KABARBURSA.COM – Wall Street menutup pekan dengan reli tajam, seakan memulihkan napas setelah dua hari terakhir dihantam aksi jual besar-besaran.
Pada perdagangan Jumat waktu setempat, 21 November 2025, terjadi lonjakan hampir 500 poin pada Dow Jones. Ini bukan sekadar pantulan teknikal, tetapi respons spontan terhadap perubahan nada kebijakan moneter dari The Federal Reserve.
Pernyataan Presiden The Fed New York John Williams di Santiago, Chile, menjadi katalis yang mengubah lanskap sentimen dalam hitungan jam. Williams menyebut, kebijakan moneter saat ini masih “sedikit restriktif” dan memberi sinyal bahwa pemangkasan suku bunga tambahan berpeluang besar dilakukan dalam waktu dekat.
Pasar pun langsung bereaksi. Ekspektasi pemangkasan 25 basis poin pada pertemuan Desember melonjak ke atas 70 persen, jauh lebih tinggi dari posisi sehari sebelumnya yang masih di bawah 40 persen.
Repricing ekspektasi suku bunga itulah yang mendorong Dow Jones menanjak 1,08 persen ke 46.245,41. Diikuti oleh S&P 500 yang menguat hampir 1 persen menjadi 6.602,99. Sementara Nasdaq naik 0,88 persen ke 22.273,08.
Saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga rendah seperti Home Depot, Starbucks, dan McDonald’s memimpin rebound. Ini seolah mencerminkan keyakinan bahwa kebijakan moneter longgar dapat mendongkrak belanja konsumen dan menopang valuasi saham-saham growth.
Kejutan dari Laporan Nvidia
Namun reli ini tidak berdiri di ruang hampa, namun muncul sehari setelah pasar mengalami pembalikan ekstrim. Pada Kamis, euforia laporan kinerja Nvidia yang luar biasa sempat mengangkat Dow Jones lebih dari 700 poin.
Tetapi lonjakan itu runtuh tiba-tiba ketika saham Nvidia berbalik anjlok lebih dari 3 persen. Koreksi tajam pada saham chip tersebut memicu penjualan lanjutan di sejumlah saham teknologi dan menyeret indeks-indeks utama ke zona merah.
Konteks itu penting, karena meski Wall Street berhasil memulihkan diri pada sesi terakhir, performa mingguan tetap buruk. S&P 500 tertekan sekitar 2 persen, Dow Jones turun 2 persen, dan Nasdaq mencatat pelemahan paling dalam, mendekati 2,7 persen.
CEO Infrastructure Capital Advisors Jay Hatfield menyebut kondisi ini sebagai “koreksi valuasi musiman pasca laporan kinerja”. Ia juga menegaskan bahwa “bagian pasar yang bubble sedang dihantam habis-habisan”.
Komentar ini menggambarkan bahwa pasar sebenarnya sudah berada dalam fase pengujian fundamental setelah reli panjang yang ditopang optimisme AI dan ekspektasi pemangkasan suku bunga agresif.
Bitcoin Anjlok Lebih dari Dua Persen
Tekanan juga terasa di luar pasar saham. Bitcoin merosot lebih dari 2 persen pada Jumat dan memperpanjang pelemahan mingguan hingga mendekati 11 persen. Kripto terbesar dunia itu kini berada di posisi terendah sejak April.
Penurunan ini mencerminkan anjloknya minat investor terhadap aset berisiko menjelang rilis data tenaga kerja AS berikutnya. Data tersebut yang oleh pelaku pasar disebut sebagai penentu utama langkah The Fed selanjutnya.
Dengan lanskap seperti ini, pertanyaan yang kini menggantung di pasar bukan lagi seberapa besar pemangkasan suku bunga akan dilakukan, tetapi di mana titik bottom bagi aset berisiko. Rebound hari Jumat memberi sinyal bahwa pasar masih responsif terhadap pesan dovish. Akan tetapi, volatilitas yang meningkat dan tekanan mingguan menunjukkan bahwa investor belum sepenuhnya yakin pada arah jangka pendek.
Dalam konteks performa Wall Street, data ini menunjukkan bahwa reli masih sangat rentan terhadap perubahan sentimen dan sensitif terhadap setiap detail sinyal kebijakan moneter. Sementara aset kripto menandai meningkatnya preferensi pasar atas likuiditas dan aset safe haven.
Minggu depan, pasar kemungkinan memasuki fase menunggu, menakar apakah data tenaga kerja mampu memvalidasi ruang pemangkasan suku bunga yang kini kembali terbuka.(*)