KABARBURSA.COM - Harga batu bara global kembali tertekan, dan tren pelemahan ini menimbulkan resonansi kuat pada sentimen pasar, meski tidak langsung membebani semua saham emiten tambang.
Data Refinitiv mencatat kontrak September ditutup di level USD109,55 per ton pada Kamis, 28 Agustus 2025, turun tipis 0,1 persen. Namun, jika dihitung dua hari beruntun, akumulasi koreksi sudah mencapai 1,1 persen.
Koreksi ini terjadi di tengah kabar memilukan dari Rusia, di mana Mechel, raksasa tambang batu bara negeri itu, melaporkan kerugian semakin dalam dan bahkan menangguhkan sebagian produksinya.
Fakta bahwa industri batu bara Rusia tengah menghadapi krisis terdalam sejak dekade 1990-an memberi tekanan psikologis tersendiri bagi pasar global, sekaligus memunculkan kekhawatiran tentang kelebihan pasokan dan rapuhnya rantai pasok internasional.
Dari sisi fundamental, harga batu bara global memang sedang mencari keseimbangan baru. Tekanan datang dari permintaan yang merosot akibat perang Ukraina yang tak berkesudahan, sanksi internasional yang menutup akses pasar, hingga penguatan rubel yang membuat ekspor Rusia tak lagi kompetitif.

Data Rosstat menunjukkan kerugian gabungan sektor batu bara Rusia melonjak drastis, mencapai RUB185,2 miliar atau setara USD2,29 miliar hanya dalam enam bulan. Kondisi ini memperlihatkan betapa rentannya harga batu bara global, karena gejolak di Rusia berpotensi menyeret harga ke level lebih rendah, meskipun ada kemungkinan intervensi kebijakan jangka pendek.
Respon Pasar Saham Tambang Domestik
Jika menoleh ke bursa domestik, respons pasar saham tambang terlihat bervariasi. Saham Adaro Andalan Indonesia (AADI) justru terkoreksi 0,71 persen ke Rp6.975, padahal sempat dibuka lebih tinggi di Rp7.050.
Dalam data Stockbit, Jumat, 29 Agustus 2025, tekanan jual asing terlihat dominan, dengan net sell mencapai Rp6,9 miliar berbanding net buy Rp1,8 miliar. Angka ini memperlihatkan bahwa investor global masih berhati-hati, khususnya terhadap emiten yang sensitif pada fluktuasi harga komoditas dan biaya produksi.
Berbeda dengan AADI, saham Bumi Resources (BUMI) justru mampu menguat tipis 0,90 persen ke Rp112. Dengan volume transaksi mencapai 5,66 juta lot dan nilai perdagangan Rp63,4 miliar, saham ini terbilang aktif.
Fakta bahwa BUMI tetap bergerak positif di tengah harga batu bara yang melemah memberi sinyal bahwa sebagian pelaku pasar masih melihat potensi jangka pendek, mungkin karena valuasi yang rendah atau ekspektasi dukungan kebijakan dalam negeri.
Sementara itu, Indo Tambangraya Megah (ITMG) bergerak relatif datar dengan kecenderungan menguat tipis 0,11 persen ke Rp22.425. Saham berkapitalisasi besar ini terlihat lebih stabil karena investor institusional cenderung menganggap ITMG sebagai pilihan defensif di sektor batu bara.
Walaupun tekanan harga global jelas membayangi, ITMG masih ditopang oleh reputasi manajemen yang prudent, struktur keuangan solid, serta basis ekspor yang lebih terdiversifikasi dibanding emiten lain.
Melihat keseluruhan dinamika, jelas bahwa harga batu bara global masih menjadi variabel kunci yang memengaruhi persepsi investor. Namun, pergerakan saham tambang tidak serta-merta bergerak searah dengan harga komoditas. Faktor teknikal, sentimen asing, hingga karakteristik bisnis masing-masing emiten turut membentuk arah pergerakan harga saham.

Untuk jangka pendek, pelemahan harga batu bara memang berpotensi menekan margin, tetapi investor tampaknya mulai menimbang mana emiten yang cukup kuat bertahan di tengah badai, dan mana yang rapuh jika tekanan berlanjut.
Strategi AADI, BUMI, dan ITMG
Tekanan harga batu bara global yang kembali melemah pada pekan ini mulai tercermin dalam teknikal harian saham-saham sektor tambang, meski masing-masing emiten menunjukkan karakteristik yang berbeda.
Dari sisi global, sentimen negatif datang dari krisis batu bara Rusia dan penurunan harga kontrak September yang bertahan di bawah USD110 per ton. Kondisi ini menimbulkan bayangan bahwa permintaan dunia masih rapuh dan tren pelemahan komoditas belum menemukan lantai harga yang kokoh.
Untuk saham Adaro Andalan Indonesia (AADI), teknikal harian memperlihatkan posisi yang rapuh dengan kecenderungan netral ke arah jual. Indikator Relative Strength Index (RSI) masih berada di zona tengah di level 50,2 yang menandakan tidak ada dominasi kuat antara tekanan jual dan beli.
Namun, sinyal osilator lain seperti Stochastic dan Stochastic RSI cenderung mengarah ke jual, sementara MACD dan ADX masih memberi sinyal beli. Dengan posisi harga yang terus berkutat di area pivot sekitar Rp7.066, investor tampak ragu untuk membawa harga lebih tinggi.
Pelemahan harga batu bara global jelas menjadi faktor yang membuat sentimen teknikal tidak solid, sehingga AADI berada di area rawan konsolidasi.
Rekomendasi bagi investor dalam jangka pendek adalah lebih berhati-hati, dengan kecenderungan wait and see sampai ada konfirmasi arah yang lebih jelas.
Berbeda dengan AADI, saham Bumi Resources (BUMI) justru menunjukkan teknikal yang relatif lebih sehat. Mayoritas moving average jangka pendek hingga menengah masih mengindikasikan beli, dan indikator seperti Williams %R serta Commodity Channel Index (CCI) memberi sinyal penguatan.
Meski MACD berada di wilayah negatif dan Ultimate Oscillator menunjukkan kondisi jenuh jual, sinyal dominan tetap mendukung tren naik. Dengan pivot di Rp112 dan level support kuat di Rp110, BUMI masih menyimpan ruang kenaikan dalam jangka pendek, apalagi dengan kecenderungan investor ritel yang aktif memperdagangkannya.
Turunnya harga batu bara global tampaknya belum terlalu membebani BUMI secara teknikal, karena ekspektasi pasar domestik dan faktor valuasi masih menjadi penopang. Rekomendasi untuk investor adalah akumulasi terbatas dengan memperhatikan area support, sambil tetap waspada jika tekanan global semakin dalam.
Sementara itu, Indo Tambangraya Megah (ITMG) menghadapi situasi teknikal yang lebih berat. Mayoritas moving average berada di zona jual, dengan 9 sinyal turun berbanding hanya 3 sinyal naik. Indikator MACD juga mengarah negatif, memperlihatkan momentum bearish yang cukup jelas.
Meski ADX berada di zona tren kuat, indikator lain seperti ROC dan Bull/Bear Power menunjukkan kelemahan yang konsisten. Bahkan, meski RSI masih di zona netral, kombinasi sinyal jenuh beli pada Stochastic memperlihatkan potensi koreksi lanjutan.
Dengan pivot harian di Rp22.408, ITMG cenderung sulit menembus resistensi kuat tanpa dukungan fundamental baru. Sentimen pelemahan harga batu bara global jelas memberi tekanan tambahan, karena ITMG yang banyak mengandalkan ekspor menjadi lebih sensitif terhadap harga internasional.
Untuk investor, strategi konservatif lebih disarankan, dengan kecenderungan menghindari posisi agresif hingga harga menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.
Secara keseluruhan, teknikal harian saham tambang mencerminkan betapa sentimen global dari turunnya harga batu bara langsung memengaruhi psikologi pasar.
AADI masih berjuang mencari arah di tengah keraguan, BUMI relatif lebih tangguh karena faktor domestik dan daya tarik spekulatif, sementara ITMG terlihat paling terbebani oleh tekanan harga dunia.
Bagi investor, strategi yang bijak saat ini adalah selektif: menjaga eksposur rendah pada saham dengan sinyal lemah, memanfaatkan peluang akumulasi pada saham dengan dukungan teknikal positif, dan tetap memantau perkembangan harga komoditas global sebagai variabel utama yang menentukan arah sektor tambang.(*)