KABARBURSA.COM - Bursa Efek Indonesia (BEI) menekankan pentingnya peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah guna memperluas partisipasi masyarakat dalam investasi berbasis syariah.
Hal ini disampaikan oleh Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, dalam acara Muzaki dan Investor Gathering 2025 yang bertajuk Zakat dan Investasi : Pilar Kesejahteraan Umat yang diselenggarakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan PT Henan Putihrai Sekuritas pada Senin, 17 Maret 2025.
Dalam sambutannya Jeffrey menyoroti pertumbuhan pesat ekosistem investasi syariah di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Hingga 14 Maret 2025, terdapat 666 saham syariah yang tercatat di BEI, atau sekitar 70 persen dari total saham yang diperdagangkan. Selain itu, pasar modal syariah juga mencatat 246 reksa dana syariah, 2 exchange traded fund atau ETF syariah, serta 1 EBA syariah berbentuk surat partisipasi atau EBAS SP.
Sementara itu, sukuk korporasi mencapai 245 penerbitan, sedangkan sukuk negara mencapai 90 penerbitan.
“Dari sisi transaksi, hingga 14 Maret tahun ini, rata-rata harian volume transaksi saham yang masuk dalam indeks saham syariah Indonesia mencapai 56,5 persen dari total volume transaksi di Bursa Efek Indonesia. Sementara itu, nilai transaksinya berkontribusi sebesar 51,5 persen dan frekuensinya mencapai 73,2 persen dari total transaksi di bursa,” kata Jeffrey di Main Hall BEI, Jakarta pada Senin, 17 Maret 2025.
Lebih lanjut, Jeffrey menyoroti bahwa kapitalisasi pasar saham syariah mencapai 57,7 persen dari total kapitalisasi pasar BEI, atau setara dengan Rp6.500 triliun.
Meski demikian, tantangan masih dihadapi dalam meningkatkan tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah di Indonesia.
Ia memaparkan berdasarkan survei nasional literasi dan inklusi keuangan 2024, indeks literasi pasar modal syariah masih berada di angka 5,48 persen, sedangkan indeks inklusinya baru mencapai 0,37 persen.
“Kami memiliki 246 juta penduduk muslim di Indonesia, namun jumlah investor syariah kita baru mencapai 166 ribu. Ini menjadi tantangan sekaligus penyemangat bagi kita untuk terus menumbuhkan literasi dan inklusi pasar modal syariah agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas,” kata Jeffrey.
Jeffrey menegaskan bahwa mekanisme investasi syariah seperti zakat saham, wakaf produktif, dan investasi berbasis Environmental, Social, dan Governance (ESG) dapat menciptakan ekosistem investasi yang tidak hanya menguntungkan secara finansial tetapi juga berdampak sosial. Oleh karena itu, BEI berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan pasar modal syariah yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
“Sinergi antara pasar modal dan filantropi Islam harus semakin diperkuat melalui berbagai program edukasi, inovasi produk, serta kemitraan strategis. Kami berharap acara ini dapat memberikan wawasan bermanfaat dalam membangun kolaborasi dan meningkatkan investasi di pasar modal syariah,” kata dia.
Tingkat Literasi Ekonomi
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa tingkat literasi ekonomi syariah di Indonesia masih berada pada angka 65 persen.
Plt. Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK, M. Ismail Riyadi mengatakan, meski sektor keuangan syariah terus berkembang, masih banyak masyarakat yang belum memahami secara menyeluruh konsep serta manfaat dari produk-produk keuangan berbasis syariah.
Menurut Ismail, tren digitalisasi membawa perubahan signifikan dalam pola konsumsi dan investasi masyarakat, terutama di kalangan anak muda.
“Anak muda saat ini sangat melek teknologi, kreatif, dan cepat beradaptasi. Namun, ada fenomena seperti YOLO (You Only Live Once), FOMO (Fear of Missing Out), dan FOPO (Fear of Other People’s Opinion) yang membuat mereka cenderung mengambil keputusan finansial tanpa pertimbangan matang,” ujar Ismail dalam acara Nyantri Saham Bareng Kabar Bursa, Sabtu 15 Maret 2025.
Ia menggambarkan bagaimana fenomena ini berpengaruh terhadap kebiasaan keuangan anak muda, misalnya penggunaan layanan pay later secara impulsif hanya demi mengikuti tren. Ismail menekankan pentingnya edukasi agar masyarakat lebih bijak dalam mengelola keuangan, khususnya dalam memilih produk investasi yang sesuai dengan prinsip syariah.
Tantangan Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah
Ismail mengungkapkan bahwa meski total aset keuangan syariah di Indonesia telah mencapai Rp2.800 triliun, pangsa pasarnya masih berada di kisaran 10,35 persen hingga 11 persen. Angka ini masih jauh di bawah Malaysia yang sudah mencapai hampir 30 persen.
“Dengan mayoritas penduduk Muslim mencapai 80 persen, seharusnya potensi ekonomi syariah bisa lebih besar. Tantangannya adalah bagaimana mengenalkan konsep keuangan syariah secara luas agar masyarakat lebih memahami dan menggunakannya,” jelasnya.
OJK bersama berbagai pemangku kepentingan terus menggalakkan kampanye literasi keuangan syariah melalui berbagai program edukasi. Salah satunya adalah gerakan nasional Gencarkan yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan syariah di berbagai sektor, termasuk perbankan, pasar modal, dan asuransi syariah.(*)