KABARBURSA.COM - Harga emas dunia mencoba bangkit pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026 setelah sehari sebelumnya jatuh ke level terendah sejak akhir Maret akibat lonjakan yield obligasi Amerika Serikat dan penguatan dolar AS.
Data Trading Economics menunjukkan harga emas berada di sekitar USD4.503 per troy ounce atau naik tipis 0,32 persen secara harian. Namun, Reuters sebelumnya mencatat spot gold sempat turun 1,4 persen ke USD4.503,98 per ounce pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026.
Kontrak emas berjangka COMEX pengiriman Juni juga masih berada dalam tekanan. Harga futures tercatat di USD4.511,20 setelah turun 1 persen pada penutupan sebelumnya. Sementara Barron’s mencatat gold futures bergerak di sekitar USD4.549,30 pada perdagangan intraday.
Pelemahan emas terjadi di tengah kenaikan yield Treasury AS yang kembali menekan daya tarik aset safe haven non-yielding.
Yield US Treasury tenor 10 tahun naik ke 4,687 persen, tertinggi sejak Januari 2025. Sedangkan yield obligasi tenor 30 tahun menyentuh 5,180 persen, level tertinggi sejak Juli 2007.
Pada saat yang sama, dolar AS juga bertahan kuat. Indeks dolar AS (DXY) bergerak dekat level tertinggi enam pekan di posisi 99,255, sementara WSJ Dollar Index naik 0,35 persen ke level 95,99.
Analis Marex Edward Meir mengatakan kenaikan yield riil global dan penguatan dolar menjadi tekanan utama bagi harga emas.
“Kami melihat kenaikan suku bunga riil di banyak negara di dunia, dan hal itu sangat membebani emas. Dolar juga lebih kuat, dan itu menjadi sentimen negatif,” kata Edward Meir, dikutip Reuters, Rabu, 20 Mei 2026.
Pasar juga mulai menggeser ekspektasi dari potensi pemangkasan suku bunga Federal Reserve menjadi risiko suku bunga bertahan tinggi lebih lama.
Data inflasi AS April 2026 menunjukkan consumer price index (CPI) naik 3,8 persen secara tahunan. Kenaikan harga energi sebesar 17,9 persen yoy menjadi salah satu faktor utama yang menjaga tekanan inflasi.
Sementara itu, data tenaga kerja AS juga masih relatif solid. Nonfarm payrolls April tercatat bertambah 115.000 dengan tingkat pengangguran tetap berada di 4,3 persen.
Kenaikan harga minyak global turut memperkuat kekhawatiran pasar terhadap inflasi energi. Harga minyak WTI berada di sekitar USD103,93 per barel, sedangkan Brent sebelumnya ditutup di level USD111,28 per barel.
Di sisi geopolitik, ketegangan Iran-AS masih menjadi faktor yang menjaga permintaan safe haven. Namun pasar menilai jeda rencana serangan AS terhadap Iran telah mengurangi sebagian permintaan lindung nilai jangka pendek.
Meski harga emas mengalami tekanan, permintaan jangka panjang dari bank sentral dan investor Asia masih menjadi penopang pasar.
World Gold Council (WGC) mencatat ETF emas global masih mengalami inflow sebesar 62 ton pada kuartal I 2026, meski lebih lemah dibandingkan periode yang sama tahun lalu akibat outflow besar dana AS pada Maret.
Selain itu, bank sentral global membeli emas bersih 244 ton pada kuartal pertama 2026 atau naik 3 persen secara tahunan.
Head of Commodity Strategy Saxo Bank Ole Hansen mengatakan prospek investasi emas secara struktural masih kuat, meski kondisi makro jangka pendek menekan harga.
“Meski prospek investasi emas secara struktural masih tetap kuat, perkembangan makro ekonomi jangka pendek menciptakan tantangan yang lebih besar bagi harga emas,” kata Ole Hansen, dikutip Reuters, Rabu, 20 Mei 2026.
Federal Reserve juga menyoroti tingginya ketidakpastian ekonomi akibat perkembangan geopolitik dan inflasi energi.
“Komite berupaya mencapai lapangan kerja maksimum dan inflasi pada tingkat 2 persen dalam jangka panjang. Perkembangan di Timur Tengah berkontribusi terhadap tingginya ketidakpastian prospek ekonomi,” tulis Federal Reserve dalam risalah rapat kebijakan moneternya.
Investor kini melihat area USD4.500 per troy ounce sebagai level psikologis penting bagi pasar emas global di tengah tarik-menarik antara tekanan yield riil dan permintaan safe haven.(*)