KABARBURSA.COM – PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) berhasil memangkas rugi bersih pada kuartal I 2026 menjadi USD24 juta, membaik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD70 juta.
Perbaikan kinerja tersebut terjadi di tengah tekanan operasional akibat musim hujan yang disebut sebagai periode paling menantang dalam siklus tahunan operasional pertambangan.
BUMA International Group mencatat EBITDA sebesar USD28 juta pada kuartal I 2026, melonjak 98 persen secara tahunan dibandingkan USD14 juta pada kuartal I 2025. Margin EBITDA juga naik menjadi 11 persen dari sebelumnya 5 persen.
Manajemen menyebut peningkatan EBITDA didorong disiplin biaya, efisiensi operasional, hingga peningkatan produktivitas di sejumlah site tambang utama.
“EBITDA meningkat hampir dua kali lipat secara tahunan meskipun pendapatan lebih rendah, didukung oleh disiplin biaya yang lebih kuat dan peningkatan produktivitas,” ujar Direktur BUMA International Group Iwan Fuad Salim dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu, 30 Mei 2026.
Sepanjang kuartal pertama tahun ini, pendapatan DOID tercatat sebesar USD318 juta atau turun 10 persen secara tahunan. Penurunan tersebut sejalan dengan mengecilnya portofolio aktif setelah berakhirnya kontrak di site Binungan Indonesia dan site Burton Australia, serta proses ramp-down pada dua site lain di Indonesia sepanjang 2025.
Dari sisi operasional, volume pengupasan lapisan tanah penutup atau overburden removal turun 12 persen menjadi 89 million bank cubic meter (MBCM). Sementara produksi batu bara turun 20 persen menjadi 15 juta ton.
Meski demikian, BUMA mulai mencatat pemulihan volume setelah melewati puncak musim hujan. Volume bulanan pengupasan lapisan tanah penutup gabungan Indonesia dan Australia meningkat dari 26,4 MBCM pada Februari menjadi 34,3 MBCM pada April 2026.
Produksi batu bara pada April juga mencapai 5,9 juta ton atau sekitar 22 persen di atas rata-rata bulanan kuartal I 2026.
Perusahaan juga mencatat perbaikan efisiensi di lini operasional Indonesia. Jam non-produktif turun 14 persen secara tahunan, sedangkan produktivitas BCM per jam naik 1 persen. Biaya tenaga kerja per BCM turun 4 persen, sementara rasio operator terhadap alat berat turun 3 persen.
Di sisi lain, biaya bahan bakar per BCM naik 3 persen akibat kenaikan harga bahan bakar. Sementara biaya perbaikan dan pemeliharaan meningkat 13 persen karena percepatan aktivitas maintenance untuk menghadapi kuartal operasional yang lebih kering pada kuartal II dan III.
Perbaikan bottom line DOID juga ditopang sejumlah faktor non-operasional. Perseroan membukukan keuntungan sekitar USD12 juta dari optimisasi portofolio Atlantic Carbon Group (ACG) melalui penjualan aset lahan. Selain itu, kerugian investasi dari 29Metals turun sekitar USD12 juta dan tidak ada lagi pencadangan piutang Australia sebesar USD4 juta seperti pada kuartal I 2025.
Belanja modal atau capital expenditure (capex) DOID pada kuartal pertama tercatat sebesar USD20 juta untuk menjaga keandalan armada dan keberlanjutan operasional. Sementara arus kas bebas atau free cash flow berbalik positif menjadi USD2 juta dari negatif USD19 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Iwan mengatakan perusahaan kini fokus menjaga konsistensi eksekusi operasional setelah menyelesaikan pembentukan tim subject-matter expert terpusat di berbagai fungsi utama.
“Fondasi telah terbentuk, dan fokus kami ke depan adalah eksekusi yang solid seiring memasuki kuartal operasional yang lebih kering,” ujar Iwan.
Selain itu, Grup mencatat nihil fatalitas sepanjang kuartal I 2026. Emisi cakupan 1 dan 2 di Indonesia juga turun 13,3 persen secara tahunan pada kapasitas produksi yang sebanding.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.