KABARBURSA.COM – Direktur Utama PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), Iding Pardi, mengungkapkan dirinya telah menjalani Penilaian Kemampuan dan Kepatutan (PKK) atau fit and proper test sebagai salah satu kandidat calon Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI).
Usai mengikuti proses seleksi di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Iding menyatakan tahapan tersebut berjalan lancar. Ia juga menegaskan tetap optimistis menghadapi proses pemilihan direksi BEI untuk periode mendatang.
“Lancar-lancar saja, alhamdulillah. Harus optimistis,” kata Direktur Utama KPEI Iding Pardi di Gedung BEI Jakarta pada Rabu, 20 Mei 2026.
Nama Iding masuk dalam salah satu dari empat paket calon direksi BEI yang beredar di kalangan pelaku pasar. Dalam paket tersebut, Iding disebut menjadi kandidat Direktur Utama BEI bersama sejumlah nama lain, yakni Direktur PT Elit Sukses Sekuritas Zaki Mubarak, Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI Yulianto Aji Sadono, Direktur KPEI Umi Kulsum, mantan Direktur Utama Bumiputera Sekuritas Ahmad Subagja, Direktur Pefindo Biro Kredit Yohannes Liauw, dan Direktur PT UBS Sekuritas Indonesia Andre Tjahjamuljo.
Peta persaingan menuju kursi Direktur Utama BEI juga mengalami perubahan. Salah satu nama yang sebelumnya disebut sebagai kandidat kuat, mantan Direktur Utama Mandiri Sekuritas Oki Ramadhana, diperkirakan tidak lagi melanjutkan pencalonan setelah ditunjuk sebagai Ketua Dewan Direktur sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Indonesia Investment Authority atau INA.
Selain Oki, nama Laksono Widodo yang merupakan mantan Direktur Utama BRI Danareksa Sekuritas juga dinilai sulit melanjutkan pencalonan setelah ditunjuk sebagai anggota Dewan Direktur sekaligus Chief Investment Officer (CIO) INA.
Dengan perkembangan tersebut, persaingan mengerucut antara Iding Pardi, Pelaksana Tugas Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, serta sejumlah kandidat lain yang masih mengikuti proses seleksi.
Iding menjelaskan, dalam fit and proper test, OJK menggali arah program kerja dan strategi yang akan dijalankan calon direksi jika terpilih memimpin BEI.
“Program-program kerja kita, arah rencana kerja kita ke mana,” ujarnya.
Menurut Iding, fokus utama yang ingin ia dorong adalah penguatan tata kelola atau governance di pasar modal Indonesia.
Menurut dia, kualitas tata kelola merupakan fondasi utama agar pasar modal dapat tumbuh lebih sehat dan berkelanjutan.
“Kami ingin memperkuat governance. Itu fondasi utama agar market kita bertumbuh lebih sehat lagi,” kata Iding.
Ia menilai pergerakan indeks saham tidak semata-mata ditentukan oleh kebijakan bursa karena dipengaruhi banyak faktor eksternal. Karena itu, peran BEI sebagai operator pasar adalah memastikan perdagangan berlangsung secara transparan, adil, teratur, aman, dan efisien.
“Yang kami fokuskan adalah bagaimana mengelola pasar lebih prudent, lebih transparan, dan lebih fair,” ujarnya.
Iding juga menekankan pentingnya meningkatkan kualitas investor domestik dan kualitas perusahaan yang melantai di bursa melalui penawaran umum perdana saham (IPO). Menurut dia, pertumbuhan jumlah investor yang signifikan harus dibarengi dengan peningkatan kualitas agar aktivitas transaksi lebih rasional dan berorientasi jangka panjang.
“Investor harus melihat pasar sebagai long term investment, bukan sekadar transaksi spekulatif jangka pendek,” kata Iding.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya komunikasi yang lebih baik dengan penyedia indeks global seperti MSCI Inc.. Menurutnya, pandangan lembaga indeks global mencerminkan persepsi investor asing terhadap kredibilitas pasar modal Indonesia.
“Kita harus berkomunikasi dengan baik dengan mereka dan memperhatikan concern mereka terkait transparansi dan fairness,” ujarnya.
OJK sendiri telah memulai rangkaian fit and proper test bagi calon direksi BEI sejak 12 Mei 2026. Proses ini menjadi tahap krusial untuk menentukan susunan direksi baru yang akan memimpin bursa dalam beberapa tahun ke depan.
Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa seluruh paket yang masuk telah melalui pemeriksaan awal. Mengingat setiap paket terdiri dari tujuh orang direksi, maka total terdapat 28 nama yang kini berada dalam radar pemeriksaan OJK. Dan nama kandidatnya masih rahasia.
Hasan mengatakan OJK sengaja belum membuka identitas kandidat demi menjaga objektivitas proses seleksi yang masih berlangsung.
“Yang terpilih aja nanti kita akan umumkan. Artinya untuk menjaga objektifitas prosesnya. Dan tidak semakin terpengaruh aspek lain termasuk pemerintah gitu ya,” ujar Hasan di Gedung BEI, Jakarta dikutip Kamis, 14 Mei 2026.
Menurut Hasan, langkah tersebut juga dilakukan agar proses seleksi tidak memengaruhi aspek lain di luar mekanisme penilaian regulator. “Tapi nanti pasti kami akan umumkan pada saat 7 nama tersebut dinyatakan terpilih dan diputuskan oleh OJK,” katanya.
Ia memastikan pengumuman tujuh nama direksi terpilih akan dilakukan paling lambat tujuh hari sebelum pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) BEI yang dijadwalkan berlangsung pada 29 Juni 2026.
“Itu paling lambat 7 hari sebelum pelaksanaan RUPS. RUPS ini tanggal 29. Jadi paling lambat 22 Juni sudah akan diinformasikan kepada publik melalui media juga,” tutur Hasan.(*)