KABARBURSA.COM – Penguatan Harga Patokan Ekspor (HPE) konsentrat tembaga sepanjang 2025 menjadi fondasi utama pergerakan sektor tambang tembaga di pasar modal.
Namun, meski HPE konsentrat tembaga mencatat tren naik yang konsisten sejak Agustus hingga paruh kedua Desember 2025, harga saham emiten tembaga di Bursa Efek Indonesia justru menunjukkan arah yang tidak seragam.
Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) merespons kenaikan HPE dengan dinamika yang berbeda, mencerminkan perbedaan struktur bisnis dan ekspektasi pasar.
Secara kronologis, berdasarkan data Kementerian Perdagangan penguatan HPE konsentrat tembaga dimulai pada periode kedua Agustus 2025. Untuk periode 15–31 Agustus 2025, HPE rata-rata konsentrat tembaga dengan kadar Cu ≥ 15 persen ditetapkan sebesar USD 4.658,55 per Wet Metrik Ton.
Angka tersebut naik tipis 0,10 persen dibandingkan periode pertama Agustus 2025. Kenaikan ini dipicu meningkatnya permintaan global serta naiknya harga mineral ikutan seperti emas dan perak.
Tren tersebut berlanjut pada periode kedua September 2025. Untuk periode 15–30 September 2025, HPE konsentrat tembaga naik menjadi USD 4.745,52 per Wet Metrik Ton, meningkat 2,29 persen dibandingkan periode pertama September 2025 yang sebesar USD 4.639,10 per Wet Metrik Ton.
Pada fase ini, permintaan dari industri energi terbarukan, kendaraan listrik, dan manufaktur elektronik mulai menjadi katalis utama, diperkuat oleh pasokan global yang terbatas akibat gangguan produksi tambang.
Lonjakan paling signifikan terjadi pada paruh pertama November 2025. Untuk periode 5–14 November 2025, HPE konsentrat tembaga rata-rata melonjak ke level USD 5.462,14 per Wet Metrik Ton, atau naik 15,10 persen dibandingkan paruh kedua September 2025. Kenaikan tajam ini sejalan dengan reli harga logam global, di mana harga tembaga naik 9,45 persen, emas melonjak 18,86 persen, dan perak meroket 27,81 persen. Pergeseran investor ke aset lindung nilai turut memperkuat harga logam.
Memasuki Desember 2025, tren kenaikan HPE tetap terjaga. Pada periode 1–14 Desember 2025, HPE konsentrat tembaga ditetapkan sebesar USD 5.462,63 per Wet Metrik Ton, naik 0,55 persen dibandingkan paruh kedua November 2025. Penguatan ini berlanjut pada periode 15–31 Desember 2025, dengan HPE kembali naik menjadi USD 5.613,83 per Wet Metrik Ton atau meningkat 2,77 persen.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Tommy Andana menyebut kenaikan tersebut didorong permintaan global yang kuat. “Permintaan terutama berasal dari sektor industri listrik, perkembangan kendaraan listrik, dan pembangunan infrastruktur,” ujarnya dikutip Ahad, 21 Desember 2025.
Secara fundamental, kenaikan HPE konsentrat tembaga mencerminkan membaiknya prospek industri tembaga. Namun, transmisi kenaikan HPE ke harga saham emiten tidak berlangsung seragam. Saham MDKA dalam satu tahun terakhir tercatat naik 24,43 persen ke level 2.190. Kinerja ini relatif sejalan dengan tren HPE yang meningkat bertahap. Sebagai emiten yang telah berproduksi dan memiliki diversifikasi komoditas antara tembaga dan emas, MDKA dipersepsikan pasar sebagai emiten tembaga dengan profil risiko yang lebih moderat, sehingga kenaikan harga sahamnya mengikuti fundamental secara bertahap.
Di sisi lain, saham AMMN justru melemah 28,53 persen secara tahunan ke level 6.325, meskipun HPE konsentrat tembaga berada pada level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Pelemahan ini menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya menerjemahkan kenaikan HPE menjadi valuasi saham. Investor masih mencermati faktor internal seperti kebutuhan belanja modal besar, fase ekspansi tambang, serta sensitivitas kinerja keuangan terhadap fluktuasi harga komoditas.
Berbeda dengan dua emiten tersebut, BRMS mencatatkan lonjakan paling agresif. Saham BRMS melonjak 200,53 persen dalam satu tahun terakhir ke level 1.130. Kenaikan tajam ini mencerminkan tingginya sensitivitas saham BRMS terhadap sentimen kenaikan harga logam, termasuk tembaga, serta meningkatnya selera risiko investor terhadap saham tambang berkapitalisasi menengah. Dalam konteks ini, kenaikan HPE konsentrat tembaga menjadi katalis psikologis yang memperkuat ekspektasi pertumbuhan jangka menengah.
Perbedaan respons ketiga saham tersebut menegaskan bahwa kenaikan HPE konsentrat tembaga memang memperbaiki prospek sektor secara makro, tetapi dampaknya ke harga saham sangat ditentukan oleh struktur biaya, tahap produksi, dan strategi bisnis masing-masing emiten. Melalui HPE konsentrat tembaga yang kini berada di atas USD 5.600 per Wet Metrik Ton, pasar menilai sektor tembaga tetap memiliki prospek positif, meski investor akan semakin selektif dalam menilai emiten yang benar-benar mampu mengonversi kenaikan harga komoditas menjadi kinerja keuangan dan nilai bagi pemegang saham.(*)