KABARBURSA.COM - Langkah besar tengah disiapkan PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) untuk mengubah arah kinerjanya di 2026. Setelah melalui fase ekspansi yang agresif, perusahaan mulai menata ulang strategi dengan merencanakan rights issue dalam skala besar.
Rencana ini sudah mendapat restu pemegang saham, yaitu pada 22 April 2026 dan ditargetkan rampung pada kuartal III/2026.
Dalam skema ini, PYFA berencana menerbitkan maksimal 5,7 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp100 per saham. Langkah tersebut bertujuan untuk memperbesar basis modal perusahaan.
Selain rights issue, Perusahaan juga menyiapkan penerbitan waran hingga maksimal 35 persen dari total saham ditempatkan dan disetor penuh. Waran ini diperkirakan berpotensi menambah daya tarik bagi investor dan membuka ruang tambahan pendanaan di masa mendatang.
Secara timeline, perusahaan membidik pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat diperoleh pada akhir Juni 2026. Setelah itu, periode pelaksanaan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) dijadwalkan berlangsung pada Juli 2026, sebelum akhirnya seluruh proses ditargetkan tuntas pada kuartal III.
Dana yang dihimpun dari aksi ini diarahkan untuk memperkuat struktur permodalan. Juga untuk membuka peluang akuisisi, mempercepat ekspansi bisnis, serta membangun ekosistem layanan kesehatan yang lebih terintegrasi.
Strategi Kinerja dan Pendapatan 2026
Perusahaan saat ini mulai menekankan penguatan operasional dan pemanfaatan portofolio bisnis yang telah dibangun, termasuk lini produk obat resep seperti tablet, kapsul, krim, hingga injeksi, serta sinergi dengan entitas anak seperti Holi Pharma, Ethica Industri Farmasi, dan Probiotec Multipack.
Di sisi kinerja, tahun 2026 diposisikan sebagai fase krusial. PYFA menargetkan pendapatan mencapai Rp4 triliun. Target ini naik signifikan dibandingkan realisasi 2025 sebesar Rp2,76 triliun.
Lebih dari itu, perusahaan juga membidik laba bersih sebesar Rp137 miliar. Target ini menjadi penting karena sebelumnya PYFA masih mencatatkan rugi bersih, seiring tingginya beban operasional dan investasi yang dilakukan dalam rangka ekspansi dan akuisisi.
Dari sisi operasional, sejumlah langkah konkret sudah disiapkan untuk menopang target tersebut. Pabrik Ethica di Cikarang ditargetkan beroperasi penuh pada awal 2026, yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi domestik, khususnya untuk lini produk steril.
Selain itu, perusahaan juga fokus pada pengembangan fasilitas produksi serta penguatan layanan contract development and manufacturing organization (CDMO). Strategi ini membuka peluang bagi PYFA untuk tidak hanya mengandalkan produk sendiri, tetapi juga menjadi mitra produksi bagi pihak lain.
Ekspansi tidak hanya berhenti di dalam negeri. PYFA juga menargetkan integrasi penuh dengan Probiotec Ltd di Australia, sekaligus memperluas jangkauan ekspor ke pasar Asia hingga Afrika, memperkuat posisi perusahaan dalam rantai pasok farmasi global.
Di sisi pengembangan produk, perusahaan membidik peluncuran lebih dari 10 SKU baru setiap tahun. Langkah ini diarahkan untuk memperkaya portofolio, terutama pada segmen terapeutik bernilai tinggi yang memiliki potensi margin lebih besar.
Dengan rangkaian agenda tersebut, rights issue bukan sekadar aksi penghimpunan dana, melainkan menjadi fondasi bagi reposisi bisnis PYFA. Perusahaan terlihat mulai menggeser fokus dari ekspansi agresif menuju fase penguatan struktur, dengan target yang secara langsung terukur pada pendapatan dan laba di tahun berjalan.(*)