KABARBURSA.COM - David Griffiths, chief technology officer (CTO) Citigroup, mengemukakan bahwa teknologi kecerdasan buatan (AI) generatif menjadi pendorong utama dalam revolusi industri perbankan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa perkembangan ini tidak langsung mengancam banyak profesi, melainkan memunculkan kebutuhan baru akan ahli AI dan manajer AI.
Menurut Griffiths, adopsi kecerdasan buatan akan menguatkan profitabilitas perusahaan di sektor perbankan, yang memiliki potensi besar dalam otomatisasi pekerjaan dibandingkan dengan sektor lainnya. Sebelumnya, Citi Global Perspectives and Solutions (Citi GPS) telah mengidentifikasi 10 peran atau profesi yang berpotensi diotomasi atau digantikan oleh AI.
"Citi berkomitmen untuk menerapkan AI dengan cara yang aman dan bertanggung jawab guna mendukung kekuatan internal dan karyawan kami," kata Griffiths.
Meski demikian, Citigroup meyakini bahwa penggunaan AI tidak akan mengakibatkan penurunan jumlah karyawan, melainkan membuka peluang untuk merekrut manajer AI dan AI Compliance Officer di masa depan. Tugas mereka akan memastikan bahwa pemanfaatan teknologi AI sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Sejarah menunjukkan bahwa meskipun teknologi seperti mesin ATM diperkenalkan, jumlah teller manusia di bank justru mengalami peningkatan hingga pertengahan tahun 2000-an. AI diproyeksikan akan memberikan manfaat signifikan bagi sektor fintech dan perbankan dalam pelayanan dan dukungan pelanggan. Revolut Ltd adalah salah satu contoh, menggunakan AI untuk menangani lebih dari 30 persen dari seluruh interaksi pelanggan mereka.
Francesca Carlesi, pemimpin bisnis Revolut di Inggris, menyatakan optimisme bahwa dalam beberapa tahun ke depan, interaksi pelanggan bisa mencapai 80 persen, dikelola secara efisien melalui generasi AI.
Perusahaan seperti Bunq di Amsterdam dan Klarna di Stockholm telah berhasil menerapkan teknologi AI, mengurangi biaya operasional dan meningkatkan layanan kepada pengguna mereka. Meskipun demikian, chatbot berbasis AI masih menghadapi beberapa kendala dalam memahami bahasa informal atau pertanyaan yang ambigu.
Mengutip laporan Bloomberg News mengindikasikan bahwa AI berpotensi menggantikan lebih banyak pekerjaan di industri perbankan. Citigroup telah memberdayakan 40.000 developer untuk bereksperimen dengan teknologi AI guna memperluas penerapannya.
Namun demikian, CEO United Parcel Service Inc (UPS), Carol Tomé, menegaskan bahwa keputusan PHK di UPS tidak semata-mata disebabkan oleh AI. UPS tetap berkomitmen untuk menunjukkan bagaimana teknologi AI dapat meningkatkan efisiensi operasional, tanpa mengaitkan secara langsung dengan pengurangan jumlah karyawan.
Penting untuk memahami bahwa implementasi teknologi AI memerlukan kebijakan yang hati-hati agar tidak berdampak negatif pada karyawan maupun reputasi perusahaan secara keseluruhan.
Dalam konteks hubungan antara teknologi AI dan dampak PHK di beberapa perusahaan, terdapat beberapa catatan penting yang perlu diperhatikan. Meskipun AI diharapkan membawa efisiensi dan kemajuan dalam berbagai industri, termasuk perbankan dan logistik seperti yang dijelaskan oleh Citigroup dan UPS, dampaknya terhadap lapangan kerja tidak selalu bersifat negatif.
Citigroup menggarisbawahi bahwa meskipun AI mungkin menggantikan beberapa peran tertentu, seperti yang terlihat dalam penelitian Citi GPS tentang otomatisasi profesi, hal ini tidak secara langsung mengarah pada pengurangan jumlah karyawan. Sebaliknya, terbuka peluang untuk pengembangan karir dalam bidang AI, seperti manajer AI dan pengawas kepatuhan AI, yang penting untuk memastikan bahwa teknologi diterapkan dengan benar sesuai dengan aturan dan regulasi yang berlaku.
Di sisi lain, Revolut Ltd dan perusahaan fintech lainnya menunjukkan bagaimana AI dapat meningkatkan interaksi dengan pelanggan secara signifikan, mengurangi biaya operasional, dan meningkatkan efisiensi layanan. Namun, tantangan yang dihadapi oleh teknologi AI, seperti keterbatasan chatbot dalam memahami bahasa non formal atau ambigu, menunjukkan bahwa masih diperlukan pengembangan lebih lanjut dalam mengintegrasikan teknologi ini dengan kebutuhan nyata pengguna.
Klaim bahwa AI dapat menggantikan lebih banyak pekerjaan di industri perbankan menyoroti potensi transformasi besar-besaran dalam cara kerja di masa depan. Namun, penting untuk mempertimbangkan bahwa implementasi AI harus dilakukan dengan pertimbangan matang terhadap dampak sosial dan ekonomi yang mungkin terjadi.
Secara keseluruhan, perdebatan tentang hubungan antara teknologi AI dan PHK membutuhkan pendekatan yang seimbang antara inovasi teknologi dan keberlanjutan tenaga kerja. Perusahaan-perusahaan seperti UPS, meskipun menghadapi tantangan dalam mengadaptasi teknologi AI, juga menunjukkan komitmen mereka untuk menjaga keseimbangan ini, tidak hanya dalam pertemuan manajemen tetapi juga dalam komunikasi mereka dengan para pemangku kepentingan. (*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.