KABARBURSA.COM — Langkah Amerika Serikat di Venezuela makin terang benderang. Di tengah operasi militer yang mengguncang Caracas dan penangkapan Nicolás Maduro, Presiden Donald Trump justru membuka bab lain yang tak kalah sensitif yakni minyak.
Pada Selasa waktu setempat, Trump menyatakan Venezuela akan memasok antara 30 juta hingga 50 juta barel minyak ke Amerika Serikat. Minyak itu, menurut Trump, bukan sekadar komoditas dagang, melainkan akan menjadi sumber dana yang diklaimnya akan digunakan untuk kepentingan rakyat kedua negara.
“Venezuela akan menyediakan 30 juta hingga 50 juta barel minyak untuk Amerika Serikat, dan hasil penjualannya akan digunakan untuk kepentingan rakyat kedua negara,” ujar Trump dikutip dari Associated Press, Rabu, 7 Januari 2025.
Pernyataan itu datang bersamaan dengan langkah Gedung Putih yang tengah menyiapkan pertemuan penting bersama para eksekutif perusahaan minyak Amerika Serikat. Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Jumat, dengan agenda utama membahas masa depan industri minyak Venezuela yang selama ini terpuruk akibat sanksi dan salah urus.
Pemerintahan Trump selama ini memang mendorong Venezuela untuk membuka industri minyaknya yang besar namun rapuh agar lebih ramah terhadap investasi dan teknologi Amerika. Sejumlah raksasa energi disebut bakal hadir dalam pertemuan itu.
Perwakilan dari Exxon, Chevron, dan ConocoPhillips diperkirakan akan mengikuti pertemuan di Gedung Putih tersebut, menurut seorang sumber yang mengetahui rencana itu dan meminta identitasnya dirahasiakan karena membahas agenda internal.
Sementara itu, di Caracas, suasana berkabung dan kemarahan masih menyelimuti aparat keamanan. Beberapa jam sebelum pernyataan Trump, otoritas Venezuela mengumumkan bahwa sedikitnya 24 petugas keamanan tewas dalam operasi militer Amerika Serikat yang dilakukan secara diam-diam pada malam hari untuk menangkap Nicolás Maduro dan membawanya ke Amerika Serikat guna menghadapi dakwaan kasus narkotika.
Ketegangan semakin memuncak ketika Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, secara terbuka menantang pernyataan Trump. Sebelumnya, Trump melontarkan ancaman keras kepada Rodriguez dan memperingatkan bahwa nasibnya bisa lebih buruk dibandingkan Maduro jika ia tidak “melakukan hal yang benar”.
Ancaman itu, menurut Trump, berkaitan langsung dengan tuntutan agar Venezuela dirombak menjadi negara yang sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat, termasuk dengan membuka akses lebih luas bagi perusahaan energi asal Amerika.
Rodriguez menolak tekanan tersebut dan menyatakan bahwa Venezuela tidak akan tunduk pada paksaan politik dan ekonomi. Penolakan itu mempertegas bahwa perebutan pengaruh di Venezuela bukan sekadar soal kekuasaan politik, melainkan juga tentang siapa yang menguasai sumber daya minyak terbesar di dunia yang kini menjadi pusat tarik-menarik kepentingan global.
Di tengah situasi ini, minyak kembali menempati posisi utama dalam drama geopolitik Venezuela. Bukan hanya sebagai sumber energi, tetapi sebagai alat tawar, sumber konflik, sekaligus janji kesejahteraan yang masih jauh dari kepastian.
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.