KABARBURSA.COM — Tokocrypto kembali membuka lembar transparansi di tengah industri kripto yang tak pernah benar-benar sepi dari rasa curiga. Di saat kepercayaan publik kerap naik turun mengikuti kabar global, platform perdagangan aset kripto ini memilih jalan lama yang kini jadi tuntutan baru, membuka saldo simpanan dan membiarkan publik ikut mengintip isinya.
Langkah itu diwujudkan lewat penerapan Proof of Reserves atau Bukti Cadangan yang memungkinkan siapa pun mengecek ketersediaan aset pengguna secara terbuka. Bagi Tokocrypto, transparansi bukan sekadar jargon pemasaran, melainkan pondasi agar pengguna tak merasa berjalan di lorong gelap saat menitipkan dananya.
CEO Tokocrypto Calvin Kizana mengatakan kejelasan data menjadi kunci utama membangun kepercayaan, terutama ketika kekhawatiran soal keamanan dana nasabah kembali mencuat di industri kripto. “Di tengah kembali munculnya kekhawatiran publik soal keamanan aset nasabah di industri, Tokocrypto memastikan dana pengguna dikelola secara bertanggung jawab dan dapat diverifikasi. Proof of Reserves kami adalah bentuk komitmen transparansi agar pengguna bisa melihat dan mengecek bahwa aset mereka tersedia secara utuh,” ujar Calvin dalam keterangan tertulis yang dikutip Selasa, 13 Januari 2026.
Sebagai salah satu pedagang aset kripto yang telah mengantongi izin dari Otoritas Jasa Keuangan, Tokocrypto sejatinya bukan pemain baru dalam urusan keterbukaan data. Proof of Reserves telah mereka rilis sejak 2023. Namun angka terbaru menunjukkan cerita yang lebih menarik. Per 1 Januari 2026, total aset pengguna yang tercatat dan terverifikasi dalam sistem Proof of Reserves mencapai USD345.379.785 atau sekitar Rp5,806 triliun. Nilai ini melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan periode awal peluncuran.
Bagi Calvin, pertumbuhan tersebut bukan sekadar angka di laporan, melainkan cermin minat investasi kripto yang belum surut. “Pertumbuhan nilai aset pengguna dalam PoR hingga sekitar USD345 juta per 1 Januari 2026 menunjukkan minat investasi kripto pengguna yang tetap tinggi. Kami melihat potensi pertumbuhan ini masih bisa berlanjut seiring meningkatnya partisipasi investor dan semakin matangnya ekosistem aset kripto di Indonesia,” kata Calvin.
Aset yang tercatat dalam Proof of Reserves pun bukan koin ecek-ecek. Isinya didominasi token berkapitalisasi besar yang sudah mapan dan aktif diperdagangkan di pasar global maupun domestik. Hingga awal 2026, cadangan tersebut mencakup Bitcoin sebanyak 1.246,79999263 BTC, Ethereum sebesar 10.005,61888101 ETH, BNB sebanyak 12.272,89562512 BNB, serta Tether senilai 75.520.184,47678899 USDT.
Di balik angka-angka itu, Tokocrypto mengandalkan teknologi yang relatif rumit namun penting untuk membangun kepercayaan. Mereka mengadopsi sistem Merkle Tree dan zk-SNARKs atau Zero Knowledge Succinct Non Interactive Argument of Knowledge. Teknologi ini memungkinkan proses verifikasi dilakukan secara akurat tanpa membuka data sensitif pengguna ke publik.
Melalui skema Merkle Tree, setiap pengguna bisa melakukan verifikasi mandiri untuk memastikan saldo mereka benar-benar tercatat sebagai bagian dari total kewajiban Tokocrypto. Sementara zk-SNARKs digunakan untuk membuktikan bahwa total saldo pengguna tidak melebihi aset cadangan yang dimiliki perusahaan. “Kami menerapkan verifikasi berbasis Merkle Tree dan zk-SNARKs untuk memastikan audit cadangan aset lebih akurat sekaligus menjaga privasi. Pengguna juga bisa melakukan self-verification untuk memastikan saldo mereka tercatat dalam perhitungan, dengan prinsip cakupan aset 1 banding 1,” tutur Calvin.
Tokocrypto juga menegaskan pemisahan yang tegas antara aset pengguna dan aset perusahaan. Seluruh aset milik perusahaan tidak dimasukkan ke dalam perhitungan Proof of Reserves. Data cadangan tersebut dapat diakses publik melalui laman resmi Tokocrypto lengkap dengan panduan verifikasi bagi pengguna yang ingin memastikan dananya benar-benar ada.
Di luar urusan saldo dan verifikasi, perusahaan ini juga mengklaim terus memperkuat sistem keamanan internal. Pengamanan dilakukan berlapis, mulai dari enkripsi data, perlindungan API, hingga teknologi deteksi intrusi dan firewall. Tokocrypto juga telah mengantongi sertifikasi ISO 27001 dan ISO 27017 sebagai standar internasional dalam manajemen keamanan informasi dan layanan cloud.
Kinerja bisnisnya pun tak kalah lantang. Hingga Desember 2025, total nilai transaksi di Tokocrypto telah melampaui Rp150 triliun. Angka ini menjadi penanda bahwa minat dan partisipasi pengguna masih terjaga, meskipun pasar kripto global sempat berada dalam fase koreksi.
Lewat rangkaian langkah tersebut, Tokocrypto menegaskan komitmennya untuk terus bermain di jalur transparansi dan keamanan. Di industri yang reputasinya sering naik turun, membuka cadangan dan membiarkan publik menghitung sendiri tampaknya menjadi cara paling jujur untuk tetap bertahan.(*)