KABARBURSA.COM — Ketika dunia makin bising oleh konflik geopolitik dan utang negara-negara besar mulai goyah, emas kembali mengambil peran lamanya, yakni sebagai tempat orang menyelamatkan kepercayaan. Logam mulia itu melanjutkan reli bersejarah pada Kamis, 22 Januari 2026, mendekati level USD4.900 per ons—atau sekitar Rp82,3 juta per ons—seiring meningkatnya ketegangan geopolitik terkait Greenland dan keguncangan besar di pasar obligasi Jepang.
Dilansir dari Mining, harga emas spot sempat melonjak hampir 2 persen ke rekor USD4.887,19 per ons (sekitar Rp82,1 juta) sebelum memangkas sebagian penguatannya. Ini menjadi momen pertama dalam sejarah ketika emas menembus level USD4.800 per ons (sekitar Rp80,6 juta), hanya sehari setelah sebelumnya menembus USD4.700 per ons (sekitar Rp79 juta). Lonjakan cepat ini menandai betapa kuatnya arus “lari ke aman” di pasar global.
Reli ini bukan lonjakan musiman. Sepanjang 12 bulan terakhir, harga emas telah naik sekitar 75 persen, mencatatkan performa tahunan terbaik sejak 1979. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, harga emas memecahkan rekor lebih dari 50 kali, seiring meningkatnya risiko geopolitik dan pergeseran global menjauhi mata uang fiat. Ketika uang kertas dan obligasi negara dipertanyakan, emas kembali dipeluk sebagai simbol nilai yang dianggap “nyata”.
Dalam beberapa hari terakhir, reli emas kembali menyala seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di NATO. Pada Sabtu lalu, Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencananya untuk mengambil alih Greenland. Ancaman itu memunculkan kembali bayang-bayang perang dagang yang berpotensi merusak stabilitas ekonomi global.
Di saat bersamaan, pasar global juga diguncang oleh krisis utang pemerintah Jepang. Pelemahan tajam obligasi pemerintah Jepang merembet ke pasar obligasi dunia, membuat obligasi pemerintah AS tenor panjang dan dolar AS sama-sama tertekan. Situasi ini memicu kekhawatiran akan repatriasi modal ke Jepang seiring kenaikan imbal hasil, sekaligus membuka kembali kecemasan lama soal kondisi fiskal negara-negara ekonomi besar.
Gejolak ini memperkuat apa yang dikenal di pasar sebagai debasement trade—strategi investor untuk menjauh dari mata uang dan obligasi pemerintah yang dianggap semakin rapuh. Dalam konteks itu, emas kembali naik kelas bukan karena spekulasi semata, melainkan karena krisis kepercayaan.
Situasi Jepang, menurut Daniel Ghali dari TD Securities, menjadi katalis penting. “Situasi di Jepang memicu ketakutan akan depresiasi nilai yang dipimpin oleh pasar di seluruh dunia,” tulis Ghali.
“Reli emas ini soal kepercayaan. Untuk saat ini, kepercayaan masih membengkok, tapi belum patah. Kalau sampai patah, momentumnya akan bertahan lebih lama,” katanya lagi.
Dari sisi permintaan, emas juga mendapat dorongan kuat dari bank sentral. Bank Sentral Polandia menyetujui rencana pembelian tambahan 150 ton emas, sementara bank sentral Bolivia kembali membeli emas untuk cadangan devisanya setelah aturan baru diberlakukan pada Desember 2025. Peran bank sentral sebagai pembeli besar membuat reli emas tidak hanya bergantung pada sentimen jangka pendek.
Optimisme serupa juga datang dari kalangan perbankan investasi. “Emas tetap menjadi keyakinan tertinggi kami,” kata Daan Struyven, Kepala Riset Komoditas di Goldman Sachs Group, dalam konferensi pers Rabu lalu. Ia menegaskan skenario dasar Goldman Sachs masih menempatkan harga emas di USD4.900 per ons (sekitar Rp82,3 juta), dengan risiko yang cenderung mengarah ke atas.
Sementara emas mencetak rekor demi rekor, perak sempat mengambil jeda. Harga perak turun lebih dari 1 persen setelah sehari sebelumnya menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di USD95,89 per ons—sekitar Rp1,61 juta per ons. Meski terkoreksi, perak tetap menjadi salah satu komoditas dengan performa paling agresif. Sepanjang 2025, harga perak melonjak sekitar 140 persen, mengungguli emas.
Seperti emas, prospek perak untuk 2026 masih dinilai cerah, meski tidak tanpa risiko volatilitas. “Kenaikan perak ke angka tiga digit terlihat cukup mungkin mengingat momentum harga yang sedang kita lihat, tapi itu tidak akan berjalan satu arah,” kata analis komoditas ANZ, Soni Kumari.
“Akan ada kemungkinan koreksi harga dan volatilitas bisa menjadi lebih tinggi,” imbuhnya.
Bagi pasar, sinyalnya semakin jelas. Emas dan perak bukan sekadar komoditas, melainkan barometer kepercayaan global. Ketika geopolitik memanas, utang negara besar terguncang, dan mata uang fiat dipertanyakan, logam mulia kembali bicara—dan suaranya kini terdengar lebih keras dari sebelumnya.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.