KABARBURSA.COM – PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Indika Energy (INDY) dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), baru saja mendapatkan sentimen positif, terhindar dari pemangkasan signifikan atas kuota produksi yang ditetapkan pemerintah.
Ketiga perusahaan tambang batu bara tersebut dikabarkan menerima persetujuan penuh atas permohonan kuota produksi batu bara. Adapun total produksi tahun ini sekitar 170 juta ton. Tidak hanya itu, ketiganya dikabarkan memegang izin usaha pertambangan khusus (IUPK), yang mewajibkan pembayaran royalti tinggi kepada negara.
Sejauh ini, juru bicara BUMI, AADI dan INDY belum memberikan tanggapan.
Indonesia sendiri merupakan eksportir batu bara pembangkit Listrik terbesar di dunia. Saat ini, pemerintah sedang berupaya untuk memangkas produksi nasional, hampir seperempatnya, menjadi sekitar 600 juta ton.
Namun, Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) berkomentar bahwa pemangkasan bisa mencapai 40-70 persen dan akan menimbulkan risiko operasional yang tidak ekonomis. Dampaknya bisa berupa PHK hingga potensi gagal bayar pinjaman.
Respons Pasar Beragam
Kabar ini direspons pasar secara beragam. Saham BUMI saat ini berada di level 250, naik 4 poin atau 1,63 persen dari penutupan sebelumnya. Sejak pembukaan di 242, harga bergerak aktif dan sempat menyentuh level tertinggi harian di 256 sebelum kembali terkonsolidasi di kisaran 248–252.
Pola pergerakan ini menunjukkan minat beli yang masih bertahan, meski tekanan ambil untung mulai muncul di area atas. Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp92,83 triliun, BUMI masih bergerak jauh di bawah level tertinggi 52 minggunya di 484, namun telah meninggalkan area terendah tahunan di 70.
Stabilitas harga di atas 245 mengindikasikan bahwa pasar masih menjaga ekspektasi terhadap saham ini, meski belum terlihat dorongan kuat untuk menembus area resistensi yang lebih tinggi.
Berbeda dengan BUMI, saham AADI memperlihatkan karakter penguatan yang lebih terjaga. Hingga menjelang tengah hari, AADI diperdagangkan di level 8.350, menguat 150 poin atau 1,83 persen.
Saham ini dibuka di 8.350 dan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan bertahan di zona hijau, sempat menyentuh level tertinggi harian di 8.475 sebelum kembali ke area 8.300–8.350. Dengan rasio price to earnings di kisaran 5,35 kali dan kapitalisasi pasar sekitar Rp65,02 triliun, AADI masih dipersepsikan relatif atraktif dari sisi valuasi.
Rentang harga 52 minggu antara 5.575 hingga 9.025 menempatkan posisi saat ini di area tengah, mencerminkan sikap pasar yang masih menunggu katalis lanjutan meski minat beli jangka pendek tetap terjaga. Ditambah dengan dividend yield yang tercatat 6,44 persen, AADI masih menjadi salah satu saham batu bara yang dilirik investor berorientasi pendapatan.
Sementara itu, saham INDY bergerak berlawanan arah dengan dua emiten lainnya. Hingga pukul 11.59 WIB, INDY tercatat melemah 30 poin atau 0,90 persen ke level 3.320. Sejak pembukaan, saham ini bergerak di zona merah dan sempat menyentuh level terendah harian di 3.270 sebelum mencoba bertahan di atas 3.300.
Tekanan jual yang muncul membuat INDY kembali menjauh dari penutupan sebelumnya di 3.350. Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp17,30 triliun, posisi harga INDY saat ini masih berada di bawah puncak 52 minggunya di 3.840, meski tetap jauh di atas level terendah tahunan di 905.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.