Logo
>

Data Tenaga Kerja AS Kuat, Wall Street Bergoyang Antara Optimisme dan Cemas

Data pekerjaan AS lampaui ekspektasi, Wall Street bergerak fluktuatif di tengah spekulasi arah suku bunga The Fed.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Data Tenaga Kerja AS Kuat, Wall Street Bergoyang Antara Optimisme dan Cemas
Data tenaga kerja Amerika Serikat lebih kuat dari perkiraan memicu reaksi campuran di Wall Street antara harapan ekonomi solid dan kekhawatiran suku bunga tinggi. Foto; Agencies via China Daily

KABARBURSA.COM — Wall Street bergerak naik turun pada perdagangan Kamis, 12 Februari 2026, setelah muncul laporan mengejutkan tentang kondisi pasar tenaga kerja. Angka pengangguran Amerika membaik, namun kabar baik itu justru memunculkan dua reaksi berbeda di kalangan pelaku pasar.

Dilansir dari AP, indeks S&P 500 sempat mendekati rekor tertingginya. Namun beberapa saat kemudian arah pasar berubah-ubah antara zona hijau dan merah. Hingga pukul 12.28 siang waktu Timur Amerika, indeks S&P 500 tercatat naik tipis 0,2 persen. Indeks Dow Jones Industrial Average ikut menguat 19 poin atau kurang dari 0,1 persen. Sementara indeks teknologi Nasdaq Composite justru melemah 0,1 persen.

Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah Amerika atau Treasury tetap bertahan lebih tinggi setelah Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat merilis data penting. Laporan itu menyebut para pemberi kerja di Amerika menambah 130.000 lapangan pekerjaan baru pada bulan lalu.

Angka tersebut jauh lebih besar dibanding perkiraan para ekonom yang sebelumnya hanya memproyeksikan tambahan 75.000 pekerjaan. Data ini sekaligus meredakan kekhawatiran sehari sebelumnya ketika laporan lain menunjukkan belanja rumah tangga Amerika, sebagai motor utama ekonomi, mulai melambat.

Harapan Ekonomi Tetap Kuat

Di satu sisi, data tenaga kerja yang solid memunculkan harapan bahwa ekonomi Amerika masih mampu bertahan kuat. Kondisi itu dianggap bisa terus mendorong laba perusahaan-perusahaan besar.

Saham di sektor energi dan bahan baku menjadi contoh paling nyata. Kelompok saham ini mencatat kenaikan cukup tinggi di dalam indeks S&P 500 karena kinerjanya sangat bergantung pada kesehatan ekonomi.

Saham raksasa energi Exxon Mobil melonjak 3 persen. Sementara perusahaan kemasan Smurfit Westrock melesat hingga 10 persen, meskipun perusahaan tersebut melaporkan laba kuartalan yang lebih lemah dari perkiraan analis.

Lonjakan Smurfit Westrock terjadi setelah manajemen mengumumkan target keuangan lima tahun ke depan yang dinilai cukup meyakinkan oleh sebagian analis.

Namun di sisi lain, kabar baik soal ketenagakerjaan justru membawa dampak negatif bagi pasar saham secara keseluruhan. Data yang lebih kuat dari perkiraan bisa membuat bank sentral Amerika atau Federal Reserve menunda rencana pemangkasan suku bunga.

Suku bunga yang tetap tinggi biasanya menekan harga saham dan berbagai instrumen investasi lain. Setelah laporan Rabu menunjukkan angka pengangguran Amerika turun tipis, para pelaku pasar langsung mengubah proyeksi mereka.

Menurut data CME Group, para trader kini memperkirakan The Fed akan lebih lama menahan suku bunga sebelum kembali menurunkannya. Meski begitu, sebagian besar pelaku pasar masih bertaruh akan ada setidaknya dua kali pemotongan suku bunga pada 2026.

Seandainya laporan tenaga kerja menunjukkan kondisi yang lebih buruk atau angka pengangguran justru naik, situasinya bisa berbeda. The Fed kemungkinan akan terdorong untuk kembali memangkas suku bunga lebih cepat.

Suku bunga yang lebih rendah memang bisa memberi dorongan bagi ekonomi, meskipun di sisi lain juga berpotensi memicu inflasi. Karena itu, pasar kini menunggu laporan inflasi tingkat konsumen Amerika yang akan dirilis pada Jumat mendatang, yang diperkirakan sangat memengaruhi arah kebijakan The Fed.

Setelah rilis data pekerjaan, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika tenor 10 tahun bertahan di level 4,16 persen, sama seperti posisi Selasa malam. Sementara imbal hasil obligasi dua tahun, yang lebih sensitif terhadap kebijakan The Fed, naik ke 3,50 persen dari sebelumnya 3,45 persen.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).