KABARBURSA.COM - Pasar saham Asia kembali berada di bawah tekanan setelah kenaikan yield obligasi AS dan lonjakan harga energi membuat investor menjauh dari aset berisiko.
Pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026, indeks Nikkei 225 tercatat melemah 1,64 persen ke level 59.557,02. Sementara indeks Kospi bergerak fluktuatif setelah sebelumnya dibuka di level 7.324,52 dengan posisi terendah 7.053,84. Di China, Shanghai Composite justru menguat 0,92 persen ke level 4.169,54, sedangkan Hang Seng berada di posisi 25.797,85.
Tekanan di pasar Asia mengikuti pelemahan Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Dow Jones Industrial Average turun 0,65 persen, S&P 500 melemah 0,67 persen, dan Nasdaq terkoreksi 0,84 persen.
Reuters melaporkan, “Indeks-indeks utama Wall Street ditutup melemah pada Selasa dengan Nasdaq memimpin penurunan.”
Kenaikan yield obligasi AS menjadi salah satu sentimen utama yang menekan aset berisiko global. Yield US Treasury tenor 10 tahun berada di level 4,667 persen, sementara yield obligasi tenor 30 tahun sebelumnya melonjak mendekati 5,2 persen, tertinggi sejak 2007.
Pasar juga mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve setelah harga energi kembali meningkat akibat tensi geopolitik di Timur Tengah.
Harga minyak Brent tercatat berada di USD110,85 per barel, sedangkan minyak WTI berada di sekitar USD107,77 per barel. Kenaikan harga energi tersebut memperkuat kekhawatiran investor terhadap potensi second-wave inflation global.
Penguatan dolar AS turut menambah tekanan pasar Asia. WSJ Dollar Index naik 0,35 persen ke level 95,99, tertinggi sejak 7 April 2026. Indeks dolar AS (DXY) juga bergerak dekat level tertinggi enam pekan di posisi 99,255.
Dari China, sentimen pasar masih tertahan oleh perlambatan data ekonomi April 2026. Produksi industri China tumbuh 4,1 persen secara tahunan, melambat dibandingkan 5,7 persen pada Maret. Penjualan ritel hanya naik 0,2 persen dan berada di bawah ekspektasi pasar.
Meski demikian, pasar memperkirakan People's Bank of China (PBOC) tetap mempertahankan suku bunga pinjaman acuan atau loan prime rate (LPR).
Reuters menyebutkan, “China diperkirakan mempertahankan suku bunga pinjaman acuannya tidak berubah untuk bulan ke-12 berturut-turut pada Mei.”
Di Jepang, ekonomi tumbuh lebih kuat dari perkiraan. Produk domestik bruto (PDB) Jepang meningkat pada laju tahunan 2,1 persen pada kuartal I 2026.
Associated Press melaporkan, “Ekonomi Jepang tumbuh pada laju tahunan 2,1 persen pada kuartal Januari-Maret 2026.”
Namun, data tersebut justru memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ), sehingga menambah tekanan pada saham Jepang yang sensitif terhadap kenaikan biaya pendanaan dan harga energi.
Sektor teknologi dan chip masih menjadi perhatian utama investor Asia. Reli saham AI di Korea Selatan yang sebelumnya ditopang Samsung dan SK Hynix mulai menghadapi tekanan setelah pelemahan Nasdaq dan kenaikan yield global.
Di sisi lain, sektor energi tetap menjadi fokus pasar karena lonjakan harga minyak meningkatkan risiko inflasi bagi negara importir energi seperti Jepang dan Korea Selatan.
Pasar juga terus memantau perkembangan geopolitik Iran-AS. Reuters melaporkan Presiden Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran setelah muncul proposal damai, meski opsi aksi militer disebut masih terbuka.
Investor kini melihat kombinasi kenaikan yield obligasi, dolar AS yang menguat, dan harga minyak tinggi sebagai faktor utama yang dapat membatasi reli pasar saham Asia dalam jangka pendek.