KABARBURSA.COM – CEO Danantara Rosan Roeslani, memuji kinerja PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Perusahaan yang berkode emiten TLKM ini disebut-sebut berhasil mencatatkan nilai saham atau valuasi sekitar Rp112 troliun.
Namun, fakta intraday-nya tidak beriringan. Pada akhir perdagangan pekan ini, Jumat, 9 Januari 2026, saham ditutup melemah cukup dalam, 2,27 persen ke level Rp3.450.
Sejak pembukaan di Rp3.550, tekanan jual muncul bertahap hingga menyentuh level terendah harian di Rp3.450. Secara pergerakan harian, mencerminkan adanya taking profit dari reli sebelumnya. Memang tidak ada panic selling, volatilitas relatif terkontrol, dan tidak ada lonjakan volume ekstrem yang biasanya menandai distribusi agresif.
Jika ditarik ke setahun terakhir, saham ini sudah menguat sekitar 28,73 persen. Itulah mengapa kemudian CEO Danantara memujinya, karena kinerja tersebut berhasil menempatkan salah satu BUMN ini dengan apresiasi nilai pasar yang paling konsisten.
Kenaikan ini sejakan dengan narasi transformasi yang terus dikomunikasikan manajemen. Artinya, korekan harian yang terjadi kemarin lebih tepat dibaca sebagai tanda teknikal, bukan perubahan arah tren besar.
Tekanan Fundamental Masih Kuat
Bila bicara tentang fundamental TLKM, data keuangannya memperlihatkan dinamika yang kompleks. Per September 2025, pendapatan Telkom tercatat turun tipis 0,85 persen secara tahunan, menjadi Rp36,61 triliun.
Penurunan ini diiringi dengan kenaikan beban operasional sebesar 8,06 persen menjadi Rp9,90 triliun. Begitu pula dengan laba bersih yang tertekan 18,68 persen menjadi Rp4,81 triliun. Margin laba bersihnya pun ikut menyempit ke level 13,13 persen.
Sementara, EBITDA tercatat Rp15,93 triliun, turun 7,88 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa proses transformasi Telkom memang belum sepenuhnya gratis, karena masih membawa tekanan pada profitabilitas jangka pendek.
Meski begitu, neraca Telkom tetap kuat. Posisi kas dan investari jangka pendeknya naik 21,63 persen, menjadi Rp33,05 triliun. Total asetnya bertambah menjadi Rp291,90 triliun, sementara ekuitas berada di Rp155,01 triliun.
Return on assets di level 7,88 persen dan return on capital 9,91 persen menandakan bahwa perusahaan masih cukup efisien dalam mengelola skala bisnisnya yang besar.
Di sisi lain, kas dari operasi justru naik 4,70 persen menjadi Rp17,03 triliun. Sementara, free cash flow relative stabil di Rp5,67 triliun, hanya turun tipis 1,45 persen. Ini penting, karena menunjukkan bahwa mesin kas Telkom belum terganggu meskipun laba bersih tergerus.
Di sini, pernyataan Rosan menjadi relevan. Pasar tampaknya lebih mempricing arah transformasi dan stabilitas jangka panjang Telkom ketimbang sekadar fluktuasi laba jangka pendek.
Harga Stagnan Meskipun Broker Summary Menarik
Sementara itu, founder WH Project Willian Hartanto, dalam Webinar Insight Emiten Mingguan KabarBursa, yang membahas tentang “TLKM, EXCL, ISAT: Ke Mana Flow Smart Money Mengalir?” yang diselenggarakan pada Jumat, 9 Januari 2025, mengatakan secara perdagangan bursa, saham bergerak stagnan.
“Sebagaimana saham big caps pada umumnya, memang broker summary-nya ada yang menarik di mana dominasi investor asingnya cukup besar, tapi harus kita komparasikan juga dengan pergerakan sahamnya. Dalam arti, jika terlihat ada akumulasi itu hanya Kesan yang didapatkan saja,” ujar William.
William melanjutkan, pada saham TLKM Nampak ada penjagaan dari pelaku pasar tertentu namun belum disambut baik oleh pergerakan sahamnya. Data broker summary boleh saja bagus, namun fakta di lapangan pergerakan saham tidak memberikan portofolio yang bagus.
Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa kenaikan market cap setahun terakhir mencerminkan ekspektasi bahwa tekanan profit saat ini adalah fase transisi, bukan degradasi struktural.
Jadi, meski secara harian TLKM sempat terkoreksi, secara tahunan saham ini masih membawa cerita yang jauh lebih optimistis, sejalan dengan narasi transformasi dan tata kelola yang terus digadang-gadang sebagai fondasi nilai jangka panjang.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.