Logo
>

DSSA Hingga BUMI Dorong Penguatan IHSG di Akhir Sesi

IHSG bangkit tipis di sesi kedua berkat reli saham teknologi, meski tekanan sektor industri dan energi masih membatasi penguatan indeks.

Ditulis oleh Yunila Wati
DSSA Hingga BUMI Dorong Penguatan IHSG di Akhir Sesi
Meskipun sempat tertekan di sesi I, IHSG ditutup menguat tipis. Foto: Dok KabarBursa.

KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan Selasa, 27 Januari 2026, di zona hijau tipis setelah sempat tertekan cukup dalam pada sesi pertama. Hingga akhir perdagangan, IHSG menguat 4 poin atau 0,05 persen ke level 8.980.

Pergerakan indeks sepanjang hari memperlihatkan pola yang tidak linier. Pada sesi pagi hingga menjelang siang, IHSG sempat loyo, sejalan dengan tekanan jual pada saham-saham berbobot besar di sektor industri dan energi. 

Namun, memasuki sesi kedua, tekanan tersebut mulai mereda dan digantikan oleh dorongan beli pada saham-saham teknologi dan media, sehingga indeks perlahan merangkak naik hingga penutupan.

Aktivitas perdagangan berlangsung sangat ramai. Total volume transaksi mencapai 578,9 juta lot saham dengan nilai transaksi sebesar Rp26,86 triliun. Likuiditas yang tinggi ini menunjukkan bahwa rebound tipis IHSG bukan terjadi dalam kondisi sepi transaksi, melainkan di tengah intensitas jual beli yang besar dan tarik-menarik kepentingan yang kuat antar pelaku pasar.

Di dalam indeks LQ45, pergerakan saham kembali terfragmentasi. Saham-saham berbasis teknologi dan media tampil dominan di jajaran top gainers, dipimpin oleh GOTO Gojek Tokopedia yang melesat 8,33 persen. Penguatan GOTO diikuti Surya Citra Media (SCMA), Dian Swastika Sentosa (DSSA), Barito Pacific (BRPT), Bumi Resources (BUMI), XL Axiata (EXCL), dan Elang Mahkota Teknologi (EMTK). 

Kinerja saham-saham ini menjadi penopang utama IHSG pada sesi penutupan, sekaligus menegaskan berlanjutnya rotasi dana ke sektor yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan dan sensitivitas lebih rendah terhadap tekanan global jangka pendek.

Sebaliknya, tekanan paling berat kembali datang dari saham-saham sektor industri dan energi besar yang masuk daftar top losers LQ45. Astra International (ASII) tertekan paling dalam dengan penurunan 8,36 persen, diikuti United Tractors (UNTR) yang melemah 5,87 persen, Merdeka Copper Gold (MDKA), AADI, NCKL, MBMA, serta Perusahaan Gas Negara (PGAS). 

Pelemahan saham-saham ini membuat ruang penguatan IHSG menjadi terbatas, meski sektor lain menunjukkan kinerja positif.

Dari sisi sektoral, kontras pergerakan terlihat semakin jelas. Sektor teknologi menjadi yang paling unggul dengan kenaikan 2,14 persen. Selain GOTO dan EMTK, saham-saham seperti KIOS dan BUKA turut mencatatkan penguatan, mencerminkan minat beli yang konsisten terhadap emiten berbasis digital dan layanan. 

Sebaliknya, sektor industri kembali menjadi pemberat utama dengan koreksi 3,45 persen. Tekanan tajam pada ASII dan UNTR menegaskan kekhawatiran pasar terhadap sektor siklikal, terutama di tengah sentimen global yang masih dibayangi ketidakpastian kebijakan dan perdagangan.

Pasar Asia Ikut Menguat

Sentimen regional justru relatif konstruktif. Bursa saham Asia mencetak penguatan luas dan beberapa indeks bahkan mencatatkan rekor baru. Optimisme investor didorong oleh ekspektasi positif terhadap musim rilis laporan keuangan emiten-emiten teknologi besar Amerika Serikat, seperti Microsoft, Apple, dan Tesla, yang mulai diumumkan pekan ini. 

Futures Nasdaq naik 0,5 persen, memberi sinyal bahwa pasar global masih menaruh harapan besar pada kinerja sektor teknologi.

Meski demikian, pasar Asia juga dibayangi isu geopolitik dan perdagangan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu ketidakpastian dengan menyatakan akan menaikkan tarif impor produk Korea Selatan menjadi 25 persen dari sebelumnya 15 persen. Namun, respons pasar relatif tenang. 

Indeks KOSPI Korea Selatan justru berbalik menguat dan melonjak 2,73 persen ke level 5.084, mencapai puncak baru. Nikkei 225 Jepang naik 0,85 persen ke 53.333, Topix menguat 0,31 persen, sementara indeks-indeks China bergerak terbatas dengan kecenderungan menguat tipis. 

Hang Seng Hong Kong melonjak 1,35 persen, Taiex Taiwan naik 0,79 persen, dan ASX200 Australia menguat 0,92 persen.

Penguatan bursa Asia yang cukup solid ini menunjukkan bahwa pelemahan dan volatilitas di IHSG lebih dipicu oleh faktor domestik dan rotasi sektoral, bukan oleh sentimen negatif regional secara menyeluruh.

Logam Mulia Terus Meroket, Rupiah Terkerek

Di pasar komoditas, ketidakpastian global tetap mendorong minat terhadap aset lindung nilai. Harga emas naik sekitar 1 persen ke level USD5.065 per ons, mendekati rekor tertinggi sepanjang masa di USD5.110 per ons. Harga perak juga menguat sekitar 4 persen ke USD108 per ons. 

Kenaikan logam mulia ini mencerminkan sikap investor yang masih berhati-hati, terutama menjelang keputusan kebijakan Federal Reserve dan di tengah isu politik domestik Amerika Serikat, termasuk potensi shutdown pemerintahan dan penyelidikan terhadap Ketua The Fed Jerome Powell.

Pergerakan mata uang Asia menunjukkan dinamika yang beragam. Yen Jepang melemah 0,43 persen, dolar Australia turun 0,22 persen, sementara yuan China dan baht Thailand bergerak melemah tipis. 

Di sisi lain, rupiah justru menguat 0,08 persen ke level 16.768 per dolar AS, mencerminkan stabilisasi permintaan domestik di tengah volatilitas pasar saham. Ringgit Malaysia dan rupee India juga mencatatkan penguatan moderat.

Secara keseluruhan, perdagangan IHSG hari ini mencerminkan fase keseimbangan rapuh. Rebound tipis di akhir sesi menunjukkan adanya daya tahan pasar, tetapi tekanan dari sektor-sektor besar masih membatasi ruang penguatan. 

Dengan latar belakang sentimen global yang campuran antara optimisme laporan keuangan dan kekhawatiran geopolitik, arah pasar domestik ke depan akan sangat ditentukan oleh keberlanjutan rotasi sektor serta respons investor terhadap data dan kebijakan global yang segera dirilis.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79