Logo
>

Catatan Kinerja IPCC dan Target Ekspansi Wilayah Timur

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Catatan Kinerja IPCC dan Target Ekspansi Wilayah Timur

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) mencatat kinerja operasional perusahaan tergolong meningkat di akhir 2024 dan berencana melakukan ekspansi wilayah ke Indonesia Timur. Perusahaan bagian dari Pelindo Multi Teminal (SPMT) tersebut mencatat pertumbuhan arus cargo sebesar 18,8 persen dan peningkatan kunjungan kapal sebanyak 44 persen.

    Direktur Utama IPCC, Sugeng Mulyadi, mengklaim peningkatan layanan telah dilakukan untuk memenuhi harapan dari pengguna jasa transportasi. Seperti transformasi serta optimalisasi layanan basis planning and control, go live sistem operasi baru yakni PTOS-C pada beberapa terminal satelit. Lalu ada perluasan lapangan penumpukan eks-PP seluas 0,3 hektare dan optimalisasi lahan yang ada dengan pola bisnis PDC.

    "Untuk mengantisipasi lonjakan arus cargo, khususnya CBU pada Branch Jakarta, kami melakukan upgrading pada sisi lapangan seperti pengerasan serta remarking lapangan Blok O dan B, penambahan CCTV, serta revitalisasi safety net Gedung Merah Putih," kata Sugeng melalui keterangan tertulis yang diterima Kabarbursa.com di Jakarta, Rabu, 1 Januari 2025.

    Menurut dia, salah satu faktor utama dalam pencapaian itu yakni peningkatan signifikan dalam penanganan cargo jenis truk dan bus yang mencapai 155.595 unit pada November 2024. Pada bulan itu terjadi pertumbuhan sebesar 78,7 persen. Angka itu dianggap mencerminkan tingginya sektor transportasi massal termasuk pada impor bus listrik sebagai upaya mengembangkan armada ramah lingkungan.

    Cargo alat berat juga tercatat mengalami kenaikan signifikan yakni 23.960 unit pada November atau naik sebesar 24,25 persen. Meningkat 7 persen meski penjualan otomotif nasional cenderung menurun. Kenaikan perkembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia turut mendorong permintaan dengan IPCC berhasil menangani 21.217 unit CBU mobil listrik khususnya dari merek-merek seperti BYD, VINFAST dan AION.

    Sugeng menyebut pada 2025 ini IPCC juga memiliki rencana memperluas operasi dengan mengimplementasikan PTOS-C di Terminal Internasional Jakarta memperbesar kapasitas lapangan untuk menampung lebih banyak unit CBU serta menambah dermaga internasionak di Pelabuhan Tanjung Priok. Selain itu IPCC juga berencana memperluas jangkauan wilayah operasi di Indonesia Timur.

    Dilansir dari Stockbit pada Rabu, 1 Januari 2025 IPCC mencatat kinerja keuangan yang signifikan sepanjang tahun 2024. Salah satu aspek yang mencolok adalah rasio harga terhadap laba (PE Ratio) perusahaan yang mencapai angka 42,13. Angka tersebut menunjukkan saham IPCC diperdagangkan pada harga yang lebih tinggi dibanding laba yang dihasilkan. Selain itu ada potensi pertumbuhan perusahaan di masa depan namun sahamnya tergolong relatif mahal.

    Solvabilitas IPCC menunjukkan kecukupan modal untuk memenuhi kewajiban jangka pendek dengan rasio lancar atau current ratio sebesar 1,40. Kendati demikian, perusahaan tersebut tengah menghadapi tantangan dalam liquiditasnya. Hal itu terlihat dari rasio cepat atau quick ratio sebesar 0,47. Angka itu menunjukkan IPCC kemungkinan menghadapi kesulitan untuk membayar kewajiban jangka pendek tanpa mengandalkan ketersediaan.

    Catatan Margin Laba Operasional

    Margin laba kotor tercatat sebesar 54,70 persen, sementara margin laba operasional dan margin laba bersih masing-masing berada di angka 23,31 persen dan 16,60 persen. Ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu mengelola biaya dan menghasilkan keuntungan yang sehat dari pendapatan yang diterima.

    Dalam hal arus kas, IPCC mencatatkan arus kas bebas yang negatif sebesar Rp81 miliar pada kuartal terbaru, yang mengindikasikan bahwa perusahaan belum mampu menghasilkan kas yang cukup untuk mendukung operasional dan investasi tanpa mengandalkan pendanaan eksternal.

    Pada sisi ekuitas, IPCC memiliki total aset sebesar Rp4.844 miliar dengan total liabilitas sebesar Rp2.712 miliar. Hal ini memberikan gambaran bahwa perusahaan memiliki struktur keuangan yang cukup sehat, dengan rasio total utang terhadap ekuitas sebesar 0,90, yang menunjukkan penggunaan utang yang relatif moderat dalam pembiayaan operasional.

    Dalam hal valuasi pasar, IPCC memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp44.839 miliar dan nilai perusahaan (enterprise value) sebesar Rp46.405 miliar. Perusahaan ini menunjukkan potensi pertumbuhan yang menarik dengan adanya kenaikan harga saham sebesar 4,09 persen dalam seminggu terakhir.

    IPCC Revisi Belanja Modal 2024

    Sebelumnya diberitakan, IPCC merevisi rencana belanja modal (capex) 2024 dari sebelumnya Rp57 miliar menjadi Rp17 miliar.

    Awalnya, Direktur Operasi dan Teknik IPCC, Bagus Dwipoyono, mengatakan, perusahaan telah menyiapkan belanja modal sebesar Rp57 miliar. Namun, pemangkasan capex ini dilakukan dengan alasan penundaan pembangunan gedung parkir yang semula direncanakan pada 2024. Karena, proyek ini masih dalam tahap persiapan, khususnya dalam proses perizinan studi Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

    “Dari alokasi awal belanja modal (Rp57 miliar), sekitar Rp40 miliar di antaranya dialokasikan untuk pembangunan gedung parkir baru, yang belum bisa kami realisasikan tahun ini. Kemungkinan anggaran tersebut akan digunakan pada 2024,” kata Bagus dalam pernyataannya, dikutip Rabu, 31 Juli 2024.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Pramirvan Datu

    Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.