KABARBURSA.COM – Kebijakan pemangkasan batu bara yang dilakukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang mencapai kisaran 40 hingga 70 persen, dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 sejumlah emiten baru bara, menandai fase baru dalam pendekatan pemerintah terhadap pengelolaan sektor batu bara nasional.
Namun, kebijakan ini mendapat kritik dari Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI-ICMA). Asosisasi berpendapat, pemangkasan kali ini terlalu agresif. Angka produksi yang disetujui Kementerian ESDM lebih rendah dibandingkan realisasi produksi 2025 dan jauh di bawah persetujuan RKAB tiga tahunan serta usulan RKAB tahunan 2026, yang sebagian perusahaan telah ajukan hingga tahap evaluasi lanjutan.
Apalagi sistem Minerba One Data Indonesia (MODI) yang kini menjadi rujukan utama penetapan angka produksi. Sistem ini secara praktis memaksa perusahaan menyesuaikan ulang seluruh perencanaan operasional, bahkan bagi perusahaan yang sebelumnya telah melewati beberapa tahan evaluasi RKAB.
Di sini, APBI melihat adanya ketidaksinkronan antara tujuan kebijakan dengan realitas struktur biaya produksi. Sebab, produksi yang terpangkan membuat beban tetap perusahaan tidak tertutup. Sebut saja mulai dari biaya operasional dasar, kewajiban lingkungan, hingga aspek keselamatan dan kesehatan kerja.
Belum lagi terkait dengan kewajiban finansial jangka menengah hingga panjang kepada perbankan dan Lembaga pembiayaan alat berat. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko gagal bayar secara sistemik, terutama jika diterapkan secara luas pada banyak perusahaan.
Potensi Kehilangan Pekerjaan
Hal lain yang menjadi perhatian APBI adalah soal aspek ketenagakerjaan. Dengan produksi yang lebih rendah, opsi penundaan hingga penghentian sebagian kegiatan operasional menjadi risiko nyata. Rantai dampak ini berpotensi menekan aktivitas ekonomi lokal dan keberlanjutan program sosial yang selama ini dijalankan oleh pelaku usaha.
Untuk itu, APBI meminta agar penetapan angka produksi 2026 ini ditinjau kembali agar kebijakan tidak hanya menata produksi namun juga mempertimbangkan kesinambungan usaha dan stabilisasi sosial ekonomi.
INCO Semakin Mati Kutu?
Berbicara tentang pemangkasan produksi, PT Vale Indonesia (INCO) hanya mendapatkan 30 persen izin eksplorasi pertambangan. Izin ini sudah tentu akan menggerus pendapatan INCO di sepanjang 2026. Karena, ada sebagian proyeksi yang terancam tidak bisa dikerjakan lantaran pemangkasan produksi tersebut.
Jika melihat kinerja keuangan INCO hingga periode September 2025, memang tidak ada tekanan berarti. Justru, pendapatan tumbuh 21,25 persen secara tahunan, dan tercatat sebesar USD278,65 juta. EBITDA pun melonjak 51,61 persen menjadi USD73,15 juta.
Dengan begitu, laba bersih perusahaan tercatat USD27,20 juta, meningkat 96,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan margin laba bersih naik signifikan menjadi 9,76 persen.
Beban operasional pun terkendali, tercatat turun 10,94 persen secara tahunan menjadi USD11,32 juta. Sedangkand ari sisi neraca, INCO memiliki total aset sebesar USD3,24 miliar, naik 4,24 persen secara tahunan. Total liabilitasnya meningkat 26,47 persen dan berada di USD491,18 juta. Sementara ekuitas tercatat USD2,75 miliar.
Posisi kas dan setara kas serta investasi jangka pendek tercatat USD496,34 juta, meski turun 35,64 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan kas ini sejalan dengan aktivitas investasi yang relatif agresif, yang tercermin dari arus kas investasi yang negatif sebesar USD106,69 juta.
Arus kas operasional justru menunjukkan penguatan signifikan. Kas dari aktivitas operasi mencapai USD95,36 juta, melonjak 458,15 persen secara tahunan. Free cash flow tercatat USD24,97 juta, meningkat 156 persen, mencerminkan bahwa meskipun kas menurun secara bersih sebesar USD10,37 juta, kemampuan menghasilkan kas dari operasi inti tetap solid.
Harga Saham Ambruk
Namun, jika melihat dari pergerakan harga sahamnya, begitu miris. Pada perdagangan sesi pertama Senin, 2 Februari 2026, tekanan jual sangat kuat. Saham INCO dibuka di level 6.300 dan langsung bergerak turun tajam, sebelum akhirnya berada di posisi 5.650 pada pukul 11.59 WIB.
Koreksi harian mencapai 800 poin atau setara 12,40 persen dari penutupan sebelumnya di 6.450. Sepanjang sesi berjalan, harga sempat menyentuh level terendah 5.500, namun saying tidak pernah kembali mendekati harga pembukaan.
Pola pergerakan ini memperlihatkan distribusi yang terjadi sejak sesi pagi, dengan rentang harga yang relatif sempit di kisaran bawah setelah penurunan awal. Artinya, pelemahan bukan bersifat fluktuatif, melainkan cenderung terjaga di area rendah.
Dari sisi valuasi, dengan harga di 5.650 dan kapitalisasi pasar sekitar Rp59,55 triliun, saham INCO diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba sekitar 59,30 kali, mencerminkan bahwa pasar masih menempatkan ekspektasi jangka panjang di atas kinerja jangka pendek yang sedang ditekan sentimen.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.