KABARBURSA.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan subsidi LPG tidak akan naik hingga akhir tahun 2026, meski harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) menembus level USD100 per barel. Kepastian ini ditegaskan pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah fluktuasi harga energi global.
Bahlil mengatakan kebijakan mempertahankan harga subsidi energi merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, pemerintah akan tetap menjaga harga BBM dan LPG subsidi bagi masyarakat yang membutuhkan, sementara harga BBM nonsubsidi tetap mengikuti mekanisme pasar.
“Untuk BBM insyaallah tidak akan ada kenaikan untuk subsidi BBM termasuk LPG itu kita jaga dan itu perintah dari Presiden Prabowo.Tetapi kalau BBM non subsidi untuk orang yang mampu, ya mohon maaf, itu ikut hukum pasar untuk orang yang mampu. Yang bisa kita jaga ini untuk saudara-saudara kita yang memang butuh uluran tangan pemerintah, tapi kalau yang sudah bisa mandiri ya sudahlah,” ujar Bahlil dalam keterangannya, dikutip Senin 4 Mei 2026.
Ia kembali menegaskan, pemerintah telah memutuskan tidak akan menaikkan subsidi harga energi hingga penghujung tahun, bahkan jika ICP menyentuh USD100 per barel.
“Sampai 31 Desember, meski harga ICP 100 dolar AS, insyaallah harga BBM dan LPG subsidi tidak akan naik,” tegasnya.
Pernyataan itu disampaikan di tengah penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang kembali dilakukan PT Pertamina (Persero). Mulai 4 Mei 2026, Pertamina menaikkan harga sejumlah produk BBM nonsubsidi di beberapa wilayah, terutama pada segmen solar dan bahan bakar beroktan tinggi.
Mengacu pada laman resmi perusahaan, penyesuaian harga tersebut dilakukan sebagai respons terhadap dinamika harga energi global dan kebijakan domestik yang terus berkembang. Kenaikan harga paling mencolok terjadi pada produk Pertamax Turbo dan lini Dex Series.
Di wilayah Jabodetabek, harga Pertamax Turbo (RON 98) naik menjadi Rp19.900 per liter, dari sebelumnya Rp19.400 per liter pada April 2026. Sementara itu, Dexlite (CN 51) kini dijual seharga Rp26.000 per liter, melonjak dari Rp23.600 per liter pada bulan sebelumnya.
Kenaikan juga terjadi pada Pertamina Dex (CN 53), yang kini dibanderol Rp27.900 per liter, naik dari Rp23.900 per liter pada bulan April. Lonjakan pada dua produk solar nonsubsidi ini menunjukkan tekanan biaya yang semakin besar di tengah pergerakan harga energi internasional.
Di sisi lain, Pertamina memilih mempertahankan harga Pertamax (RON 92) di level Rp12.300 per liter. Harga Pertamax Green (RON 95) juga tetap di Rp12.900 per liter, tidak berubah sejak Maret 2026.
Sementara untuk pengugasan dan subsidi BBM, pemerintah memastikan belum ada perubahan harga. Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar bertahan di level Rp6.800 per liter.
Stabilitas harga ini dinilai penting untuk menjaga akses masyarakat terhadap energi di tengah kenaikan produk nonsubsidi.
Dengan kebijakan tersebut, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan perlindungan sosial dan penyesuaian pasar.
Subsidi BBM dan subsidi LPG tetap dipertahankan sebagai bantalan bagi masyarakat rentan, sementara produk nonsubsidi diarahkan mengikuti perkembangan harga global.
Di tengah sorotan energi dunia, jaminan tidak naiknya harga subsidi BBM dan LPG hingga akhir tahun menjadi sinyal bahwa pemerintah masih menempatkan stabilitas harga energi sebagai instrumen penting untuk melindungi daya beli masyarakat dan menjaga kestabilan ekonomi domestik.(*)