Logo
>

Grup Salim Akuisisi 35 Persen Saham JTT, berapa Untungnya?

Ditulis oleh Yunila Wati
Grup Salim Akuisisi 35 Persen Saham JTT, berapa Untungnya?

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Grup Salim dilaporkan mengakuisisi 35 persen saham Jasa Marga Transjawa Tol (JTT) dari PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Penandatanganan kesepakatan ini dijadwalkan akan dilakukan dalam pekan ini. Akuisisi dilakukan oleh Metro Pacific Tollways Corp (MPTC) dari Filipina, pengembang jalan tol terbesar di negaranya dan terafiliasi dengan Grup Salim melalui First Pacific Company Ltd.

    "Kami saat ini sedang dalam proses finalisasi dokumen. Ada sedikit perubahan yang perlu diselesaikan," kata Chairman MPTC, Manuel Pangilinan, seperti yang dilaporkan oleh Manila Standard pada Rabu, 26 Juni 2024.

    Pangilinan juga menambahkan, ada selalu tantangan dalam proses akhir dokumen. Jasa Marga adalah badan usaha milik negara dengan sistem persetujuan yang berbeda, sehingga membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan sektor swasta.

    Menurut Direktur Keuangan MPTC, Chris Lizo, perkiraan nilai akuisisi 35 persen saham JTT adalah antara USD1-1,5 miliar atau sekitar Rp16,37-24,55 triliun (dengan kurs Rp 16.370).

    Dengan akuisisi ini, JTT diharapkan dapat memberikan kontribusi sekitar 30 miliar peso Filipina per tahun kepada MPTC, yang jika dirupiahkan setara dengan sekitar Rp8,35 triliun (dengan kurs Rp278).

    JTT memiliki jaringan jalan tol terbesar yang terkoneksi di Pulau Jawa, dengan perkiraan lalu lintas harian mencapai 750.000-800.000 kendaraan. MPTC juga bermitra dengan dana investasi negara Singapura, GIC, untuk mengakuisisi saham Jasa Marga tersebut.

    Berdasarkan rencana kemitraan ini, anak perusahaan MPTC di Indonesia akan mengakuisisi 20,3 persen dari saham yang akan dibeli, sementara GIC akan memiliki 10,3persen.  Sisanya, sebesar 4,2 persen, akan diambil oleh PT Margautama Nusantara yang dipimpin oleh MPTC.

    Sementara itu, Faiza Riani, Kepala Departemen Pemasaran dan Komunikasi Jasa Marga, mengonfirmasi bahwa ada rencana untuk akuisisi saham Jasa Marga Transjawa Tol (JTT) oleh Grup Salim. Namun, karena sifat transaksi yang bersifat privat dan dalam rangka perjanjian kerahasiaan (confidentiality agreement) serta perjanjian non-disclosure (NDA) antara Jasa Marga dan para investor, mereka tidak dapat mengungkapkan identitas dari calon investor.

    Faiza menekankan bahwa Jasa Marga sedang mencari mitra kredibel yang memiliki visi jangka panjang untuk memahami dan mengapresiasi nilai investasi dari aset JTT. Proses pendanaan melalui penjualan sebagian saham (equity financing) PT JTT sedang berlangsung, dipersiapkan secara matang melalui proses diskusi dan finalisasi yang seksama dengan calon mitra strategis dan pemangku kepentingan lainnya. Target mereka adalah menyelesaikan proses ini pada tahun 2024.

    Ini adalah upaya Jasa Marga untuk memastikan bahwa transaksi ini berjalan sesuai dengan rencana dan memberikan nilai yang optimal bagi perusahaan dan para pemangku kepentingan terkait.

    Terkait PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META), yang terafiliasi dengan Grup Salim, menjelaskan alasan penundaan penawaran tender sukarela Tahap IV. Penundaan tersebut disebabkan karena masih ada 310.262.986 saham (7,56 persen dari total saham) atau yang dimiliki oleh 6.109 pihak yang belum mengikuti penawaran.

    META menanggapi permintaan penjelasan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan menyatakan bahwa penentuan penawaran tender masih menunggu persetujuan lebih lanjut dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sesuai dengan Peraturan OJK No.54 tahun 2015, masa penawaran tender sukarela dapat diperpanjang hingga 90 hari, dengan persetujuan khusus dari OJK jika diperlukan.

    Corporate Secretary META, Dahlia Evawani, menjelaskan bahwa induk pengendalinya, yaitu PT Metro Pacific Tollways Indonesia Services (entitas Grup Salim), berencana untuk mengajukan permohonan perpanjangan masa penawaran tender kepada OJK.

    META awalnya menjadwalkan penawaran tender sahamnya pada periode 10 Januari hingga 9 Februari 2024. Namun, proses ini terkendala dan BEI telah melakukan suspensi sementara terhadap saham META sejak 8 November 2023, karena perusahaan berencana untuk melakukan go private dan voluntary delisting.

    Rencana untuk go private dan voluntary delisting tersebut akan dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 19 Desember 2023.

    MPTC (Metro Pacific Tollways Corporation) merupakan operator jalan tol terbesar di Filipina yang memiliki afiliasi dengan Grup Salim melalui First Pacific Company Ltd. Berikut adalah beberapa fakta terkait kepemilikan dan afiliasi MPTC:

    • MPTC memegang 46,3 persen saham Metro Pacific Investments Corporation, yang merupakan induk dari MPTC itu sendiri.
    • Melalui PT Metro Pacific Tollways Indonesia Services (MPTIS), MPTC juga memiliki 74,65 persen saham PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META), sebuah perusahaan infrastruktur di Indonesia yang sedang dalam proses go private dan voluntary delisting.
    • Selain di Indonesia, MPTC juga memiliki sekitar 44 persen saham CII Bridges & Roads, sebuah operator jalan tol di Vietnam.

    Ini menunjukkan bahwa MPTC memiliki kehadiran yang signifikan dalam industri infrastruktur jalan tol di berbagai negara, termasuk melalui afiliasi dengan Grup Salim dalam investasi di Indonesia dan Vietnam.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Yunila Wati

    Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

    Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

    Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79