Logo
>

Harga CPO per Mei 2026 Naik Lagi, AALI Kantongi Laba Naik 28,5 Persen

Kenaikan harga referensi diikuti bea keluar lebih tinggi, di tengah dorongan permintaan dan tekanan produksi global.

Ditulis oleh Yunila Wati
Harga CPO per Mei 2026 Naik Lagi, AALI Kantongi Laba Naik 28,5 Persen
AALI menjadi salah satu emiten yang terdampak positif dari naiknya harga CPO. (Foto: dok Astra Agro Lestari)

KABARBURSA.COM - Pergerakan harga minyak sawit mentah di awal Mei ini kembali menjadi sorotan. Pemerintah menetapkan Harga Referensi (HR) Crude Palm Oil (CPO) naik ke level USD1.049,58 per metrik ton. Angka ini meningkat 6,06 persen dibandingkan periode sebelumnya di USD989,63 per metrik ton.

Kenaikan ini langsung diikuti dengan penyesuaian kebijakan ekspor. Bea Keluar (BK) ditetapkan sebesar USD178 per metrik ton dan Pungutan Ekspor (PE) sebesar 12,5 persen dari HR. 

Dari sisi pembentukan harga, rata-rata referensi berasal dari tiga pasar utama, yakni Bursa CPO Indonesia di USD955,79 per metrik ton, Bursa Malaysia di USD1.143,37 per metrik ton, serta pasar Rotterdam yang mencapai USD1.475,07 per metrik ton. 

Di sini, tekanan harga tidak hanya bersumber dari domestik, tetapi juga dari rantai global. Faktor pendorongnya datang dari sisi permintaan yang meningkat, sementara produksi mengalami penurunan akibat periode libur Idul Fitri. 

Di saat yang sama, kenaikan harga minyak mentah global yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memperkuat tren penguatan CPO sebagai komoditas energi alternatif.

Kinerja AALI Disorot

Dalam konteks ini, kinerja PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) sepanjang 2025 mendapat sorotan tajam. Perusahaan mencatat laba bersih sebesar Rp1,47 triliun, tumbuh 28,5 persen secara tahunan seiring peningkatan produksi dan volume penjualan.

Produksi CPO AALI meningkat 6 persen menjadi sekitar 1,24 juta ton, sementara produksi kernel naik 8 persen menjadi 252 ribu ton. Kenaikan ini berjalan seiring dengan pertumbuhan volume penjualan CPO dan turunannya yang mencapai 1,8 juta ton, atau naik 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari sisi top line, pendapatan perusahaan tercatat sebesar Rp28,7 triliun, meningkat 31 persen secara tahunan. Angka ini menunjukkan bahwa pertumbuhan tidak hanya berasal dari volume, tetapi juga didukung oleh harga jual yang lebih tinggi di pasar global.

Pergerakan harga CPO global memang menjadi salah satu faktor utama yang membentuk kinerja tersebut. Sepanjang 2025, harga CPO Rotterdam tercatat naik dari USD1.084 per ton menjadi USD1.222 per ton, mencerminkan kondisi permintaan yang tetap kuat di tengah tekanan suplai.

Permintaan tersebut turut ditopang kebijakan domestik seperti program mandatori biodiesel, yang menjaga serapan di pasar dalam negeri. Di sisi lain, faktor eksternal seperti fluktuasi nilai tukar, harga energi, dan situasi geopolitik tetap menjadi variabel yang membentuk arah industri.

Dengan basis operasional yang mencakup 280.325 hektare lahan perkebunan, AALI memperkuat kapasitas produksi melalui dukungan 32 pabrik kelapa sawit dan dua fasilitas penyulingan. Struktur ini menjadi fondasi bagi peningkatan output yang terlihat sepanjang tahun lalu.

Dividen Rp335 per Saham

Perusahaan juga mendorong produktivitas melalui percepatan program peremajaan tanaman. Luas replanting yang sebelumnya berada di kisaran 4.000–5.000 hektare per tahun kini ditargetkan meningkat menjadi minimal 6.000 hektare, dengan ambisi mencapai 8.000 hektare pada 2026.

Sejalan dengan itu, belanja modal turut ditingkatkan menjadi Rp1,4 triliun pada 2026, naik signifikan dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar Rp782 miliar. Langkah ini diarahkan untuk mendukung ekspansi sekaligus efisiensi operasional dalam jangka menengah.

Di sisi distribusi keuntungan, perusahaan menetapkan dividen sebesar Rp458 per saham atau setara Rp881,5 miliar dari laba bersih 2025. Pembayaran dilakukan dalam dua tahap, dengan dividen interim Rp123 per saham yang telah dibayarkan pada Oktober 2025 dan sisa Rp335 per saham dijadwalkan pada Mei 2026.

Kombinasi antara kenaikan harga CPO dan peningkatan kinerja operasional menunjukkan keterkaitan langsung antara dinamika komoditas dan kinerja emiten. Dalam struktur industri sawit, pergerakan harga global tetap menjadi variabel utama yang membentuk arah pendapatan, produksi, hingga strategi ekspansi perusahaan.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79