonjakan permintaan tersebut.

    Permintaan tembaga diproyeksikan melampaui pasokan sebesar 25 persen, atau sekitar 10 juta metrik ton, pada 2040, menurut perkiraan S&P Global, kecuali jika perusahaan tambang meningkatkan produksi secara signifikan.

    “Yang dipertaruhkan adalah apakah tembaga tetap menjadi enabler kemajuan, atau justru berubah menjadi hambatan bagi pertumbuhan dan inovasi,” ujar Daniel Yergin, Wakil Ketua S&P Global, dalam sebuah laporan pekan ini, sebagaimana dilaporkan WSJ.

    Pada November lalu, U.S. Geological Survey memasukkan tembaga ke dalam daftar mineral kritis yang dinilai vital bagi keamanan nasional dan perekonomian. Penetapan tersebut membuka peluang dukungan federal untuk mendorong peningkatan produksi.

    Harga tembaga di AS melonjak 41 persen sepanjang tahun lalu dan kembali mencatat kenaikan pada 2026, ditutup di level rekor USD5,9245 per pon di New York pada Senin.

    Melakukan merger atau akuisisi memungkinkan perusahaan tambang meningkatkan produksi lebih cepat dibanding membangun tambang tembaga baru, yang bisa memakan waktu puluhan tahun hingga beroperasi. Tambang yang sudah ada pun kerap menghadapi berbagai tantangan yang berpotensi mengganggu produksi.

    Kembali mencuatnya pembicaraan antara Rio Tinto dan Glencore menjadi bagian dari rangkaian upaya konsolidasi industri tambang yang dipicu oleh tembaga. Tahun lalu, Anglo American sepakat bergabung dengan Teck Resources asal Kanada dalam sebuah kesepakatan yang sempat coba digagalkan oleh raksasa tambang BHP.

    “Merger raksasa di sektor tambang kembali terjadi… dan dalam banyak kasus, kunci utama dari kombinasi yang diusulkan adalah tembaga,” tulis analis Jefferies dalam catatan kepada klien.

    Mengakuisisi atau bergabung dengan perusahaan yang memiliki aset tembaga akan meningkatkan eksposur produsen terhadap logam yang tengah diburu tersebut. Perusahaan juga berharap dapat meningkatkan produksi melalui efisiensi yang lebih besar dan kekuatan finansial yang meningkat. Namun, kesepakatan semacam itu tidak selalu berarti peningkatan investasi pada tambang baru.

    Kombinasi antara Rio Tinto dan Glencore diperkirakan akan membawa lebih banyak tembaga ke pasar, karena menyediakan modal lebih besar untuk mengembangkan aset-aset Glencore, menurut Duncan Hay, analis di pialang Panmure Liberum.

    Glencore memiliki kepemilikan di salah satu tambang tembaga besar di Chile serta aset tembaga lain di berbagai negara. Bulan lalu, perusahaan itu memaparkan rencana peningkatan produksi, termasuk menghidupkan kembali tambang di Argentina.

    Bisnis tembaga Rio Tinto mencakup tambang Kennecott di Utah serta proyek lama yang tertunda di Arizona, yang ketika beroperasi kelak diperkirakan dapat memasok seperempat kebutuhan tembaga industri Amerika Serikat.

    Secara keseluruhan, tembaga diperkirakan menyumbang 36 persen laba perusahaan hasil penggabungan tersebut, menurut Jefferies, menjadikannya bisnis terbesar dan melampaui operasi bijih besi yang selama ini mengangkat Rio Tinto sebagai salah satu dari dua raksasa tambang dunia.

    S&P Global memproyeksikan permintaan tembaga global akan melonjak menjadi 42 juta metrik ton pada 2040, atau meningkat 50 persen dibanding level saat ini.

    Perkembangan AI menjadi pendorong utama lonjakan permintaan. Pusat data yang boros listrik membutuhkan tembaga dalam jumlah sangat besar. Dalam satu dekade ke depan, pusat data diperkirakan memerlukan lebih dari 4,3 juta metrik ton tembaga, menurut BloombergNEF—setara dengan sekitar satu tahun pasokan dari Chile, produsen tembaga terbesar dunia.

    Dekarbonisasi dan sektor pertahanan juga menopang harga. Permintaan tembaga untuk kendaraan listrik diperkirakan meningkat menjadi 2,3 juta ton pada 2030 dari 1,3 juta ton pada 2025, menurut Benchmark Minerals Intelligence.

    Belanja pertahanan yang memecahkan rekor serta kebutuhan pengisian kembali amunisi juga diperkirakan akan meningkatkan permintaan. Tembaga, yang digunakan sebagai campuran pada selongsong amunisi dan berbagai aplikasi lain, merupakan material kedua yang paling banyak digunakan oleh Departemen Pertahanan AS, menurut Gedung Putih.

    Di sisi lain, prospek penerapan tarif oleh Presiden Donald Trump menambah volatilitas pasar tembaga. Harga terdorong oleh aksi importir AS yang menimbun tembaga di gudang untuk mengantisipasi tarif baru yang sempat diwacanakan. Namun, analis Goldman Sachs menyatakan kejelasan kebijakan tarif ke depan berpotensi mengurangi aksi penimbunan dan menekan harga.

    Faktor lain yang dapat memengaruhi permintaan adalah potensi pelemahan ekonomi China, yang menyumbang sekitar separuh konsumsi tembaga global.

    “Selama sekitar 10 tahun terakhir, pendorong utama permintaan adalah China, dan laju itu kini mulai melambat,” kata Duncan Hay dari Panmure Liberum. (*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Syahrianto

    Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

    Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

    Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

    Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.