KABARBURSA.COM — Selama dua dekade terakhir, luka lama di sektor energi Venezuela tak pernah benar-benar sembuh. Perusahaan-perusahaan minyak besar dari Amerika Serikat dan Eropa masih menyimpan catatan utang bernilai fantastis yang, menurut mereka, harus dibayar Venezuela atas penyitaan aset yang terjadi di masa lalu. Angkanya bukan recehan, melainkan mencapai puluhan miliar dolar, dan kini kembali mencuat ke permukaan seiring perubahan drastis lanskap politik di Caracas.
Perusahaan seperti Exxon Mobil dan ConocoPhillips berada di barisan terdepan dalam daftar kreditur. Keduanya mengeklaim Venezuela masih berutang miliaran dolar akibat pengambilalihan aset yang dilakukan sekitar dua dekade silam. Isu ini menjadi semakin relevan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendorong perusahaan-perusahaan AS untuk kembali meningkatkan produksi minyak di Venezuela, sebuah langkah yang diklaim sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali ekonomi negara tersebut.
Venezuela pernah menjadi surga minyak dunia. Negara ini tercatat memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di planet ini. Pada masa lalu, perusahaan-perusahaan energi Barat mengelola ladang-ladang minyak raksasa di sana. Namun, konflik berkepanjangan dengan pemerintah berhaluan kiri membuat satu per satu perusahaan asing angkat kaki. Sejak itu, korupsi, salah kelola, dan kelalaian perlahan menggerogoti industri minyak Venezuela, membuat produksinya anjlok drastis.
Perjuangan perusahaan minyak asing untuk mendapatkan kompensasi berlangsung hampir 20 tahun. Mereka dipaksa keluar dari Venezuela pada era Presiden Hugo Chávez, pendahulu Nicolás Maduro. Para eksekutif dan pakar energi menilai selama sengketa utang ini belum tuntas, hampir mustahil perusahaan-perusahaan tersebut mau kembali menanamkan modal. Padahal, mendorong investasi asing menjadi salah satu target utama Trump dalam skema pemulihan ekonomi Venezuela.
Pada pertengahan 2000-an, pemerintahan Chávez menuntut perusahaan minyak asing menerima porsi kepemilikan yang lebih kecil dalam proyek-proyek migas, tanpa kompensasi. Mayoritas perusahaan menolak dan memilih hengkang. Mereka meninggalkan industri minyak Venezuela dalam kondisi rapuh.
Trump secara terbuka menyatakan sikapnya. Ia menegaskan akan membela kepentingan perusahaan minyak Amerika, termasuk klaim mereka terhadap Venezuela. “Kami membangun industri minyak Venezuela dengan bakat, semangat, dan keahlian Amerika, lalu rezim sosialis mencurinya dari kami di pemerintahan sebelumnya, mereka mencurinya dengan paksaan,” kata Trump dilansir dari The New York Times, Kamis, 8 Januari 2026. Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat “tidak akan pernah membiarkan kekuatan asing merampok rakyat kami.”
Nilai klaim yang diajukan pun tidak main-main. ConocoPhillips menyebut total klaimnya mencapai USD12 miliar. Sementara Exxon Mobil, perusahaan minyak terbesar Amerika Serikat, menyatakan Venezuela berutang sekitar USD20 miliar. Di antara perusahaan AS, hanya Chevron yang memilih bertahan di Venezuela. Keputusan itu kini menempatkan Chevron dalam posisi unik, berpotensi meraup keuntungan jika pemerintah Trump benar-benar membuka kembali pintu investasi AS di negara tersebut.
Exxon Mobil, ConocoPhillips, dan perusahaan lainnya telah menempuh berbagai jalur hukum internasional. Gugatan arbitrase hingga perkara di pengadilan Amerika Serikat dijalani bertahun-tahun demi memaksa Venezuela membayar.
“Itu tindakan yang memberi stigma pada sebuah negara,” ujar Shon Hiatt, Direktur Zage Business of Energy Initiative di Marshall School of Business, University of Southern California. “Pada dasarnya itu memberi sinyal ke semua orang bahwa mereka tidak akan pernah kembali masuk ke negara tersebut.”
Perusahaan energi Eropa pun tak luput dari kisah ini. Perusahaan seperti Eni dari Italia, TotalEnergies dari Prancis, dan Repsol dari Spanyol juga pernah menanamkan miliaran dolar di Venezuela, meski skala operasinya lebih kecil dibanding Exxon Mobil dan ConocoPhillips. Menurut Hiatt, mereka turut terdampak oleh iklim investasi yang memburuk.
Meski banyak perusahaan mengakui peluang pembayaran utang itu kecil, mereka hampir pasti tidak akan melepas klaimnya begitu saja. ConocoPhillips, misalnya, berpeluang mendapatkan kembali sebagian kerugiannya melalui lelang Citgo, anak usaha perusahaan minyak negara Venezuela, Petróleos de Venezuela, yang berbasis di Amerika Serikat dan kini berada dalam proses pengadilan kebangkrutan AS.
ConocoPhillips menolak berkomentar lebih jauh selain apa yang sudah disampaikan dalam laporan resminya. Perusahaan itu sebelumnya memiliki investasi besar di proyek-proyek minyak di wilayah tengah dan timur Venezuela, termasuk di lepas pantai. Badan arbitrase internasional berulang kali memutuskan perkara berpihak pada Conoco, namun mengeksekusi putusan tersebut menjadi uang tunai terbukti sangat sulit.
Exxon Mobil, dalam dokumen regulator, menyebut telah berhasil mengumpulkan kompensasi sebesar USD908 juta dari proyek Cerro Negro di Venezuela timur, serta USD260 juta dari proyek La Ceiba di wilayah pelabuhan bagian tengah. Namun, klaim lain senilai USD1,4 miliar yang sempat dimenangkan melalui arbitrase dibatalkan oleh International Center for Settlement of Investment Disputes.
Exxon mengajukan klaim baru untuk memulihkan putusan itu, tetapi hingga kini sebagian besar klaimnya masih belum dibayar. Exxon Mobil tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Di sisi lain, Venezuela membantah banyak klaim tersebut dan menyatakan utang yang sebenarnya jauh lebih kecil, atau bahkan tidak ada sama sekali. Meski demikian, perusahaan minyak AS dan Eropa terus berkomunikasi dengan pemerintahan Trump untuk menentukan langkah berikutnya. Tantangannya tidak kecil. Penangkapan Nicolás Maduro justru menciptakan ketidakstabilan politik baru yang membuat investasi semakin berisiko.
Pejabat pemerintahan Trump, kemarin, pemerintah AS akan mengambil alih kendali penjualan minyak Venezuela tanpa batas waktu, melalui kesepakatan yang sedang dinegosiasikan. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kepada C-SPAN bahwa dana hasil penjualan minyak akan digunakan untuk “menstabilkan ekonomi Venezuela.” Baru setelah itu, pendapatan tersebut akan dipakai untuk membayar klaim perusahaan minyak Amerika.
Namun pasar belum sepenuhnya yakin. Sepanjang pekan ini, saham Exxon Mobil dan Chevron turun lebih dari 5 persen, sementara harga saham ConocoPhillips terkoreksi lebih dari 7 persen. Keraguan investor ini mencerminkan besarnya tantangan yang dihadapi.
Bahkan sebelum penangkapan Maduro, biaya untuk memulihkan produksi minyak Venezuela sudah diperkirakan sangat mahal. Inter-American Development Bank pada 2020 memperkirakan dibutuhkan dana sekitar USD10 miliar per tahun selama satu dekade untuk mengembalikan produksi minyak negara tersebut.
Sementara itu, Center for Energy Studies di Baker Institute for Public Policy, Rice University, mencatat produksi minyak Venezuela mencapai puncaknya pada 1998 di level 3,4 juta barel per hari. Angka itu merosot tajam menjadi sekitar 1,3 juta barel per hari pada 2018. Dalam laporan tahun 2020, lembaga tersebut menegaskan kegagalan menarik investasi ke sektor migas menjadi “salah satu pendorong utama bencana ekonomi yang dihadapi negara tersebut.”
Di tengah semua itu, sengketa lama antara Venezuela dan perusahaan minyak asing tetap menggantung. Utang yang belum dibayar, ketidakpastian politik, dan biaya pemulihan yang sangat besar membuat masa depan industri minyak Venezuela masih jauh dari kata pasti.
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.