KABARBURSA.COM – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan bahwa pipeline pencatatan efek, khususnya penawaran umum perdana saham atau IPO, mengalami peningkatan signifikan di tengah upaya memperkuat kepercayaan investor dan memperbaiki ekosistem pasar modal domestik.
Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengatakan saat ini sejumlah perusahaan masih dalam tahap evaluasi sebelum resmi melantai di bursa. Ia juga memastikan dalam waktu dekat akan ada tambahan emiten baru yang tercatat.
“Meningkat signifikan. Saat ini kita masih proses evaluasi, di periode tanggal 9 (April IPO emiten WBSA) akan ada satu yang tercatat, sisanya masih berproses,” ujar Nyoman di Gedung BEI Jakarta dikutip Minggu, 5 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa proses pencatatan sangat bergantung pada respons dan kesiapan masing-masing calon emiten, termasuk dalam memenuhi permintaan informasi tambahan dari otoritas bursa.
“Kecepatan proses tergantung respons dan keputusan calon perusahaan tercatat,” katanya.
Dalam konteks pasar modal, pipeline merujuk pada daftar perusahaan yang sedang dalam antrean untuk melakukan IPO atau pencatatan efek lainnya. Pipeline ini mencakup berbagai tahapan, mulai dari penjajakan awal, pengajuan dokumen, hingga proses evaluasi oleh BEI. Semakin besar pipeline, semakin tinggi potensi pasokan saham baru yang akan masuk ke pasar.
Nyoman mengungkapkan bahwa struktur pipeline saat ini tergolong cukup sehat, meskipun belum didominasi oleh perusahaan berkapitalisasi besar atau yang biasa disebut sebagai lighthouse.
“Pipeline kami relatif baik, meski belum ada lighthouse, rata-rata masih di ukuran menengah dan utama,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sebagian besar perusahaan dalam pipeline diperkirakan dapat masuk ke pasar pada semester pertama tahun ini, seiring dengan kesiapan laporan keuangan dan proses administrasi yang berjalan.
Dari sisi profil perusahaan, BEI mencatat bahwa mayoritas calon emiten berasal dari grup usaha baru, bukan dari kelompok konglomerasi besar. Hal ini dinilai sebagai perkembangan positif karena memperluas basis pelaku pasar.
“Sebagian besar bukan konglomerasi, ini menarik karena variasi grup yang masuk semakin luas,” kata Nyoman.
Selain itu, komposisi sektor juga dinilai cukup beragam tanpa adanya dominasi dari sektor tertentu. Emiten yang masuk pipeline berasal dari berbagai industri, mencerminkan distribusi yang lebih merata dalam perekonomian nasional.
Namun demikian, hingga saat ini belum terdapat perusahaan BUMN yang masuk dalam pipeline IPO, meskipun kehadiran BUMN masih dinantikan oleh pelaku pasar sebagai salah satu katalis besar.
Dari sisi papan pencatatan, Nyoman menyebutkan bahwa perusahaan yang antre saat ini mayoritas berada pada papan menengah dan utama, sementara papan akselerasi belum menunjukkan aktivitas berarti.
Di tengah kondisi tersebut, BEI tetap optimistis terhadap prospek pasar modal ke depan. Peningkatan kepercayaan investor diyakini akan mendorong lebih banyak perusahaan untuk masuk ke pasar, sekaligus memperkuat sisi penawaran.
“Kalau kepercayaan meningkat, supply side akan lebih atraktif untuk masuk ke pasar,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara sisi permintaan dan penawaran, di mana kepercayaan investor menjadi faktor kunci dalam mendorong aktivitas investasi yang lebih luas.
Menurut Nyoman, BEI saat ini fokus memperbaiki struktur ekosistem pasar modal, termasuk infrastruktur dan program kerja yang dirancang untuk meningkatkan daya tarik pasar. Namun, ia mengingatkan bahwa dinamika pasar global tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
“Kami perbaiki dulu ekosistemnya, sambil tetap memperhatikan kondisi global yang dinamis,” katanya.
Dalam hal target pencatatan efek, BEI memberi sinyal kuat bahwa jumlah efek yang akan tercatat pada periode ini berpotensi melampaui capaian tahun sebelumnya. Proyeksi tersebut didasarkan pada komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan dan estimasi pipeline yang ada saat ini.
“Dari total efek yang dicatatkan, kita targetkan lebih tinggi dari periode sebelumnya,” ujar Nyoman.
Ia menambahkan bahwa target tersebut mencakup berbagai instrumen di pasar modal, tidak hanya saham, tetapi juga efek lainnya yang menjadi bagian dari strategi pendalaman pasar.
“Bottom line-nya, kami optimistis bisa lebih tinggi dari sebelumnya,” katanya.
Sebagai latar belakang, peningkatan pipeline ini terjadi di tengah upaya BEI untuk meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor domestik maupun global. Optimisme ini juga didukung oleh komunikasi intensif dengan para stakeholder yang memberikan gambaran mengenai potensi efek yang akan diterbitkan dalam periode mendatang.
Diketahui selama kuartal I pasca reformasi pasar modal, belum ada perusahaan yang melantai di BEI. Hingga pada 10 April nanti ada PT BSA Logistics Indonesia yang akan tercatat dalam kode emiten WBSA. Minimnya perusahaan yang bakal IPO ini dipengaruhi oleh beberapa regulasi baru BEI yakni perusahaan tercatat harus memiliki freefloat minimal 15 persen, pembukaan data pemilik efek di atas 1 persen dan masih banyak lagi.
Regulasi-regulasi tersebut memperketat proses seleksi masuknya perusahaan ke pasar modal. Namun, hal ini diilhami untuk memperbaiki kualitas perusahaan yang tercatat.(*)