KABARBURSA.COM – Momentum rebalancing indeks global, khususnya MSCI, dinilai dapat menjadi jalur strategis untuk menarik arus modal asing sekaligus membantu menstabilkan nilai tukar rupiah dengan biaya moneter yang relatif rendah.
Mekanisme arus dana berbasis indeks dinilai lebih efisien dibandingkan intervensi langsung menggunakan cadangan devisa di tengah tekanan eksternal terhadap rupiah.
Senior Macro Strategist PT Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menyampaikan bahwa pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencetak rekor tertinggi tidak terlepas dari ekspektasi pasar terhadap masuknya dana asing melalui mekanisme rebalancing indeks MSCI.
Mekanisme tersebut bekerja secara otomatis melalui algoritma investor global yang menyesuaikan portofolio mengikuti perubahan komposisi indeks. Perubahan bobot saham Indonesia dalam indeks global menjadi pemicu utama aliran dana tersebut.
“Kita bicara mengenai potensi return on equity emiten ini bergerak. Salah satunya karena mau masuk MSCI, ini MSCI rebalancing,” ujar Fithra, dikutip Senin, 26 Januari 2026.
Menurut Fithra, ketika saham Indonesia masuk atau bobotnya meningkat dalam indeks MSCI, arus dana asing dapat masuk dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat. Dalam satu hari perdagangan, nilai aliran dana bahkan dapat mencapai sekitar USD2 miliar.
“Kalau sudah masuk MSCI, biasanya hari itu saja USD2 miliar masuk,” katanya.
Ia menilai arus modal tersebut memberikan manfaat ganda bagi perekonomian. Selain mendukung penguatan pasar saham, dana asing yang masuk juga berpotensi menahan volatilitas rupiah tanpa harus mengandalkan pelepasan cadangan devisa secara besar-besaran.
“Artinya ongkos moneter enggak usah banyak-banyak, enggak usah foreign exchange reserve keluar banyak-banyak, rupiah kita bisa lebih stabil,” ujarnya.
Fithra menjelaskan, stabilisasi nilai tukar melalui arus modal portofolio berbasis indeks dinilai lebih efisien karena tidak membutuhkan intervensi langsung bank sentral dalam skala besar. Dalam skema ini, stabilitas rupiah tercapai melalui mekanisme pasar yang digerakkan oleh investor global.
Namun, ia menekankan pentingnya dukungan kebijakan dari regulator pasar modal agar peluang tersebut tidak terhambat. Menurutnya, stabilitas perdagangan saham perlu dijaga selama periode peninjauan indeks global berlangsung.
“Kalau ada regulator, kalau bisa itu difasilitasi. Jangan ditahan-tahan. Dalam periode review jangan ada yang mati, disuspensi jangan dulu,” katanya.
Ia menambahkan bahwa selama masa review indeks, transaksi saham Indonesia sebagian besar digerakkan oleh algoritma investor asing yang sangat sensitif terhadap perubahan komposisi indeks. Gangguan perdagangan, termasuk suspensi saham, dinilai berpotensi menghambat masuknya dana asing.
“Karena yang bekerja di sini algoritma-algoritma asing. Itu masuk karena ada yang naik,” ujarnya.
Selain MSCI, indeks global lain seperti FTSE juga dinilai memberikan peluang serupa. Fithra mencatat terdapat beberapa periode rebalancing indeks global dalam satu tahun yang dapat dimanfaatkan untuk menarik arus dana asing secara berulang.
“Dalam setahun ada empat window MSCI, belum lagi FTSE. Itu keuntungan ekonominya banyak,” katanya.
Arus dana asing berbasis indeks ini dinilai semakin relevan di tengah tekanan terhadap rupiah yang dipicu oleh sentimen global dan kekhawatiran investor terhadap pasar obligasi domestik. Meski defisit fiskal Indonesia masih dijaga di bawah 3 persen, dinamika di pasar obligasi tetap memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Dalam konteks tersebut, optimalisasi momentum indeks global dipandang sebagai salah satu cara untuk memoderasi pergerakan rupiah yang masih berfluktuasi.
“Bisa kemudian memoderasi pergerakan rupiah yang liar,” ujar Fithra.
Ia menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar tidak hanya ditentukan oleh kebijakan moneter dan fiskal, tetapi juga oleh kemampuan pasar modal dalam menarik arus dana asing secara berkelanjutan, seiring terjaganya prospek pertumbuhan ekonomi dan kinerja emiten domestik. (*)