KABARBURSA.COM - Terakhir kali Trading Halt dialami Bursa Efek Indonesia (BEI) saat putusan kebijakan luar negeri Presiden Amerika, Donald Trump. Kebijakan bikin kacau hubungan antar negara. Dia mulai memberlakukan perang tarif.
Pasar Modal kaget. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG perdana dibuka ditandai koreksi tajam. Momennya setelah libur panjang pascalebaran Idulfitri 2025 langsung mengalami penghentian sementara atau trading halt. Waktunya selama 30 menit karena penurunan harga.
Pergerakan waktu itu menandai koreksi paling tajam dalam beberapa bulan terakhir, memperpanjang tren pelemahan yang dipicu oleh kombinasi sentimen global dan kekhawatiran domestik.
Head Of Reasearch Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata mengatakan sebagai fenomena ekonomi pertama kali dalam hidupnya. Dia coba menganalisa penyebabnya.
Fenomena ini merupakan reaksi wajar dari pasar yang mencoba menyesuaikan diri (adjusting) dengan dinamika pasar global selama periode libur Lebaran. "Ini pertama kalinya saya dalam karier di pasar modal menyaksikan IHSG dibuka langsung trading halt. Dan ini akan berlangsung selama 30 menit ke depan," ujar Liza kepada KabarBursa.com tahun lalu.
Isu Peninjauan Metodologi MSCI
Hari ini pasar modal kembali terguncang. Sejak dibuka langsung anjlok. Penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG pada Rabu, 28 Januari 2026, bukan sekadar soal teknis indeks global. Di balik koreksi yang sudah melewati 7 persen dan membuat pasar limbung itu, tersimpan cerita yang lebih dalam tentang bagaimana pasar saham Indonesia berdiri di atas fondasi yang masih mudah goyah ketika arus modal global berubah arah.
Isu peninjauan metodologi free float oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) memang menjadi pemicu yang terlihat di permukaan. Namun, data perdagangan menunjukkan reaksi pasar sudah dimulai bahkan sebelum keputusan apa pun diumumkan. Investor asing terlihat lebih dulu angkat kaki, seolah membaca sinyal bahwa risiko di pasar Indonesia sedang meningkat.
Akhirnya BEI memilih langkah terakhir. Membekukan pasar. Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan trading halt mulai pukul 13.43 Jakarta Automated Trading System (JATS) selama 30 menit pada awal sesi II, Rabu, 28 Januari 2026, setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 8 persen.
Hingga jelang pembekuan, IHSG merosot ke 8.261,79, turun 718,44 poin atau 8,00 persen dari penutupan sebelumnya.
Pembekuan sementara perdagangan ini dilakukan sesuai ketentuan pengendalian volatilitas pasar.
Tekanan jual meluas sejak sesi pagi, dengan indeks sempat dibuka di 8.393,51, menyentuh tertinggi 8.596,17, lalu terus melemah hingga terendah 8.261,79.
Nilai transaksi pasar reguler tercatat sekitar Rp30,90 triliun dengan volume 444,37 juta lot dan frekuensi 2,96 juta kali.
Tekanan juga terlihat serentak di indeks-indeks utama BEI. IDX30 turun 6,47 persen, LQ45 melemah 7,73 persen, Sri-Kehati terkoreksi 4,79 persen, JII turun 9,77 persen, dan ISSI melemah 8,57 persen.
Sumber pasar menilai gejolak dipicu sentimen global setelah MSCI membekukan sejumlah perubahan terkait index review, termasuk review Februari 2026, yang memicu reposisi portofolio dan aksi jual cepat di pasar domestik. (*)