KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam pada perdagangan Selasa, 28 Januari 2026.
Hingga akhir sesi I, IHSG melemah 7,34 persen ke level 8.321,22, seiring meningkatnya tekanan jual yang meluas di pasar reguler dan memburuknya sentimen global pascapengumuman hasil konsultasi MSCI Inc.
Tekanan tersebut terjadi di tengah aktivitas transaksi yang tetap tinggi. Hingga sesi I, total nilai transaksi pasar reguler mencapai sekitar Rp29,06 triliun dengan volume 419,79 juta lot dan frekuensi 2,77 juta kali transaksi.
Dari sisi pelaku pasar, investor asing tercatat aktif melakukan penyesuaian posisi. Data transaksi hingga sesi I menunjukkan arus dana asing bergerak selektif, dengan kombinasi pembelian bersih pada sejumlah saham dan penjualan bersih pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi penopang utama indeks.
Pada daftar saham dengan pembelian bersih asing terbesar hingga sesi I, saham GOTO mencatatkan net foreign buy sekitar 559,16 juta saham. Nilai beli asing pada saham ini mencapai sekitar 2,45 miliar saham, sementara sisi jual asing tercatat sekitar 1,89 miliar saham.
Saham LPKR juga masuk dalam jajaran saham yang diborong asing dengan net buy sekitar 155,79 juta saham. Pembelian asing pada saham properti ini tercatat sekitar 224,38 juta saham, berbanding dengan penjualan sekitar 68,59 juta saham.
Selain itu, saham MBMA mencatatkan pembelian bersih asing sekitar 126,17 juta saham. Sisi beli asing pada saham ini mencapai sekitar 196,98 juta saham, sementara penjualan asing berada di kisaran 70,81 juta saham.
Saham-saham lain yang turut mencatatkan net foreign buy hingga sesi I antara lain PNLF, ADRO, KIJA, dan BUKA, dengan besaran pembelian bersih yang bervariasi.
Di sisi lain, tekanan jual asing terlihat kuat pada saham-saham berkapitalisasi besar. Saham BBCA mencatatkan penjualan bersih asing terbesar hingga sesi I dengan net sell sekitar 333,42 juta saham. Total penjualan asing pada saham perbankan ini mencapai sekitar 478,35 juta saham, sementara pembelian asing berada di kisaran 144,93 juta saham.
Tekanan serupa juga terjadi pada saham BMRI yang mencatatkan net foreign sell sekitar 200,26 juta saham. Saham perbankan besar lainnya, BBRI, juga masuk dalam daftar penjualan bersih asing dengan net sell sekitar 145,35 juta saham.
Aktivitas jual pada saham-saham bank besar tersebut berlangsung seiring melemahnya IHSG secara keseluruhan.
Selain sektor perbankan, saham BRMS dan INET juga mencatatkan tekanan jual asing yang signifikan. BRMS tercatat dilepas asing sekitar 132,86 juta saham secara bersih, sementara INET mencatatkan net sell sekitar 94,92 juta saham.
Saham TLKM turut berada dalam daftar penjualan bersih asing dengan net sell sekitar 88,22 juta saham hingga sesi I.
Pada sektor energi dan pertambangan, saham DEWA dan ANTM juga mencatatkan net foreign sell masing-masing sekitar 74,90 juta saham dan 67,25 juta saham.
Sementara itu, saham BUMI tercatat dilepas asing sekitar 38,57 juta saham secara bersih. Tekanan jual tersebut berkontribusi terhadap pelemahan indeks sektoral yang cukup dalam pada sesi pagi.
Secara sektoral, mayoritas indeks sektoral berada di zona merah hingga sesi I. Indeks IDX30 turun 5,42 persen, LQ45 melemah 6,77 persen, Jakarta Islamic Index turun 9,14 persen, serta Indeks Saham Syariah Indonesia terkoreksi 8,14 persen. Pelemahan serentak ini mencerminkan tekanan yang bersifat menyeluruh, bukan terbatas pada sektor tertentu.
Pergerakan IHSG intraday menunjukkan tekanan jual yang dominan sejak awal sesi. Indeks dibuka di level 8.393,51, sempat bergerak ke level tertinggi 8.596,17, sebelum akhirnya tertekan hingga menyentuh level terendah 8.269,14 pada sesi I.
Kapitalisasi pasar tercatat menyusut menjadi sekitar Rp15.212,91 triliun seiring pelemahan harga saham secara luas.
Hasil dari MSCI Hari ini
Kondisi ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap hasil konsultasi global MSCI.
Dalam pengumuman terpisah, MSCI menyampaikan kebijakan pembekuan sementara atas kenaikan Foreign Inclusion Factor dan Number of Shares saham Indonesia, yang berlaku efektif segera dan mencakup hasil peninjauan indeks serta aksi korporasi.
Hasil konsultasi tersebut menempatkan isu transparansi struktur kepemilikan saham dan keandalan klasifikasi pemegang saham sebagai perhatian utama investor global.
Kebijakan MSCI tersebut menjadi salah satu faktor yang dicermati pelaku pasar dalam membaca arah transaksi asing pada perdagangan hari ini.
Hingga sesi I, data transaksi menunjukkan bahwa investor asing belum sepenuhnya meninggalkan pasar, namun melakukan penyesuaian portofolio secara selektif.
Aktivitas jual dan beli yang berlangsung simultan mencerminkan dinamika pasar yang sedang berada dalam fase penyesuaian cepat terhadap perkembangan sentimen global dan kebijakan indeks internasional. (*)