Logo
>

Bursa Asia Melemah, Saham Teknologi Jadi Beban Pasar Global

Tekanan saham teknologi di Wall Street menyeret mayoritas indeks Asia, sementara harga minyak turun dan pasar global bergerak volatil.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Bursa Asia Melemah, Saham Teknologi Jadi Beban Pasar Global
Bursa Asia melemah dipicu kejatuhan saham teknologi global, indeks Wall Street tertekan, harga minyak turun, dan sentimen pasar masih penuh ketidakpastian. Foto: Dok. KabarBursa

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Perdagangan saham di kawasan Asia bergerak lesu pada Kamis, 5 Februari 2026. Sentimen negatif dari Wall Street ikut menular setelah saham-saham teknologi kembali tertekan. Di sisi lain, harga minyak dunia anjlok lebih dari USD 1 per barel, sementara kontrak berjangka Amerika Serikat sedikit menguat.

    Dilansir dari AP, indeks utama Jepang, Nikkei 225, turun 0,7 persen dan ditutup di level 53.935,77. Tekanan lebih dalam terjadi di Korea Selatan. Indeks Kospi merosot tajam 3,2 persen ke posisi 5.199,47.

    Pasar saham China juga tak luput dari koreksi. Indeks Hang Seng di Hong Kong melemah 1,2 persen menjadi 26.516,38. Sementara itu, indeks Shanghai Composite turun 0,8 persen ke level 4.069,27.

    Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia justru dibuka menguat 0,10 persen atau 7,89 poin ke level 8.154. Namun, euforia itu tak bertahan lama karena pada penutupan pertama hari ini IHSG melemah 0,06 persen ke level 8.141.

    Di Australia, indeks S&P/ASX 200 terkoreksi 0,3 persen ke posisi 8.902,20. Bursa Taiwan ikut tertekan dengan penurunan indeks Taiex sebesar 1,1 persen.

    Kondisi serupa sudah lebih dulu terjadi di Amerika Serikat pada perdagangan Rabu waktu setempat. Indeks S&P 500 melemah 0,5 persen dan ditutup di 6.882,72. Itu menjadi penurunan tipis kelima dalam enam hari terakhir.

    Berbeda arah, indeks Dow Jones Industrial Average justru naik 0,5 persen ke level 49.501,30. Namun indeks Nasdaq Composite yang banyak dihuni saham teknologi anjlok lebih dalam, turun 1,5 persen ke posisi 22.904,58.

    Secara keseluruhan, sebenarnya jumlah saham yang naik di dalam indeks S&P 500 lebih banyak dibanding yang turun. Tetapi kejatuhan saham-saham teknologi kembali menjadi pemberat utama bagi indeks tersebut untuk hari kedua berturut-turut.

    Salah satu yang paling terpukul adalah saham Advanced Micro Devices atau AMD. Harga saham perusahaan chip ini terjun 17,3 persen meskipun mereka melaporkan laba kuartalan yang lebih tinggi dari perkiraan analis.

    AMD bahkan memberikan proyeksi pendapatan awal 2026 yang melampaui ekspektasi pasar. Namun hal itu tampaknya belum cukup memuaskan investor, apalagi harga saham AMD sudah melonjak dua kali lipat dalam 12 bulan terakhir.

    Tekanan terhadap saham teknologi memang masih kuat, bahkan ketika perusahaan-perusahaan tersebut mampu mencatat kinerja lebih baik dari perkiraan. Lonjakan harga saham sebelumnya dinilai sudah terlalu tinggi sehingga pasar mulai lebih berhati-hati.

    Perusahaan teknologi lain, khususnya pembuat perangkat lunak, juga menghadapi tantangan besar. Investor mulai mempertanyakan apakah mereka bisa bertahan menghadapi pesaing baru yang didukung teknologi kecerdasan buatan.

    Uber Technologies ikut memberi sentimen negatif setelah sahamnya jatuh 5,1 persen. Perusahaan layanan transportasi daring itu melaporkan hasil kuartalan yang lebih rendah dari perkiraan analis. Selain itu, proyeksi laba untuk kuartal berjalan juga berada di bawah harapan pasar, meskipun Uber telah menunjuk kepala keuangan baru.

    Namun tidak semua saham teknologi terpuruk. Super Micro Computer justru melesat 13,8 persen. Perusahaan penjual server berbasis kecerdasan buatan ini berhasil membukukan laba yang melampaui ekspektasi analis.

    Di luar sektor teknologi, kabar positif datang dari Eli Lilly. Saham perusahaan farmasi tersebut melonjak 10,3 persen setelah melaporkan laba yang lebih tinggi dari perkiraan. Produk andalannya untuk diabetes dan penurunan berat badan, Mounjaro dan Zepbound, menjadi mesin pertumbuhan utama.

    Match Group, perusahaan induk aplikasi kencan daring, juga naik 5,9 persen setelah merilis kinerja yang lebih baik dari prediksi dan mengumumkan kenaikan dividen.

    Raksasa ritel Walmart bergerak tipis naik 0,2 persen. Sehari sebelumnya, nilai pasar perusahaan ini sempat menembus USD 1 triliun atau sekitar Rp16.850 triliun untuk pertama kalinya. Walmart kini masuk ke dalam kelompok eksklusif perusahaan bernilai jumbo yang selama ini didominasi raksasa teknologi seperti Nvidia dan Apple, yang masing-masing bernilai lebih dari USD 4 triliun atau sekitar Rp67.400 triliun.

    Di pasar komoditas, harga emas dan perak sempat naik setelah sebelumnya memangkas kenaikan yang lebih besar. Harga emas menguat 0,3 persen dan ditutup di USD 4.950,80 per ons atau sekitar Rp83.420.980 per ons, setelah sempat kembali menembus level USD 5.000.

    Pergerakan emas memang sangat liar dalam beberapa waktu terakhir. Dalam 12 bulan terakhir, harganya hampir naik dua kali lipat. Pekan lalu emas sempat mendekati USD 5.600 atau sekitar Rp94.360.000 per ons, lalu terjun di bawah USD 4.500 atau sekitar Rp75.825.000 pada Senin.

    Harga perak, yang pergerakannya bahkan lebih ekstrem, naik 1,3 persen pada perdagangan terbaru.

    Kenaikan kedua logam mulia itu sebelumnya dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap berbagai risiko global. Mulai dari ancaman tarif perdagangan, pelemahan dolar Amerika Serikat, hingga tingginya utang pemerintah di banyak negara. Namun sejumlah pengamat menilai kenaikan tersebut sudah terlalu jauh dan terlalu cepat, sehingga wajar jika terjadi koreksi dalam jangka pendek.

    Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat relatif stabil setelah muncul dua laporan ekonomi dengan hasil beragam.

    Laporan dari ADP Research menunjukkan perusahaan swasta di luar sektor pemerintah mempekerjakan lebih sedikit tenaga kerja pada bulan lalu dibanding perkiraan ekonom.

    Di sisi lain, laporan dari Institute for Supply Management menyebutkan bahwa sektor jasa Amerika Serikat, termasuk layanan kesehatan dan konstruksi, tetap tumbuh pada Januari sesuai ekspektasi pasar. Meski begitu, laporan tersebut juga menunjukkan bahwa harga yang dibayar oleh pelaku usaha jasa naik lebih cepat, sebuah sinyal yang kurang menggembirakan bagi upaya pengendalian inflasi.

    Dari pasar energi, harga minyak mentah acuan Amerika Serikat turun USD 1,19 menjadi USD 63,95 per barel atau sekitar Rp1.077.508. Sementara minyak Brent, standar internasional, melemah USD 1,24 ke level USD 68,22 per barel atau sekitar Rp1.149.507.

    Di pasar valuta asing, dolar Amerika Serikat menguat tipis terhadap yen Jepang menjadi 156,83 yen dari sebelumnya 156,80 yen. Sementara euro melemah ke posisi USD 1,1795 atau sekitar Rp19.869 per euro, dari sebelumnya USD 1,1804.

    Kondisi pasar global yang masih dipenuhi ketidakpastian membuat investor memilih bersikap hati-hati. Arah pergerakan bursa dalam beberapa hari ke depan diperkirakan tetap bergantung pada perkembangan ekonomi Amerika Serikat serta kinerja sektor teknologi yang terus menjadi pusat perhatian.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).