KABARBURSA.COM – Ada hal menarik jelang rencana Rapat umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP). Director of External Affairs HMSP Elvira Lianita, mengajukan pengunduran diri dari jabatannya, per 1 Mei 2026.
Dalam keterangan resmi, Senin, 4 Mei 2026, Elvira memilih resign seiring penunjukkannya pada posisi regional di Philip Moris Asia Limited, yang berbasis di Hong Kong. Philop Moris merupakan perusahaan induk dan pemilik mayoritas dari PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna) sejak 2005.
Dalam hal ini, manajemen menegaskan bahwa pengunduran diri tersebut tidak berdampak material terhadap kondisi keuangan maupun operasional perusahaan. Transisi jabatan, menurut manajemen, berlangsung dalam kerangka internal grup yang lebih luas.
Namun, keputusan ini menjadi menarik karena berdekatan dengan agenda RUPST yang dijadwalkan berlangsung pada 18 Mei 2026, di kawasan SCBD, Jakarta. Sejumlah agenda utama akan dibahas, mulai dari persetujuan laporan keuangan 2025, penggunaan laba bersih, hingga perubahan susunan direksi.
Pasar biasanya akan focus pada keputusan penggunaan laba bersih, mengingat rekam jejak HMSP yang konsisten membagikan dividen dalam jumlah besar. Pada tahun buku 2024, misalnya, perusahaan mengalokasikan dividen Rp6,53 triliun atau setara Rp56,2 per saham, dengan rasio pembayaran mencapai 98,4 persen.
Kinerja Kuartal I 2026
Sementara itu, dalam laporan keuangan kuartal pertama 2026, HMSP mencatat pendapatan sebesar Rp27,20 triliun, dengan laba bersih mencapai Rp2,05 triliun. Laba kotor tercatat sebesar Rp5 triliun dan laba usaha Rp2,49 triliun. Setelah menghitung beban pajak, laba sebelum pajak berada di Rp2,64 triliun, sebelum akhirnya menghasilkan laba bersih Rp2,05 triliun.
Dari sisi rasio, profitabilitas masih tercermin melalui return on equity sebesar 6,76 persen dan return on assets 3,96 persen pada kuartal berjalan. Earnings per share (EPS) tercatat 17,68, sementara price to earnings ratio (PER) berada di kisaran 41 kali.
Angka-angka ini muncul setelah kinerja sepanjang 2025 yang relatif stagnan. Laba bersih tahun lalu tercatat Rp6,61 triliun, turun tipis 0,5 persen dibandingkan Rp6,65 triliun pada tahun sebelumnya, sementara penjualan turun 4,8 persen menjadi Rp112,17 triliun.
Proyeksi dan Target Harga
Dalam proyeksinya, analis memperkirakan pendapatan HMSP pada 2026 berada di kisaran Rp117,66 triliun, meningkat dari Rp112,17 triliun pada 2025.
Dari sisi profitabilitas, laba bersih diproyeksikan mencapai Rp8,92 triliun pada 2026, sebelum meningkat lagi ke Rp9,92 triliun pada 2027. Proyeksi ini juga diikuti oleh kenaikan EPS dari 56,82 pada 2025 menjadi 76,85 pada 2026.
Pandangan analis tercermin dalam komposisi rekomendasi yang didominasi posisi beli. Dari total 14 analis, sebanyak 12 memberikan rekomendasi buy, sementara masing-masing satu analis berada di posisi hold dan sell.
Target harga juga menunjukkan ruang yang masih terbuka. Rata-rata target berada di Rp972 per saham, dengan batas atas Rp1.150 dan batas bawah Rp700, dibandingkan posisi harga saat ini di kisaran Rp755.
Dengan kombinasi perubahan manajemen, agenda RUPST, dan proyeksi kinerja yang mulai mengarah naik, pergerakan HMSP berada dalam fase yang menarik untuk dicermati. Data menunjukkan perusahaan tetap mencetak laba di tengah tekanan penjualan, sementara ekspektasi pasar mulai mengarah pada fase pertumbuhan berikutnya.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.