KABARBURSA.COM – Bursa saham Amerika Serikat bergerak moderat usai Federal Reserve memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin. Hanya Dow Jones yang agresif menyambut pemangkasan tersebut. Sementara S&P 500 serta Nasdaq lebih berhati-hati.
Pada awal perdagangan, S&P 500 sempat melesat hingga mendekati rekor penutupan pada 28 Oktober 2025. Namun, jelang penutupan, momentum tersebut hilang. Akhirnya S&P 500 mengunci posisi di 6.886,68 atau naik tipis 0,67 persen.
Sementara Nasdaq, naik lebih moderat, hanya 0,03 persen dan mengunci harga di level 23.654,16 persen. Di sini, reli paling kuat terjadi pada Russell 2000, yang mencetak rekor penutupan baru setelah melonjak 1,32 persen. Sedangkan Dow Jones bergerak di bawahnya, 1.05 persen dan mengunci posisi di 48.057,75.
Sebenarnya, pemangkasan suku bunga yang dilakukan Federal Reserve sudah menjadi katalis yang sangat poritif bagi pergerakan Wall Street di perdagangan Kamis dinihari WIB, 11 Desember 2025. Hanya saja, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 yang dinaikkan dari 1,8 menjadi 2,3 persen, memberikan tekanan.
Apalagi, data pengangguran mengungkapkan tetap stabil di angka 4,4 persen. Di sini, the Fed melihat bahwa ekonomi AS masih cukup kuat untuk menahan tekanan pasar tenaga kerja tanpa menutup kemungkinan pelonggaran lebih lanjut.
Namun, dalam pidatonya Ketua the Fed Jerome Powell tidak mau berjanji untuk pemangkasan lanjutan. Hanya saja, ia menekankan pada risiko pelemahan tenaga kerja dan tidak ingin membiarkan kondisi tersebut memburuk lebih jauh.
Sektor Industri Menguat, Kinerja Individual Berikan Catatan Unik
Sementara itu, sektor industry menjadi motor penguatan berkat lonjakan harga saham GE Vernova. Saham tersebut naik lebih dari 15 persen setelah perusahaan memproyeksikan peningkatan pendapatan tahun 2026.
Permintaan infrastruktur berbasis teknologi kecerdasan buatan juga memberi warna baru bagi rotasi sektor. Sebaliknya, utilitas defensif melemah dan consumer staples bergerak datar, menunjukkan pelemahan minat terhadap aset perlindungan di tengah optimisme pasar.
Data breadth memperkuat gambaran bahwa reli ini memiliki fondasi yang cukup kuat. Di NYSE, saham naik melampaui saham turun dengan rasio hampir 3 banding 1. Sementara itu, ratusan saham mencetak level tertinggi baru di kedua bursa besar.
Aktivitas ini konsisten dengan pasar yang sedang dalam fase akumulasi, meski volume perdagangan sedikit berada di bawah rata-rata bulanan.
Kinerja saham individual mengungkap dinamika unik di setiap indeks. Di Dow Jones, saham-saham siklikal seperti Nike, Caterpillar, dan Johnson & Johnson memimpin kenaikan. Sementara itu, sektor teknologi justru mengalami tekanan, dengan Microsoft jatuh 2,78 persen.
Di S&P 500, GE Vernova dan Celanese mendominasi, sedangkan Uber dan Netflix melemah akibat rotasi ke saham-saham yang lebih sensitif terhadap prospek pertumbuhan.
Nasdaq memperlihatkan volatilitas ekstrem. Beasley Broadcast Group melonjak hingga lebih dari 300 persen, sementara Work Medical Technology anjlok lebih dari 90 persen dalam satu sesi. Perbedaan tajam ini menandai bahwa pasar masih berada dalam fase selektif yang sangat bergantung pada sentimen dan katalis individual.
Secara keseluruhan, performa Wall Street pada sesi ini menunjukkan bahwa pasar merespons pemangkasan suku bunga dengan keyakinan bahwa kebijakan moneter tetap mengarah pada pelonggaran bertahap, meskipun komunikasi resmi The Fed berhati-hati.
Investor membaca peluang, bukan Batasan dan melihat risiko, bukan hambatan. Selama pasar tenaga kerja memberikan sinyal yang konsisten dengan narasi moderasi ekonomi, peluang reli lanjutan tetap terbuka, meski volatilitas akan meningkat ketika pasar mencoba menafsirkan setiap kata dan gestur dari The Fed.(*)