KABARBURSA.COM - Harga emas mengalami penurunan tipis pada perdagangan Senin, 6 April 2026 karena investor menunggu sinyal lebih lanjut mengenai perkembangan situasi Amerika Serikat (AS)-Iran menjelang tenggat waktu untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Melansir Reuters, harga emas spot turun tipis sebesar 0,4 persen menjadi USD4.654,99 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup 0,1 persem atau lebih tinggi di level USD4.684,70.
Pada Minggu, 5 April 2026, Presiden AS Donald Trump mengultimatum Iran agar membuka Selat Hormuz. Jika keinginan itu tidak diindahkan hingga Selasa, 7 April 2026, ia menyatakan Iran akan menjadi "neraka".
Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities mengatakan fokus kemungkinan akan tetap pada perang dan suku bunga. Jika konflik berlarut-larut, harga minyak akan terus naik di tengah kondisi pasokan yang semakin ketat, yang menambah tekanan inflasi.
"Hal itu membuat bank sentral, khususnya Federal Reserve, memiliki ruang gerak yang lebih terbatas untuk melonggarkan kebijakan dan bahkan dapat menghidupkan kembali diskusi tentang kenaikan suku bunga jika harga energi naik lebih lanjut, yang berdampak negatif bagi emas," ujar dia.
Emas secara luas dianggap sebagai lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi, tetapi karena tidak menghasilkan bunga, emas cenderung kurang menarik ketika suku bunga tinggi.
Hal-hal lain yang menjadi perhatian investor ialah risalah rapat kebijakan The Fed pada bulan Maret yang akan dirilis pada hari Rabu, data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS yang akan dirilis pada hari Kamis, dan Indeks Harga Konsumen (CPI) pada hari Jumat.
Diketahui pada bulan lalu Bank sentral AS mempertahankan suku bunga dan mayoritas. FedWatch dari CME menilai pedagang kini melihat tidak ada peluang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga tahun ini.
Harga perak spot turun 0,3 persen ke level USD72,81 per ons, platinum susut 0,6 persen menjadi USD1.976,21, dan paladium anjlok 1,1 persen ke harga USD1.487,22. (*)