KABARBURSA.COM - PT Bank Central Asia Tbk atau BCA (BBCA) mengumumkan rencana pembelian kembali (buyback) saham. Manajemen menyampaikan jumlah nilai buyback sebesar-sebesarnya Rp5 triliun yang sudah termasuk biaya perantara pedagang efek dan biaya lain yang berkaitan dengan buyback.
Manajemen BCA menyampaikan, jumlah saham yang dibeli kembali oleh Perseroan tidak akan melebihi 10 persen dari modal disetor Perseroan.
"Dan jumlah saham yang beredar (free float) setelah pelaksanaan Buyback tidak akan menjadi kurang dari 7,5 persen dari jumlah saham tercatat," tulis manajemen BCA.
Disebutkan, pelaksanaan buyback tidak akan mengakibatkan penurunan modal di bawah batas minimum sebagaimana dipersyaratkan dalam POJK No. 11/2016. Pelaksanaan Buyback ini tidak memiliki dampak material bagi kinerja keuangan dan kegiatan usaha Perseroan.
Adapun, maksud dari aksi buyback saham ini bertujuan untuk mendukung stabilitas pasar modal Indonesia pada tahun 2026, meningkatkan kepercayaan investor, serta memberikan tingkat pengembalian yang lebih optimal bagi para pemegang saham.
"Buyback akan dilakukan pada harga yang dianggap baik dan wajar oleh Perseroan dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku," tuilis manajemen BCA.
Berikut Perkiraan Jadwal dan Pembatasan Jangka Waktu:
- Pengumuman Rapat Umum Pemegang Saham
Tahunan (RUPST) sehubungan dengan rencana pelaksanaan buyback: 28 Januari 2026
- Pengumuman Keterbukaan Informasi mengenai rencana pelaksanaan buyback: 28 Januari 2026
- Tanggal persetujuan RUPST mengenai pelaksanaan Buyback: 12 Maret 2026
- Periode pelaksanaan buyback: 12 bulan sejak disetujuinya rencana buyback oleh RUPST, kecuali diakhiri lebih cepat oleh Perseroan dengan
memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Catat Pertumbuhan Kredit 7,7 Persen Per Desember 2025
BCA dan entitas anak mencatat pertumbuhan total kredit 7,7 persen secara tahunan (YoY) menjadi Rp993 triliun per Desember 2025. Secara rata-rata, pertumbuhan kredit BCA mencapai 10,8 persen sepanjang 2025.
Penyaluran kredit BCA terdistribusi ke berbagai sektor, di antaranya manufaktur, perdagangan, restoran, hotel dan rumah tangga. Hal ini selaras dengan komitmen perseroan mendukung pertumbuhan perekonomian Indonesia. Di sisi pendanaan, dana giro dan tabungan (CASA) naik 13,1 persen YoY hingga Rp1.045 triliun.
Kredit usaha yang disalurkan BCA tumbuh 9,9 persen YoY mencapai Rp756,5 triliun per Desember 2025. Pembiayaan konsumer terjaga sebesar Rp224,1 triliun, didukung KPR hingga Rp142,3 triliun, dan kredit kendaraan bermotor (KKB) sebesar Rp56,6 triliun.
BCA juga mendukung penyaluran KPR subsidi atau FLPP swasta sejak Oktober 2025. Outstanding pinjaman konsumer lain (mayoritas kartu kredit) tumbuh 9,8 persen YoY menjadi Rp25,2 triliun.
Kualitas kredit BCA terjaga, tercermin dari rasio loan at risk (LAR) yang membaik ke 4,8 persen dibandingkan 5,3 persen pada tahun sebelumnya. Rasio kredit bermasalah (NPL) terkendali di 1,7 persen dan pencadangan NPL serta LAR memadai, masing-masing sebesar 183,8 persen dan 71,6 persen. (*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.