Logo
>

Bursa Asia Melemah saat Minyak Dekati USD100 di Konflik AS–Iran

Pasar saham Asia bergerak melemah ketika harga minyak mendekati USD100 di tengah meningkatnya ketegangan Amerika Serikat dan Iran.

Ditulis oleh Syahrianto
Bursa Asia Melemah saat Minyak Dekati USD100 di Konflik AS–Iran
Ilustrasi: Layar yang menampilkan beberapa indeks saham dunia. (Foto: Open Grid Scheduler/Grid Engine)

KABARBURSA.COM – Pasar saham Asia-Pasifik dibuka dengan pergerakan campuran pada Senin, 16 Maret 2026, ketika investor mencermati tingginya harga minyak serta perkembangan terbaru dari konflik yang meningkat antara Amerika Serikat dan Iran.

Harga minyak mentah Amerika Serikat sempat menembus USD100 per barel ketika pemerintahan Presiden Donald Trump mempertimbangkan serangan militer terhadap Pulau Kharg di Iran, sebuah pusat ekspor minyak strategis yang sering disebut sebagai “urat nadi minyak” Iran.

Pada pukul 20.10 waktu New York, minyak mentah AS diperdagangkan relatif datar di level USD98,7 per barel. Sementara itu, minyak Brent sebagai acuan internasional menguat 0,48 persen menjadi USD103,7 per barel.

Presiden Donald Trump pada Jumat memerintahkan serangan terhadap aset militer Iran di Pulau Kharg dan memperingatkan kemungkinan serangan lanjutan terhadap fasilitas minyak mentah di lokasi tersebut. Peringatan serupa kembali disampaikan oleh Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Mike Waltz, pada Minggu.

Di kawasan Asia-Pasifik, indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,31 persen pada awal perdagangan.

Indeks Nikkei 225 Jepang melemah 0,12 persen, sementara indeks Topix turun 0,11 persen. Di Korea Selatan, indeks Kospi menguat 0,95 persen, sedangkan indeks Kosdaq bergerak relatif datar.

Indeks Hang Seng Hong Kong diperkirakan dibuka lebih tinggi, dengan kontrak berjangka berada di level 25.481 dibandingkan penutupan sebelumnya di 25.465,6.

Goldman Sachs memperkirakan lonjakan harga energi akibat perang di Iran dapat memangkas sekitar 0,3 persen dari produk domestik bruto (PDB) global dalam satu tahun ke depan. Pada saat yang sama, kondisi tersebut diperkirakan mendorong kenaikan inflasi global sekitar 0,5 persen hingga 0,6 persen.

Bank tersebut juga mencatat bahwa kenaikan harga gas alam berpotensi menambah tekanan inflasi serta menjadi hambatan bagi pertumbuhan ekonomi, terutama di kawasan Eropa dan Asia. Risiko dampak yang lebih besar dapat muncul apabila Selat Hormuz tetap ditutup.

Sementara itu, kontrak berjangka saham Amerika Serikat bergerak naik tipis ketika Wall Street mencoba pulih setelah mencatat pekan perdagangan yang kembali berakhir negatif.

Futures Dow Jones Industrial Average naik 153 poin atau sekitar 0,3 persen. Futures S&P 500 menguat 0,3 persen dan futures Nasdaq-100 juga naik 0,3 persen.

Pada perdagangan Jumat pekan lalu, ketiga indeks utama Wall Street ditutup melemah. Indeks S&P 500 turun 0,61 persen ke level 6.632,19 dan berada sekitar 5 persen di bawah rekor tertinggi terbaru. Indeks Nasdaq Composite turun 0,93 persen menjadi 22.105,36. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average melemah 119,38 poin atau sekitar 0,26 persen ke level 46.558,47. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.